Posts tagged "sejarah kuningan"
simplysepti:

Kawin Cai 2011: 3 Hari Persiapan, 3 Unsur Pelaksana, 3 Jam yang mengagumkan

Tradisi Kawin Cai adalah salah satu bentuk apresiasi warga Desa  Manis Kidul dan Babakan Mulya di lereng Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa  Barat dalam melestarikan lingkungan, yakni dengan menghargai air sebagai  sumber kehidupan. Inti ritual ini mengawinkan air dari 7 sumur mata air  Cibulan dengan mata air Balong Dhalem Tirtayatra yang berjarak sekitar 5  kilometer.
7 sumur di mata air Cibulan dilambangkan sebagai pengantin laki-laki.  Sementara mata air Balong Dhalem disimbulkan sebagai mempelai perempuan.  Air dari 7 sumur keramat Cibulan ditumpahkan ke sumber mata air Balon  Dhalem Tirtayata.  Tradisi ini sebagai salah satu bentuk apresiasi warga kedua desa dalam  melestarikan lingkungan dan menghargai air sebagai sumber kehidupan.
sumber :
http://www.visitkuningan.com/id/index.php?option=com_content&view=article&id=80:balong-dhalem-tirtayatra&catid=30:events&Itemid=65

simplysepti:

Kawin Cai 2011: 3 Hari Persiapan, 3 Unsur Pelaksana, 3 Jam yang mengagumkan

Tradisi Kawin Cai adalah salah satu bentuk apresiasi warga Desa Manis Kidul dan Babakan Mulya di lereng Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat dalam melestarikan lingkungan, yakni dengan menghargai air sebagai sumber kehidupan. Inti ritual ini mengawinkan air dari 7 sumur mata air Cibulan dengan mata air Balong Dhalem Tirtayatra yang berjarak sekitar 5 kilometer.

7 sumur di mata air Cibulan dilambangkan sebagai pengantin laki-laki. Sementara mata air Balong Dhalem disimbulkan sebagai mempelai perempuan. Air dari 7 sumur keramat Cibulan ditumpahkan ke sumber mata air Balon Dhalem Tirtayata.  Tradisi ini sebagai salah satu bentuk apresiasi warga kedua desa dalam melestarikan lingkungan dan menghargai air sebagai sumber kehidupan.

sumber :

http://www.visitkuningan.com/id/index.php?option=com_content&view=article&id=80:balong-dhalem-tirtayatra&catid=30:events&Itemid=65

Bangunan kuno ini berada di Kampung Wage, Kecamatan Cigugur, dibangun pada tahun 1840 dan direnovasi tahun 1971 dan 2007. Bangunan ini digunakan sebagai pusat penganut kepercayaan Jawa-Sunda, sesuai dengan namanya ’Paseban’ yang berarti tempat berkumpul dan bersyukur dalam merasakan ketunggalan Tuhan. Sedangkan ’Tri’ adalah unsur yang teridiri atas air, rasa dan pikir; ’Panca’ terdiri atas panca indera, dan ’Tunggal’ adalah Kemanunggalan antara cipta, rasa dan karsa yang diwujudkan dalam tekad, ucap serta lampah. Bangunan ini memiliki ruangan, antara lain pendopo dan jinem yang berada pada bagian depan bangunan. Ruang Srimanganti berfungsi sebagai tempat untuk merundingkan masalah-masalah seperti persiapan upacara Seren Taun, menerima tamu dan upacara pernikahan. Ruang terakhir adalah ruang dapur Ageung digunakan sebagai dapur. Event budaya Seren Taun di Cigugur ini sudah dikenal hampir seluruh nusantara dan beberapa negara tetangga.  Bangunan ini telah diresmikan pemerintah pada 14 Desember 1976 dengan surat keputusan No. 3632/C.1/DSP/1976 sebagai Cagar Budaya yang dilindungi.

Cigugur adalah sebuah desa di lerang Gunung Ciremai yang sekarang sudah menjadi sebuah kelurahan atau bahkan kecamatan. Secara administratif, Cigugur terletak di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat yang berjarak sekitar 35 km ke arah selatan kota Cirebon, atau sekitar 168 km dari kota Bandung. Cigugur berada pada ketinggian 700 m di atas permukaan laut, dengan curah hujan rata-rata 26,80 mm dan suhu udara rata-rata sekitar 26°C. Duapuluh tahun yang lalu, ketika penelitian dilakukan, luas wilayahnya adalah 511.120 ha, yang terdiri dari 105.680 ha digunakan sebagai tempat pemukiman penduduk, seluas 116.120 ha sawah, seluas 279.975 ha merupakan tegalan, kolam dan empang seluas 2.860 ha, lapangan seluas 1.180 ha, dan sisanya digunakan sebagai kuburan, jalan raya, pengairan, dan lain-lain. Data ini pasti sudah jauh berubah, tidak hanya dalam komposisi peruntukan lahannya, tetapi juga struktur kepemilikannya.

Pada tahun 1848 di tempat ini berdiri sebuah aliran kepercayaan yang dikenal dengan nama Agama Djawa Sunda disingkat ADS atau dikenal pula sebagai Madraisme mengambil nama pendirinya, Pangeran Madrais Alibasa Widjaja Ningrat, yang dipercaya sebagai keturunan Sultan Gebang Pangeran Alibasa I.

Agama Djawa Sunda (sering disingkat menjadi ADS) adalah nama yang diberikan oleh pihak antropolog Belanda terhadap kepercayaan sejumlah masyarakat yang tersebar di daerah Kecamatan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Agama ini juga dikenal sebagai Cara Karuhun Urang (tradisi nenek moyang), agama Sunda Wiwitanajaran Madrais atau agama Cigugur.Abdul Rozak, seorang peneliti kepercayaan Sunda, menyebutkan bahwa agama ini adalah bagian dari agama Buhun, yaitu kepercayaan tradisional masyarakat Sunda yang tidak hanya terbatas pada masyarakat Cigugur di Kabupaten Kuningan, tetapi juga masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak, para pemeluk “Agama Kuring” di daerah Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, dll. Jumlah pemeluknya di daerah Cigugur sekitar 3.000 orang. Bila para pemeluk di daerah-daerah lain ikut dihitung, maka jumlah pemeluk agama Buhun ini, menurut Abdul Rozak, mencapai 100.000 orang, sehingga agama Buhun termasuk salah satu kelompok yang terbesar di kalangan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Madrais menetapkan tanggal 22 Rayagung menurut kalender Sunda sebagai hari raya Seren Taun yang diperingati secara besar-besaran. Upacara ini dipusatkan di Paseban Tri Panca Tunggal, rumah peninggalan Kiai Madrais yang didirikan pada 1860, dan yang kini dihuni oleh Pangeran Djatikusuma.

Dalam upacara ini, berbagai rombongan dari masyarakat datang membawa bermacam-macam hasil bumi. Padi-padian yang dibawa, kemudian ditumbuk beramai-ramai dalam lesung sambil bernyanyi (ngagondang). Upacara ini dirayakan sebagai ungkapan syukur untuk hasil bumi yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada manusia. Upacara “Seren Taun” yang biasanya berlangsung hingga tiga hari dan diwarnai oleh berbagai kesenian daerah ini, pernah dilarang oleh pemerintah Orde Baru selama 17 tahun, namun kini upacara ini dihidupkan kembali. Salah satu upacara “Seren Taun” pernah dihadiri oleh Menteri Perindustrian, Andung A. Nitimiharja, mantan Presiden RI, Abdurahman Wahid, dan istri, serta sejumlah pejabat pemerintah lainnya. (wikipedia).

Sedangkan menurut cucunya yang masih hidup, Pangeran Djatikusumah, nama Madrais berasal dari Muhammad Rais, sebuah nama yang identik dengan kultur Islam. Pada usia muda Pangeran Madrais mendapat pendidikan pesantren, ini merupakan pengaruh kakek dari pihak ibu yang pengasuhnya. Namun dari beberapa catatan yang diketahui, ia menunda pelajarannya dan pergi mengembara ke berbagai “paguron” yang ada di Jawa Barat. Kisah pengembaraan pendiri ADS tersebut dapat tergambar dalam tulisan berikut:

“…Dina burej keneh nalika juswa antawis 10 ka 13 taun, mantenna masantren. Nanging kapaksa nunda teu diladjengkeun kumargi nampi “wisikan gaib (ilham) nu maparin pituduh mantenna kedah ngalalana sareng tatapa mulat salira. Teu talangke deui ladjeng wae andjeuna angkat ngalalana mipir-mipir pasisian, mapaj-mapaj padukuhan, kasuklakna-kasiklukna, lembur-lembur diasruk, desa-desa disakrak, kota-kota pakemitan alit diungsi. Babakuna nu djadi djugdjugan tempat-tempat nu kakotjap sanget, angker, sungil djadi pamundjungan, pamudjaan djalma rea. Mantenna didinja tatapa ngisat salira. Teu kantun paguron2 taja kalangkung, nungtik lari nyiar bukti ngudag kanjataan nu jadi rasiah alam lahir bathin..”

“… Ketika masih kecil, yaitu pada usia antara 10 sampai 13 tahun, ia tinggal di pesantren. Namun terpaksa ditunda karena menerima “bisikan gaib” (ilham) yang memberi petunjuk agar ia pergi, menelusuri dusun-dusun, baik besar maupun kecil. Yang biasanya dituju adalah tempat-tempat yang dikenal umum sebagai tempat angker yang digunakan sebagai tempat pemujaan. Di tempat-tempat itulah ia bertapa. Tempat bergurupun tak ada yang terlewat, dengan maksud mencari bukti, mengejar kenyataan yang menjadi rahasia semseta alam, baik lahir maupun batin…”

Pengembaraan Pangeran Madrais merupakan babak penting dalam sejarah ADS, karena dari pengembaraan itulah ADS dan pokok-pokok ajarannya lahir. Secara teologis, ada yang memandang bahwa ajaran-ajaran ADS merupakan hasil ramuan tasawuf Islam dengan mistisme Jawa yang dibingkai dengan unsur-unsur kebudayaan Sunda. Dari Cigugur, ADS berkembang ke pelosok Jawa Barat seperti Indramayu, Majalengka, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Bandung, Padalarang, Bogor, Purwakarta, bahkan sampai DKI Jakarta. Jumlah penganut ADS dipercaya pernah mencapai lebih dari 100.000 orang, namun yang tercatat dalam buku cacah jiwa hanya sekitar 25.000 orang.

Selama masa penjajahan Belanda, Pangeran Madrais dan ADS-nya dianggap sebagai kelompok radikal dan berbahaya. Pimpinan ADS ditangkap untuk diadili di Kuningan dan di Tasikmalaya, namun kemudian dibebaskan. Dari tahun 1901 sampai 1908 pimpinan ADS dibuang ke Meraoke dengan tuduhan sebagai pemberontak dan pemeras rakyat. Setelah kembali dari pembuangan, pimpinan ADS membina kembali para pengikutnya, yang ternyata menjadi semakin radikal dalam memperjuangkan dan melaksanakan ajaran agamanya merki ditinggal oleh pemimpinnya. Pemerintah Belanda menganggap ADS semakin berbahaya, karena itu Pangeran Madrais kembali ditangkap dan dimasukan ke rumah sakit gila di Cikeumeuh, Bogor. Penangkapan itu ternyata makin menambah solidaritas kelompok ADS untuk tidak menyerah pada keadaan. Selama di rumah sakit jiwa Pangeran Madrais ADS tidak berhenti mengajar, meski yang diajarnya adalah pasien penyakit jiwa. Melihat itu, pimpinan ADS dikeluarkan dari rumah sakit tersebut karena pemerintah khawatir pasien rumah sakit terpengaruh oleh ajarannya yang dianggap radikal. Namun demikian, pembebasan pimpinan ADS tersebut disertai dengan ancaman agar tidak lagi melakukan kegiatan keagamaan. Untuk tujuan tersebut, rumah kediaman pimpinan ADS, yang sekaligus merupakan pusat kegiatan ADS, dijaga ketat selama duapuluh empat jam. Pada tahun 1926 semua petugas Belanda di Cigugur ditarik dan dipindah-tugaskan. ADS-pun diperbolehkan lagi melakukan kegiatannya secara legal, bahkan pada tahun 1927 tata cara perkawinan ADS diakui secara hukum. Dari satu sisi masa-masa ini dapat dianggap sebagai masa cerah bagi perkembangan ADS, karena mereka tidak mendapat rintangan dari pihak pemerintah Belanda, namun di sisi lain merupakan awal kesulitan baru, karena muncul anggapan bahwa Pangeran Madrais dan ADS-nya bekerja sama dengan – bahkan dianggap sebagai kaki tangan Belanda.

Pada tahun 1940, tepatnya pada tanggal 18 Sura 1872 tahun Jawa, Pangeran Madrais yang adalah pendiri dan pimpinan ADS, meninggal dunia. Jenazahnya dimakamkan di Kampung Pasir, sebuah bukit yang terletak di sebelah barat Cigugur. Kepemimpinan ADS dilanjutkan oleh puteranya Pangeran Tedjabuana Alibasa Kusuma Widjaja Ningrat. Dalam masa kepemimpinan puteranya inilah ADS dihadapkan pada berbagai tantangan berat. Pertama, waktu Jepang masuk Cigugur, tuduhan bahwa Madrais dan para pengikutnya adalah kaki tangan Van der Plas semakin gencar. Di bawah ancaman penguasa militer Jepang, pimpinan ADS dipaksa untuk menandatangani surat pernyataan pembubaran ADS. Dengan mempertimbangkan keselamatan para penganutnya dari berbagai penganiayaan, pimpinan ADS yang baru menyetujui penandatanganan surat pernyataan tersebut. Ia sendiri beserta keluarganya mengungsi ke Bandung dan kemudian pergi ke Tasikmalaya. Dari tempat pengungsian tersebut itulah pimpinan ADS meminta ketegasan para pengikutnya untuk tetap bertahan atau menyerah. Semangat para penganut ADS nampaknya tidak luntur dengan tekanan. Hal ini terbukti dengan pendirian sebagian besar dari mereka yang tetap menyatakan kesetiaannya kepada ADS, meskipun berada di bawah tekanan. Mereka menjemput pimpinan ADS dari tempat pengungsiannya untuk dibawa kembali ke Cigugur.

Para penganut ADS sering menganggap penindasan penguasa Jepang sebagai hasil hasutan orang-orang yang tak menyukai kehadiran mereka. Anggapan tersebut memperburuk hubungan penganut ADS dengan umat Islam setempat. Namun jika melihat strategi dasar Jepang yang menggunakan kekuatan Islam untuk kepentingan ekspansinya di Asia, khususnya Indonesia, maka boleh jadi penindasan terhadap ADS, bukan semata-mata sebagai hasil hasutan umat Islam, namun lebih merupakan pelaksanaan strategi umum ekspansi Jepang seperti yang juga dilakukan di Aceh. Setelah Jepang menyerah, dan Indonesia telah menyatakan kemerdekaan, Belanda masih dua kali melakukan agresi militer. Pada tahun 1947 Cigugur kembali dikuasai oleh tentara Belanda. Tanggal 21 Desember 1954, pusat kegiatan ADS diserang dan dibakar oleh tentara DI/TII. Meski kebakaran tersebut tidak fatal karena hanya memusnahkan bagian belakang gedung, namun secara psikologis cukup mengintimidasi. Setelah peristiwa tersebut, Pangeran Tedjabuana dan keluarganya memutuskan pindah ke Cirebon dan dari sanalah kepemimpinannya dijalankan. Tahun 1955 ADS berhasil menjadi anggota Badan Kongres Kebatinan Indonesia yang disingkat BKKI. Sejak itu pula para penganut ADS dapat melakukan kegiatan keagamaan mereka nyaris tanpa halangan.

Namun akhirnya sepuluh tahun kemudian di saat Indonesia dinyatakan merdeka dari penjajahan asing, tepatnya tanggal 21 September 1964, Pangeran Tedjabuana sebagai pimpinan ADS ketika itu terpaksa harus membuat pernyataan bermeterai yang isi pokoknya membubarkan organisasi ADS, ia dan keluarganya menyatakan diri menjadi penganut Katolik. Selain menandatangani surat tersebut, pimpinan ADS juga meminta para pengikutnya untuk tidak lagi meneruskan organisasi ADS, baik secara perorangan maupun secara kolektif. Hal tersebut dilakukan oleh pimpinan ADS, sebagai akibat dari terbitnya Surat Keputusan Panitia Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM) Kabupaten Kuningan, tertanggal 18 Juni 1964, yang menetapkan bahwa perkawinan ADS yang selama itu dianggap sah secara adat, adalah perkawinan liar dan tidak sah lagi menurut hukum. Penetapan tersebut tertuang secara jelas dalam Surat Keputusan No.01/SKPTS/BK.PAKEM/K.p./VI/64. Surat Keputusan tersebut memang tidak secara langsung menyangkut pembubaran ADS, namun pada kenyataannya membuat kesulitan bagi para penganutnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari, khususnya ketika harus berurusan dengan pemerintah, termasuk mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah. Oleh karena itu, secara langsung atau tidak Surat Keputusan tersebut menuntut para penganut ADS untuk menikah lagi secara hukum menurut tata cara agama tertentu.

Sebagai akibat peristiwa tersebut, terjadilah perpindahan masal para penganut ADS menjadi penganut agama Katolik. Dan dengan demikian pula mulailah kegiatan Gereja Katolik di Cigugur. Di samping melakukan pembinaan nilai-nilai dan cara hidup Katolik, pihak gereja juga mengadakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mengadakan perbaikan kondisi pendidikan, kesehatan dan ekonomi umat yang mendapat sambutan baik tanpa ada persoalan yang berarti, baik yang datang dari pemerintah maupun masyarakat setempat. Namun demikian, setelah lebih kurang 16 tahun Gereja Katolik melakukan kegiatannya, tepatnya pada tahun 1981 Pangeran Djatikusumah yang adalah cucu Pangeran Madrais, mendirikan sebuah aliran kepercayaan baru yang diberi nama Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang yang disingkat PACKU. Secara politis berdirinya PACKU dimungkinkan oleh GBHN 1978, yang mengakui eksistensi aliran kepercayaan dalam wilayah hukum NKRI di samping lima agama yang telah lama diakui secara resmi oleh negara. Setelah PACKU berdiri, sekitar 2.000 orang Katolik eks ADS di seluruh daerah keuskupan Bandung mengajukan surat pernyataan mengundurkan diri dan keluar dari Katolik yang kemudian masuk menjadi anggota PACKU. Surat pernyataan tersebut ditandatangani atau diberi cap jempol oleh yang bersangkutan dan ditujukan kepada pastor di masing-masing paroki. Peristiwa masuknya sebagian umat Katolik eks ADS menjadi anggota PACKU dibarengi dengan terjadinya pertentangan, bukan saja pada tingkat perbedaan pendapat melainkan juga pertentangan sikap dan tindakan, di antara mereka yang masuk PACKU dan mereka yang tetap tinggal menjadi Katolik. Pertentangan tersebut menemukan bentuknya yang tragis ketika hal tersebut terjadi di dalam konteks keluarga. Sebagai ilustrasi, banyak suami-isteri yang mendadak ”perang dingin” karena sang suami masuk PACKU tetapi isterinya tidak atau sebaliknya. Ada pula kasus di mana kedua orangtua masuk PACKU tetapi anak-anaknya tidak, karena begitu tegang hubungan mereka kedua orangtua tersebut tega menyetop uang saku dan biaya sekolah anaknya yang ada di Bandung. Sebuah konflik internal yang intens antar anggota keluarga mengenai suatu hal yang bersifat hakiki, baik secara religius, ideologis maupun politis yang ternyata juga terdeteksi oleh para perumus kebijakan negara.

Setahun setelah peristiwa tersebut, tanpa diduga pemerintah menganggap PACKU sebagai neo-ADS yang telah membubarkan diri pada tahun 1964, oleh karena itu PACKU kemudian dilarang dengan Surat Keputusan Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Nomor: Kep. 44/K.2.3/8/82. Sebagai akibat larangan tersebut, secara hukum status sekitar 2.000 orang penganut PACKU tersebut menjadi ilegal dan secara politik menjadi tidak benar (legally and politically incorrect). Menghadapi situasi tersebut, sebagian besar dari mereka segera kembali menjadi Katolik yang diterima kembali dengan penuh curiga, sebagian kecil masuk Islam, beberapa masuk Kristen Pasundan, sisanya termasuk Pangeran Djatikusumah beserta keluarganya tetap menyatakan diri secara resmi sebagai penghayat aliran kepercayaan. Pada saat penelitian dilakukan pada tahun 1986, secara statistik, jumlah mereka ada 350 orang yang dicatat dalam tabel kependudukan sebagai kelompok lain-lain. Meski saat ini jumlah mereka tidak berkembang, namun baik secara politik dan secara hukum mereka mempunyai ruang dan diakui sebagai bagian dari kekayaan masyarakat dan budaya bangsa, khususnya sejak Abdurachman Wahid menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Source :

http://pensa-sb.info/madrais/

http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Djawa_Sunda

http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?idobj=249&lang=id

Sejarah menunjukkan, sejumlah kabupaten di Jawa Barat, seperti Ciamis (dulu Galuh), Tasikmalaya (dulu Sukapura), Sumedang, Garut, Kuningan, dan lain-lain, berdiri jauh (puluhan bahkan ratusan tahun) sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pencarian tanggal hari jadi kabupaten-kabupaten itu baru dilakukan di masa kemerdekaan, sekira tahun 1970. Pencarian tanggal hari jadi kabupaten yang telah berusia ratusan tahun bukan pekerjaan gampang. Pekerjaan itu memerlukan keahlian dalam bidang yang bersangkutan disertai ketelitian dan keuletan dalam mencari dan mengolah sumber, serta wawasan mengenai latar belakang dan faktor-faktor yang menyebabkan atau mendorong pembentukan kabupaten yang bersangkutan. Oleh karena jarak waktu antara pembentukan kabupaten dengan waktu pencarian tanggal hari jadinya sangat jauh, dan waktu penelitian yang relatif singkat, maka seringkali tim peneliti kesulitan dalam menemukan sumber yang menunjukkan hari jadi kabupaten yang diteliti.

Sementara itu, pihak pemda yang bersangkutan menghendaki kabupatennya segera memiliki hari jadi. Oleh karena itu, tim peneliti terpaksa mencari peristiwa penting yang dianggap berkaitan dengan pembentukan kabupaten atau awal keberadaan kabupaten. Tanggal peristiwa itulah yang dianggap hari jadi kabupaten. Kasus ini antara lain terjadi dalam penentuan hari jadi Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya. Sampai saat ini, tanggal yang dianggap hari jadi Kabupaten Ciamis adalah 12 Juni (1642), padahal tanggal itu adalah tanggal perpindahan ibu kota Kabupaten Galuh dari Cineam ke Barunay (Imbanagara sekarang). Tanggal yang dianggap hari jadi Kabupaten Tasikmalaya adalah 21 Agustus (1111), padahal tanggal itu adalah tanggal Prasasti Gegerhanjuang yang menyatakan adanya Kerajaan Galunggung.

Bagaimana halnya dengan hari jadi Kabupaten Kuningan? Selama ini masyarakat mengetahui bahwa hari jadi Kabupaten Kuningan jatuh setiap tanggal 1 September, pada tahun ini (2010) Kabupaten Kuningan memperingati hari jadinya yang ke-512. Benarkah demikian? Dengan kata lain, tepatkah tanggal 1 September (1498) dianggap sebagai hari jadi Kabupaten Kuningan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, baiklah kita simak uraian garis besar di bawah ini.

Sumber sejarah menginformasikan, bahwa sebelum Kabupaten Kuningan berdiri, Kuningan sebagai nama daerah telah ada. Menurut sumber tradisional – seperti dinyatakan oleh Prof. Dr. Edi S. Ekadjati (almarhum) dalam bukunya Sejarah Kuningan Dari Masa Prasejarah Hingga terbentuknya Kabupaten (2003) – sekira abad ke-15 Masehi, di daerah Kuningan sekarang sudah dikenal adanya kegiatan pemerintahan di dua tempat, yaitu di Kuningan yang terletak di lereng timur Gunung Ciremai dan di Luragung (sekarang kecamatan) yang terletak kira-kira 19 kilometer sebelah timur kota Kuningan sekarang.

Waktu itu Kuningan dan Luragung bukan merupakan kerajaan, melainkan daerah administratif berupa kabuyutan (daerah kekuasaan tokoh yang disegani, biasanya tokoh spiritual). Kedua daerah itu termasuk ke dalam wilayah Kerajaan Sunda/Pajajaran. Sifat pemerintahan di kedua daerah tersebut kemudian berubah setelah tampilnya tiga orang tokoh, yaitu Bratawijaya, Jayaraksa, dan Suranggajaya. Bratawijaya berkuasa di Kuningan dengan gelar Arya Kamuning, kemudian kekuasaan di daerah itu diserahkan kepada Suranggajaya. Sementara itu, Jayaraksa berkuasa di Luragung dengan gelar Ki Gedeng Luragung. 

Semula ketiga tokoh tersebut berada di bawah kekuasaan raja Sunda. Akan tetapi, setelah kekuasaan raja Sunda makin lemah, sebaliknya penyebaran agama Islam – yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati di Cirebon – makin berkembang di Tatar Sunda, menyebabkan ketiga tokoh tersebut memeluk agama Islam dan mengaku berada di bawah kekuasaan Sunan Gunung Jati. Selanjutnya Kuningan dan Luragung digabungkan menjadi satu daerah administratif pemerintahan dengan sebutan Keadipatian Kuningan. Oleh karena itu, pusat pemerintahannya pun berada di Kuningan. Sunan Gunung Jati selaku penguasa Cirebon kemudian mengangkat Suranggajaya untuk memerintah Keadipatian Kuningan. Oleh karena itu Suranggajaya dikenal dengan gelar Adipati Kuningan. Pengangkatan Suranggajaya terjadi pada tanggal 4 Syura (Muharam) yang bertepatan dengan tanggal 1 September 1498 Masehi. Sejak waktu itu di Kuningan berlangsung pemerintahan keadipatian yang berada di bawah naungan Kerajaan Islam Cirebon. Hal itu berarti 1 September 1498 adalah tanggal peresmian berdirinya Keadipatian Kuningan.

Berapa lama pemerintahan Keadipatian Kuningan beralngsung, belum diketahui secara pasti. Namun yang jelas, keadipatian tidak identik dengan kabupaten. Keadipatian adalah pemerintahan bersifat kerajaan dalam skala kecil yang dipimpin oleh adipati, “raja kecil” (“adik raja”) yang memiliki atasan “raja besar” (raja yang memiliki kekuasaan besar atas wilayahnya, termasuk daerah keadipatian). Kabupaten adalah pemerintahan daerah yang dipimpin oleh bupati. 

Adanya bentuk dan sistem pemerintahan kabupaten di wilayah Cirebon baru tampak jelas setelah berlangsungnya pemerintahan Hindia Belanda, menggantikan kekuasaan Kompeni. Pemerintah Hindia Belanda pertama kali dipimpin oleh Gubernur Jenderal H.W. Daendels (1808-1811). Tanggal 2 Februari 1809 Daendels mengeluarkan Reglement op het Beheer van de Cheeribonsche Landen (Peraturan Pemerintahan di Tanah Cirebon). Berdasarkan peraturan itu, wilayah Cirebon dibagi menjadi dua prefektur (wilayah administratif setara dengan keresidenan). Pertama, Prefektur Cirebon meliputi tanah milik para Sultan Cirebon dan Pangeran Gebang. Kedua, Prefektur Cirebon-Priangan (Cheribonsche Preangerlanden), mencakup kabupaten-kabupaten Galuh, Sukapura, dan Limbangan.

Sejak pemerintahan Letnan Gubernur Jenderal T.S. Raffles (1811-1816), pengganti Gubernur Jenderal H.W. Daendels, istilah prefektur diganti menjadi residency (keresidenan). Tahun 1813 Raffles menghapuskan kekuasaan Kesultanan Cirebon, sehingga sultan-sultan Cirebon hanya berstatus sosial sebagai pemangku adat.

Tahun 1819 – ketika Hindia Belanda diperintah oleh komisaris Jenderal (1816-1830) – di Keresidenan Cirebon terjadi lagi reorganisasi pemerintahan. Peraturan Nomor 23 Tahun 1819 (Staatsblad 1819) menetapkan Keresidenan Cirebon terdiri atas lima kabupaten, yaitu Cirebon, Maja, Bengawan Wetan, Kuningan, dan Galuh. Tiap kabupaten memiliki batas daeah yang jelas. Waktu itu batas wilayah Kabupaten Kuningan adalah sebagai berikut. Batas sebelah utara adalah muara Sungai Cisadane dan Sungai Cilosari ke hulu Sungai Cisadane sampai Desa Susukan terus ke hulu Sungai Cilengkrang (Cisande) dan ke barat sampai puncak Gunung Ciremai. Batas sebelah timur adalah dari titik hilir Sungai Cijolang ke utara sampai ke pertemuan Sungai Cilosari (Cisanggarung) dengan Sungai Cisande. Batas sebelah selatan adalah aliran Sungai Cijolang sampai ke batas daerah KabupatenCilacap. Batas sebelah barat adalah dari puncak Gunung Ciremai ke arah selatan sampai ke Sungai Cijolang.

Peraturan mengenai penetapan pembagian wilayah keresidenan, seperti Peraturan Nomor 23 Tahun 1819 tersebut di atas, biasanya diikuti oleh keluarnya besluit (surat keputusan) – tahun itu juga – mengenai pengangkatan bupati untuk memerintah di kabupaten yang bersangkutan. Hal itu berarti, sejak tahun 1819 itulah adanya bentuk administrasi pemerintahan Kabupaten Kuningan yang sesungguhnya.

Kesimpulan dari uraian tersebut adalah, pertama, Keadipatian Kuningan yang berdiri tanggal 1 September 1498 adalah cikal-bakal Kabupaten Kuningan. Berarti tanggal itu bukan tanggal berdirinya Kabupaten Kuningan. Waktu itu (1498) di Kuningan belum ada bentuk dan sistem pemerintahan kabupaten. Kedua, dengan mengacu pada Peraturan Nomor 23 tahun 1819 dan pengertian kabupaten, maka hari jadi Kabupaten Kuningan yang tepat atau mendekati kebenaran adalah tanggal keluarnya Peraturan Nomor 23 Tahun 1819. Hal itu berarti, sampai saat ini (2010) Kabupaten Kuningan baru berusia 191 tahun.

Konsekuensi memilih tanggal peraturan tersebut adalah hari jadi Kabupaten Kuningan sama dengan hari jadi Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Maja. Dengan Kabupaten Galuh, hari jadi itu tidak bentrok, karena Kabupaten Galuh pertama kali dibentuk oleh raja Mataram pada awal abad ke-17. Oleh karena itu tanggal besluit pengangkatan bupati pertama Kabupaten Kuningan (1819) dapat dipilih sebagai hari jadi Kabupaten Kuningan. Apabila besluit itu atau sumber akurat lain yang memuat informasi tanggal besluit dimaksud betul-betul tidak ditemukan, atau besluit itu ditemukan, tetapi ternyata memiliki tanggal yang sama dengan besluit pengangkatan bupati lain, namun tidak diinginkan hari jadi Kabupaten Kuningan sama dengan hari jadi kabupaten lain, maka tidak ada salahnya bila hari jadi yang ditetapkan untuk diperingati adalah hari jadi Kuningan sebagai daerah.

Apabila tanggal mulai adanya daerah Kuningan (sebagai kabuyutan) sulit ditemukan, maka tanggal 1 September 1498 dapat dianggap sebagai hari jadi Kuningan. Tanggal itu merupakan fakta sejarah tentang pengakuan adanya daerah bernama Kuningan yang diperintah oleh adipati. Dengan kata lain, tanggal 1 September (1498) lebih memadai dianggap sebagai hari jadi Kuningan, tanpa embel-embel sebutan kabupaten.

Atas dasar hal-hal tersebut, sebaiknya hari jadi Kabupaten Kuningan dikaji ulang demi kebenaran sejarah. Walaupun tanggal 1 September (1498) telah ditetapkan oleh Perda sebagai hari jadi Kabupaten Kuningan, tetapi pengkajian atau penulisan ulang sejarah bukan hal yang tabu, melainkan keharusan, apabila hari jadi yang telah ditetapkan itu ternyata salah.

Mudah-mudahan hal ini mendapat perhatian dari semua elemen masyarakat Kuningan karena penetapan hari jadi yang benar penting untuk mancegkeun tatapakan, memperteguh jati diri. 

Resource :

BENARKAH KAB. KUNINGAN BERUSIA 508 TAHUN? karya Dr. A. Sobana Hardjasaputra, S.S., M.A.

Sejarawan Fakultas Sastra Unpad, Anggota Dewan Pengurus Pusat Studi Sunda.

Dimuat dalam PR, 16 September 2006.

Sejarah Asal Nama Kuningan

Ada beberapa kemungkinan tentang asal-usulnya Kuningan dijadikan nama daerah ini. Salah satu kemungkinan adalah bahwa istilah tersebut berasal dari nama sejenis logam, yaitu kuningan. Dalam bahasa Sunda (juga bahasa Indonesia), kuningan adalah sejenis logam yang terbuat dari bahan campuran berupa timah, perak dan perunggu. Jika disepuh (dibersihkan dan diberi warna indah) logam kuningan itu akan berwarna kuning mengkilap seperti emas sehingga benda dibuat dari bahan ini akan tampak bagus dan indah. Memang logam kuningan bisa dijadikan bahan untuk membuat aneka barang keperluan hidup manusia seperti patung, bokor, kerangka lampu maupun hiasan dinding.

Di Sangkanherang, dekat Jalaksana sebelum tahun 1914 ditemukan beberapa patung kecil terbuat dari kuningan. Paling tidak sampai tahun 1950-an barang-barang yang terbuat dari bahan logam kuningan itu sangat disukai oleh masyarakat elit (menak) di daerah Kuningan. Barang-barang yang dimaksud berbentuk alat perkakas rumah tangga dan barang hiasan di dalam rumah. Benda-benda dari bahan kuningan itu juga disukai pula oleh sejumlah masyarakat Sunda, Jawa, Melayu, dan beberapa kelompok masyarakat di Nusantara umumnya.

Di daerah Ciamis dan Kuningan sendiri terdapat cerita legenda yang bertalian dengan bokor (tempat menyimpan sesuatu didalam rumah dan sekaligus sebagai barang perhiasan) yang terbuat dari logam kuningan[. Kedua cerita legenda dimaksud menuturkan tentang sebuah bokor kuningan yang dijadikan alat untuk menguji tingkat keilmuan seorang tokoh agama.

Di Ciamis - dalam cerita Ciung Wanara - bokor itu digunakan untuk menguji seorang pendeta Galuh (masa pra-Islam) bernama Ajar Sukaresi yang bertapa di Gunung Padang. Pendeta ini diminta oleh Raja Galuh yang ibukota kerajaannya berkedudukan di Bojong Galuh (desa Karangkamulya) sekarang yang terletak sekitar 12 km sebelah timur kota Ciamis, untuk menaksir perut istrinya yang buncit, apakah sedang hamil atau tidak. Kesalahan menaksir akan berakibat pendeta itu kehilangan nyawanya. Sesungguhnya buncitnya perut putri tersebut merupakan akal-akalan Sang Raja, dengan memasangkanbokor kuningan pada perut sang putri yang kemudian ditutupi dengan kain sehingga tampak seperti sedang hamil. Perbuatan tersebut dilakukan semata-mata untuk mengelabui dan mencelakakan Sang Pendeta saja.

Pendeta Ajar Sukaresi yang sudah mengetahui akal busuk Sang Raja tetap tenang dalam menebak teka-teki yang diberikan oleh Sang Raja, Sang Pendeta pun berkata bahwa memang perut Sang Putri tersebut sedang hamil. Sang Raja pun merasa gembira mendengar jawaban dari Pendeta tersebut,karena beliau berpikir akal busuknya untuk mengelabui Sang Pendeta berhasil. Sang Raja dengan besar kepala berkatabahwa tebakan Sang Pendeta salah, dan kemudian memerintahkan kepada prajuritnya agar pendeta tersebut dibawa ke penjara dan segera Sang Raja mengeluarkan perintah agar pendeta tersebut di hukum mati.

Teryata tak berapa lama kemudian diketahui bahwa Sang Puteri tersebut benar-benar hamil. Muka Raja tersebut merah padam,hal ini tak mungkin terjadi pikirnya. Dengan gelap mata Sang Raja tersebut marah dan menendang bokor kuningan, kuali dan penjara besi yang berada di dekatnya. Bokor, kuali dan penjara besi itu jatuh di tempat yang berbeda. Daerah tempat jatuhnya bokor kuningan, kemudian diberi nama Kuningan yang terus berlaku sampai sekarang. Daerah tempat jatuhnya kuali (bahasa Sunda: kawali) dinamai Kawali (sekarang kota kecamatan yang termasuk ke dalam daerah Kabupaten Ciamis dan terletak antara Kuningan dan Ciamis, sekitar 65 km sebelah selatan kota Kuningan), dan daerah tempat jatuhnya penjara besi dinamai Kandangwesi (kandangwesi merupakan kosakata bahasa Sunda yang artinya penjara besi) terletak di daerah Garut Selatan.

Dalam Babad Cirebon dan tradisi Lisan Legenda Kuningan bokor kuningan itu digunakan untuk menguji tokoh ulama Islam (wali) bernama Sunan Gunung Jati. Jalan ceritanya kurang lebih sama dengan cerita Ciung Wanara, hanya didalamnya terdapat beberapa hal yang berbeda. Perbedaan yang dimaksud terletak pada waktu dan tempat terjadinya peristiwa, tujuan dan akibat pengujian itu, dan tidak ada peristiwa penendangan bokor. Jika cerita Ciung Wanara menuturkan gambaran zaman kerajaan Galuh yang sepenuhnya bersifat kehinduan atau masa pra-Islam, maka Babad Cirebon dan tradisi lisan Legenda Kuningan mengisahkan tuturan pada zaman peralihan dari masa Hindu menuju masa Islam atau pada masa proses Islamisasi. Dengan demikian, isi cerita Ciung Wanara lebih tua daripada isi Babad Cirebon atau tradisi lisan Legenda Kuningan. Cerita Ciung Wanara mengungkapakan tempat peristiwanya di Bojong Galuh, sedangkan Babad Cirebon dan tradisi lisan Legenda Kuningan mengemukakan bahwa peristiwanya terjadi di Luragung (kota kecamatan yang terletak 19 km sebelah timur Kuningan).

Tidak seperti dalam cerita Ciung Wanara, penaksiran kehamilan Puteri dilatarbelakangi oleh tujuan mencelakakan pendeta Ajar Sukaresi dan berakibat pendeta tersebut dihukum mati, dalam Babad Cirebon dan tradisi lisan Legenda Kuningan penaksiran kehamilan tersebut dimaksudkan untuk menguji keluhuran ilmu Sunan Gunung Jati semata-mata dan berdampak mempertinggi kedudukan keulamaan wali tersebut. Anak yang dilahirkannya adalah seorang bayi laki-laki yang kemudian dipelihara dan dibesarkan oleh Ki Gedeng Luragung, penguasa daerah Luragung. Selajutnya Sunan Gunung Jati menjadi Sultan di Cirebon. Setelah dewasa bayi itu diangkat oleh Sunan Gunung Jati menjadi pemimpin atau kepala daerah Kuningan dengan nama Sang Adipati Kuningan.

Jadi, dari nama jenis logam bahan pembuatan bokor itulah daerah ini dinamakan daerah Kuningan. Itulah sebabnya, bokor kuningan dijadikan sebagai salah satu lambang daerah Kabupaten Kuningan. Lambang lain daerah ini adalah kuda yang berasal dari kuda samberani milik Dipati Ewangga, seorang Panglima perang Kuningan.

Menurut tradisi lisan Lagenda Kuningan yang lain, sebelum bernama Kuningan nama daerah ini adalah Kajene. Kajene katanya mengandung arti warna kuning (jene dalam bahasa Jawa berarti kuning). Secara umum warna kuning melambangkan keagungan dalam masyarakat Nusantara. Berdasarkan bahan bokor kuningan dan warna kuning itulah, kemudian pada masa awal Islamisasi daerah ini dinami Kuningan. Namun keotentikan Kajene sebaga nama pertama daerah ini patut diragukan, karena menurut naskah Carita Parahyangan sumber tertulis yang disusun di daerah Ciamis pada akhir abad ke-16 Masehi, Kuningan sebagai nama daerah (kerajaan) telah dikenal sejak awal kerajaan Galuh, yakni sejak akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 Masehi. Sementara itu, wilayah kerajaan Kuningan terletak di daerah Kabupaten Kuningan sekarang.

Adalagi menurut cerita mitologi daerah setempat yang mengemukakan bahwa nama daerah Kuningan itu diambil dari ungkapan dangiang kuning, yaitu nama ilmu kegaiban(ajian) yang bertalian dengan kebenaran hakiki. Ilmu ini dimiliki oleh Demunawan, salah seorang yang pernah menjadi penguasa (raja) di daerah ini pada masa awal kerajaan Galuh.

Dalam tradisi agama Hindu terdapat sistem kalender yang enggambarkan siklus waktu upacara keagamaan seperti yang masih dipakai oleh umat Hindu-Bali sekarang. Kuningan menjadi nama waktu (wuku) ke 12 dari sistem kalender tersebut. Pada periode wuku Kuningan selalu daiadakan upacara keagamaan sebagai hari raya. Mungkinkah, nama wuku Kuningan mengilhami atau mendorong pemberian nama bagi daerah ini?

Yang jelas, menurut Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan, dua naskah yang ditulis sezaman pada daun lontar beraksara dan berbahasa Sunda Kuna, pada abad ke-8 Masehi, Kuningan sudah disebut sebagai nama kerajaan yang terletak tidak jauh dari kerajaan Galuh (Ciamis sekarang) dan kerajaan Galunggung (Tasikmalaya sekarang). Lokasi kerajaan tersebut terletak di daerah yang sekarang menjadi Kabupaten Kuningan.

Kuningan Masa Pra sejarah

Diperkirakan ± 3.500 tahun sebelum masehi sudah terdapat kehidupan manusia di daerah Kuningan, hal ini berdasarkan pada beberapa peninggalan kehidupan di zaman pra sejarah yang menunjukkan adanya kehidupan pada zaman Neoliticum dan batu-batu besar yang merupakan peninggalan dari kebudayaan Megaliticum. Bukti peninggalan tersebut dapat dijumpai di Kampung Cipari Kelurahan Cigugur yaitu dengan ditemukannya peninggalan pra-sejarah pada tahun 1972, berupa alat dari batu obsidian (batu kendan), pecahan-pecahan tembikar, kuburan batu, pekakas dari batu dan keramik. Sehingga diperkirakan pada masa itu terdapat pemukiman manusia yang telah memiliki kebudayaan tinggi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Situs Cipari mengalami dua kali masa pemukiman, yaitu masa akhir Neoleticum dan awal pengenalan bahan perunggu berkisar pada tahun 1000 SM sampai dengan 500 M. Pada waktu itu masyarakat telah mengenal organisasi yang baik serta kepercayaan berupa pemujaan terhadap nenek moyang (animisme dan dinamisme). Selain itu diketemukannya pula peninggalan adat dari batu-batu besar dari zaman megaliticum.

Kuningan Masa Hindu

Dalam carita Parahyangan disebutkan bahwa ada suatu pemukiman yang mempunyai kekuatan politik penuh seperti halnya sebuah negara, bernama Kuningan. Kerajaan Kuningan tersebut berdiri setelah Seuweukarma dinobatkan sebagai Raja yang kemudian bergelar Rahiyang Tangkuku atau Sang Kuku yang bersemayam di Arile atau Saunggalah. Seuweukarma menganut ajaran Dangiang Kuning dan berpegang kepada Sanghiyang Dharma (Ajaran Kitab Suci) serta Sanghiyang Riksa (sepuluh pedoman hidup). Ekspansi kekuasaan Kuningan pada zaman kekuasaan Seuweukarma menyeberang sampai ke negeri Melayu. Pada saat itu masyarakat Kuningan merasa hidup aman dan tentram di bawah pimpinan Seuweukarma yang bertahta sampai berusia lama. Berdasarkan sumber carita Parahyangan juga, bahwa sebelum Sanjaya menguasai Kerajaan Galuh, dia harus mengalahkan dulu Sang Wulan - Sang Tumanggal - dan Sang Pandawa tiga tokoh penguasa di Kuningan (= Triumvirat), yaitu tiga tokoh pemegang kendali pemerintahan di Kuningan sebagaimana konsep Tritangtu dalam konsep pemerintahan tradisional suku Sunda Buhun. Sang Wulan, Tumanggal, dan Pandawa ini menjalankan pemerintahan menurut adat tradisi waktu itu, yang bertindak sebagai Sang Rama, Sang Resi, dan Sang Ratu. Sang Rama bertindak selaku pemegang kepala adat, Sang Resi selaku pemegang kepala agama, dan Sang Ratu kepala pemerintahan. Makanya Kerajaan Kuningan waktu dikendalikan tokoh ‘Triumvirat’ ini berada dalam suasana yang gemah ripah lohjinawi, tata tentrem kerta raharja, karena masing-masing dijalankan oleh orang yang ahli di bidangnya. Tata aturan hukum/masalah adat selalu dijalankan adan ditaati, masalah kepercayaan / agama begitu juga pemerintahannya. Semuanya sejalan beriringan selangkah dan seirama.


Ketika Kuningan diperintah Resiguru Demunawan pun (menantu Sang Pandawa), Kerajaan Kuningan memiliki status sebagai Kerajaan Agama (Hindu). Hal ini nampak dari ajaran-ajaran Resiguru Demunawan yang mengajarkan ilmu Dangiang Kuning - keparamartaan, sehingga Kuningan waktu menjadi sangat terkenal. Dalam naskah carita Parahyangan disebutkan kejayaan Kuningan waktu diperintah Resiguru Demunawan atau dikenal dengan nama lain Sang Seuweukarma (penguasa/pemegang Hukum) atau Sang Ranghyangtang Kuku/Sang Kuku, kebesaran Kuningan melebihi atau sebanding dengan Kebesaran Galuh dan Sunda (Pakuan). Kekuasaannya meliputi Melayu, Tuntang, Balitar, dan sebagainya. Hanya ada 3 nama tokoh raja di Jawa Barat yang berpredikat Rajaresi, arti seorang pemimpin pemerintahan dan sekaligus ahli agama (resi). Mereka itu adalah:

  1. Resi Manikmaya dari Kerajaan Kendan (sekitar Cicalengka - Bandung)
  2. Resi Demunawan dari Saunggalah Kuningan
  3. Resi Niskala Wastu Kencana dari Galuh Kawali


Perkembangan kerajaan Kuningan selanjutnya seakan terputus, dan baru pada 1175 masehi muncul lagi. Kuningan pada waktu itu menganut agama Hindu di bawah pimpinan Rakean Darmariksa dan merupakan daerah otonom yang masuk wilayah kerajaan Sunda yang terkenal dengan nama Pajajaran. Cirebon juga pada tahun 1389 masehi masuk kekuasaan kerajaan Pajajaran, namun pada abad ke-15 Cirebon sebagai kerajaan Islam menyatakan kemerdekaannya dari Pakuan Pajajaran.

Kuningan Masa Islam

Sejarah Kuningan pada masa Islam tidak lepas dari pengaruh kesultanan Cirebon. Pada tahun 1470 masehi datang ke Cirebon seorang ulama besar agama Islam yaitu Syeh Syarif Hidayatullah putra Syarif Abdullah dan ibunya Rara Santang atau Syarifah Modaim putra Prabu Syarif Hidayatullah adalah murid Sayid Rahmat yang lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel yang memimpin daerah ampeldenta di Surabaya. Kemudian Syeh Syarif Hidayatullah ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, dan mula-mula tiba di Cirebon yang pada waktu Kepala Pemerintahan Cirebon dipegang oleh Haji Doel Iman. Pada waktu 1479 masehi Haji Doel Iman berkenan menyerahkan pimpinan pemerintahan kepada Syeh Syarif Hidayatullah setelah menikah dengan putrinya. Karena terdorong oleh hasrat ingin menyebarkan agama Islam, pada tahun 1481 Masehi Syeh Syarif Hidayatullah berangkat ke daerah Luragung, Kuningan yang masuk wilayah Cirebon Selatan yang pada waktu itu dipimpin oleh Ki Gedeng Luragung yang bersaudara dengan Ki Gedeng Kasmaya dari Cirebon, selanjutnya Ki Gedeng Luragung memeluk agama Islam.


Pada waktu Syeh Syarif Hidayatullah di Luragung, Kuningan, datanglah Ratu Ontin Nio istrinya dalam keadaan hamil dari negeri Cina (bergelar: Ratu Rara Sumanding) ke Luragung, Kuningan, dari Ratu Ontin Nio alias Ratu Lara Sumanding lahir seorang putra yang tampan dan gagah yang diberi nama Pangeran Kuningan. setelah dari Luragung, Kuningan, Syeh Syarif Hidayatullah dengan rombongan menuju tempat tinggal Ki Gendeng Kuningan di Winduherang, dan menitipkan Pangeran Kuningan yang masih kecil kepada Ki Gendeng Kuningan agar disusui oleh istri Ki Gendeng Kuningan, karena waktu itu Ki Gendeng Kuningan mempunyai putera yang sebaya dengan Pangeran Kuningan namanya Amung Gegetuning Ati yang oleh Syeh Syarif Hidayatullah diganti namanya menjadi Pangeran Arya Kamuning serta beliau memberikan amanat bahwa kelak dimana Pangeran Kuningan sudah dewasa akan dinobatkan menjadi Adipati Kuningan.


Setelah Pangeran Kuningandan Pangeran Arya Kamuning tumbuh dewasa, diperkirakan tepatnya pada bulan Muharam tanggal 1 September 1498 Masehi, Pangeran Kuningan dilantik menjadi kepala pemerintahan dengan gelar Pangeran Arya Adipati Kuningan (Adipati Kuningan) dan dibantu oleh Arya Kamuning. Maka sejak itulah dinyatakan sebagai titik tolak terbentuknya pemerintahan Kuningan yang selanjutnya ditetapkan menjadi tanggal hari jadi Kuningan

Masuknya Agama Islam ke Kuningan nampak dari munculnya tokoh-tokoh pemimpin Kuningan yang berasal atau mempunyai latar belakang agama. Sebut saja Syekh Maulana Akbar, yang akhirnya menikahkan putranya, bernama Syekh Maulana Arifin, dengan Nyai Ratu Selawati penguasa Kuningan waktu itu (putra Prabu Langlangbuana). Hal ini menandai peralihan kekuasaan dari Hindu ke Islam yang memang berjalan dengan damai melalui ikatan perkawinan. Waktu itu di Kuningan muncul pedukuhan-pedukuhan yang bermula dari pembukaan-pembukaan pondok pesantren, seperti Pesantren Sidapurna (menuju kesempurnaan), Syekh Rama Ireng (Balong Darma). Termasuk juga diantaranya pesantren Lengkong oleh Haji Hasan Maulani.

Resource :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kuningan

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_asal_nama_Kuningan

Sejarah Kuningan Periode Sebelum Masuknya Agama Islam

1. Konon sejak sekitar tahun 3500 SM, sudah ada tanda-tanda kehidupan masyarakat manusia di daerah yang sekarang bernama Kabupaten Kuningan. Peninggalan – peninggalannya ditemukan disekitar lereng2 sebelah timur Gunung Ciremai, ini terdapat hampir disemua kecamatan mulai dari kecamatan Mandirancan, Pasawahan sampai Subang. Peninggalan-peninggalan tersebut berupa tanda-tanda kebudayaan yang menunjukan peri kehidupan masyarakat manusia pada zaman purbakala yang sudah mencapai tingkat kebudayaan relatif tinggi.

Salah satu contoh bekas pemukiman tersebut terdapat di Cipari Kecamatan Cigugur yang sekarang sudah dibangun Taman Purbakala sebagai salah satu bentuk rekonstruksi pemukiman masyarakat manusia berkebudayaan pada zaman purbakala.

2. Kebudayaan masyarakat kuningan tersebut kemudian mendapat pengaruh dan diresapi kebudayaan asing dari India seperti yang diungkapkan oleh bekas-bekas kebudayaan India yang ditinggalkan di bukit Sanghiang. Disitu telah berwujud suatu kekuatan politik dalam bentuk Negara dengan nama Kuningan yang lahir pada sekitar permulaan abad ke 8 Masehi. Tepatnya pada tanggal 11 April 732 M Negara Kerajaan Kuningan berdiri di bawah pimpinan Seuweukarma yang bergelar Rahingtang Kuku, Juga disebut Sang Kuku dan bersemayam di Arile dan Saunggalah. Seuweukarma sendiri sebelumnya adalah Raja Galuh dan kemudian oleh Dangiang Guru dinobatkan menjadi Raja di Kuningan.

3. Seuweukarma berasal dari keturunan Galuh,masa kecilnya bernama Demunawan, seorang penganut agama Sanghiyang (Hindu) dan memiliki ajian Dangiang Kuning . Dengan pengaruh ajian tersebut pula hingga Pemerintah Kuningan dapat meliputi wilayah melayu. Ajian ini berisi perihal ajaran Keparamartaan, yaitu kebenaran tertinggi yang dicapai dibidang kerohanian/kebatinan mengenai kasih sayang kepada sesama manusia.

Seuwuekarma juga terkenal sebagai raja yang menjadi sumber penerangan untuk orang banyak. Dibawah pemerintahannya rakyat merasa aman, sentausa dan bahagia.

Selain Ajian Dangiang Kuning(Keparamartaan), beliau berpegang teguh pula pada ajaran Sanghiang Darma ( ajaran kitab-kitab suci) dan Sanghiang Siksa yang memberikan 10 pedoman hidup yaitu :

  1. Tidak membunuh mahluk hidu.

  2. Tidak mencur.
  3. Tidak berzinah
  4. Tidak berdusta
  5. Tidak mabuk
  6. Tidak makan bukan pada waktunya
  7. Tidak menonton, menari, menyanyi dan main musik.
  8. Tidak mewah dalam berpakaian
  9. Tidak tidur ditempat yang empuk
  10. Tidak menerima emas dan perak

5. Seuweukarma bertahta sampai mencapai usia yang sangat tinggi sampai kemudian timbul persaingan pemerintahan antara Seuweukarma dengan Sanjaya yang memegang kekuasaan daerah Kerajaan Galuh sebelah timur.

Setelah Sanjaya memerintah/menguasai Kuningan selama 9 tahun, beliau digantikan oleh anaknya Rahiang Tamperan yang mempunyai dua orang anak yaitu Sang Manarah dan Rahiang Banga. Kedua orang putra raja ini setelah dewasa timbul perkelahian untuk memperebutkan kekuasaan orang tuanya dan diakhiri dengan pembagian dan pemisahan daerah kekuasaan. Sang Manarah menjadi raja di sebelah timur dan Rahiang Banga menguasai daerah Kuningan yang dahulunya dibawah penguasaan Rahiangtang Kuku.

6. Sesudah Rahiang Banga, pada tanggal 22 Juli 1175 M, Kuningan dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Sunda di bawah Rakean Darmasiksa anak ke 12 dari Rahiang Banga. Setelah bertahta 12 tahun di Saunggalah Kuningan kemudian keratonnya dipindahkan oleh Rakean Darmasiksa ke Pakuan Pajajaran dan bertahta selama 110 tahun.

7. Selanjutnya Kuningan merupakan bagian dari Kerajaan Pajajaran yang namanya diganti menjadi “Kejene” yang ada dibawah kekuasaan Aria Kamuning. Kejene itu sendiri artinya kuning atau emas.

8. Nama “kuningan” diambil dan nama ajian “Dangiang Kuning” ditinjau dari makna sebagai lambang. Nama “Kuningan” berarti kuning yang agung. Yang dihormati dan dimuliakan

9. jika dilukiskan dengan silsilah tokoh-tokoh pemerintahan kuningan sebelum masuknya agama islam ialah sebagai berikut.

10. Lebih jelasnya silsilah Seuweukarma adalah sbb. :

 

Periode setelah masuknya Islam

Sejarah Kuningan Pasca Masuknya Islam ini merupakan lanjutan dari posting sebelumnya yaitu Sejarah Kuningan Bagian 1 , disana telah disampaikan bahwa sebelum kedatangan Islam . Masyarakat Kuningan menganut agama Hindu dan merupakan Daerah otonom yang masuk wilayah kerajaan Sunda yang dikenal dengan nama Pajajaran, seluruh Jawa barat termasuk Cirebon pada tahun 1389 M masuk bagian dari Pajajaran dengan pelabuhannya saat itu meliputi Cirebon, Indramayu, Karawang, Sunda Kelapa dan Banten.

1. Waktu Cirebon dibawah pimpinan Ki Gedeng Jumajanjati anaknya Ki Gedeng Kasmaya, datanglah pelaut Cina yang dipimpin oleh Laksamana Te Ho ( Cheng Ho) dan sebagai rasa terimakasihnya atas sambutan rakyat Cirebon, maka dibuatlah Mercusuar di Pelabuhan Cirebon itu.

Setelah itu Pelabuhan Cirebon kedatangan seorang ulama Islam yang bernama Syekh Idhofi ( Syekh Datuk Kahfi ) yang dikenal dengan julukan Syeh Nuruljati. Ulama ini kemudian mendirikan pesantren dikaki bukit Sembung dan menetap di Pesambangan ( Desa Jatimerta). Salah satu murid ulama ini ada yang bernama Pangeran Walangsungsang Cakrabuana dan mendirikan sebuah kota bernama Caruban yang kemudian dikenal dengan nama Cirebon. Setelah ia berhaji mendapat julukan Haji Duliman yang akhirnya memimpin pemerintahan di Cirebon.

2. Saat itu di pelabuhan Karawang datang juga seorang ulama yang bernama Syekh Hasanuddin dari Campa dan dikenal dengan sebutan Syekh Quro karena mendirikan pesantren Quro. Dikemudian hari pesantren ini kedatangan Syekh Maulana Akbar yang meneruskan perjalanannya ke Pesambangan.

Dalam perjalanannya mengembangkan Islam, Syekh Maulana Akbar ini pernah singgah sebentar di daerah Buni Haji – Luragung , kemudian melanjutkannya sampai ke daerah Kuningan yang pada waktu itu dikenal dengan nama Kejene (artinya Kuning) , penduduknya menganut agama Hindu ( Agama Sanghiang), dengan pusat pemerintahannya di daerah Sidapurna yang artinya sempurna.

Syech Maulana Akbar akhirnya menetap disana dan mendirikan pesantren di Sidapurna serta menikah dengan seorang putri pejabat pemerintahan Kejene dan mempunyai seorang putra bernama Syekh Maulana Arifin atau syekh Arif. Karena pesatnya kemajuan pesantren ini sehingga tidak cukup menampung para pendatang, maka dibuatlah pemukiman baru dengan dasar Islam yang diberi nama Purwawinangun ( Artinya mula-mula dibangun ). Syekh Maulana Akbar ini meninggal dan dimakamkan di Astana Gede.

Syekh Arif ini meneruskan usaha yang telah dirintis oleh ayahnya dengan memajukan bidang peternakan, terutama peternakan kuda yang khas di Kejene ( kuda Kejene yang kemudian terkenal dengan sebutan Kuda Kuningan ), Syeh Maulana Arifin ini kemudian menikah dengan Ratu Salawati Putri dari seorang penguasa Kajene

2. Syarif Abdullah menikah dengan Rara Santang atau Syarifah Modarin putri Prabu Siliwangi dan mempunyai putra bernama Syarif Hidayatullah, Sesudah dewasa oleh ayahnya disuruh datang ke Daerah Surabaya -Jawa Timur untuk berguru kepada seorang ulama besar Islam yaitu Sayid Rahmat atau Sunan Ngampel yang memimpin daerah Ampeldenta. Kemudian Syarif Hidayatullah oleh Sunan Ngampel ditugaskan untuk menyebarkan Islam di Jawa barat dan dimulai dari Cirebon pada tahun 1470 M. Pada tahun 1479 M Haji Abdullah Imam berkenan menyerahkan kedudukan Kepala Pemerintahan Cirebon kepada Syarif Hidayatullah, setelah menikahi putrinya yang kemudian bergelar Susuhunan Jati atau dikenal dengan ” Sunan Gunung Jati ”.

3. Terdorong hasrat untuk menyebarkan Islam,pada tahun 1481 M Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati (SGJ) datang ke Luragung . Waktu itu yang memimpin pemerintahan di Luragung adalah Ki Gedeng Luragung ,beliau masih saudara dengan Ki Gedeng Kasmaya dari Cirebon dan akhirnya Masuk Agama Islam.

Pada waktu itu juga datang Ong Tien putri dari Cina yang sedang mengandung menyusul ke Luragung kemudian melangsungkan pernikahan dengan SGJ. Ong Tien tersebut kemudian berganti nama menjadi Ratu Mas Rara Somanding.

SGJ bersama istrinya Ong Tien sepakat untuk memungut putra Ki Gedeng Luragung (yang masih bayi) sebagai putranya, Sebagai imbalannya Kigedeng Luragung diberikan ”Bokor Kuning” yang dikeluarkan dari kandungan Ong Tien oleh SGJ. Kemudian SGJ bersama Ongtien dan anak angkatnya yang diberi nama ”Sang Adipati” berangkat menuju Kejene yang pada waktu itu dipimpin oleh Pangeran Aria Kamuning dan masih menganut Hindu Budha.

Setelah Pangeran Aria Kamuning masuk Islam dan Ong Tien meninggal dunia pada tahun 1485 M Sang Adipati dipercayakan kepada Pangeran Aria Kamuning untuk dididiknya dengan baik. Selama Sang Adipati belum dewasa maka pangeran Aria Kamuning ditunjuk oleh SGJ sebagai Kepala Pemerintahan Perwakilan di Kejene dibawah Kerajaan Cirebon.

4. Setelah Sang Adipati berusia 17 tahun, tepatnya tanggal ” 1 September 1498 M , beliau dinobatkan sebagai Kepala Pemerintahan Kuningan dan diberi gelar Sang Adipati Kuningan. Dengan berdirinya Negera /Kerajaan Kuningan dibawah Sang Adipati, maka sejak tanggal penobatannya nama suatu daerah yang semula bernama Kejene kemudian diganti dan dikembalikan lagi kenama aslinya yaitu ” Kuningan”.

Beberapa waktu setelah penobatan Sang Adipati datang seorang tokoh untuk berguru kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon yang berasal dari daerah bawahan Pajajaran yang bernama Dipati Ewangga yang disebut juga Dipati Cangkuang. Sesudah ilmunya cukup, ia ditugaskan oleh SGJ untuk turut membantu penyebaran Islam dan mengatur Pemerintahan Kuningan. Sang Adipati juga dibantu oleh Rama Jaksa yang terkenal ahli dalam membuat senjata. Petilasan Rama jaksa ditemukan di suatu tempat di Desa Winduherang.

Selain itu Sang Adipati juga mendapat bantuan dua orang juru dakwah yang dikirim SGJ yaitu Pangeran Purwajaya dan Pangeran Purwaganda yang datang ke Kuningan disertai dengan rombongan kesenian.

Dengan bantuan 4 tokoh tersebut dan Pangeran Aria Kamuning, Sang Adipati melakukan penyebaran Islam kesebelah timur, selatan , barat sampai ke Talaga dan Rajagaluh ( Benteng pertahananan terakhir) dari kerajaan Hindu sekitar Cirebon.

5. Untuk lebih meresapkan Agama Islam di kalangan penduduk Kuningan SGJ mengirim lagi Syekh Rama Haji Irengan, ia memilih tempat kediamannya di Darma dan dengan bantuan para wali ia membuat kolam yang sekarang dikenal dengan nama ”balong kancra” atau ”balong keramat” atau ”Darma loka”. Bila diperhatikan bentuk balong itu berliku-liku membentuk lafal Muhammad. Sesudah selesai membuat balong darma para wali sepakat untuk membuat kolam-kolam lainnya dibeberapa tempat yang memiliki sumber mata air seperti : Balong Cigugur, balong Cibulan dan balong Pasawahan. Tidak jauh dari kolam2 itu para wali mendirikan tempat-tempat pesantren untuk melakukan kegiatan pemantapan Agama Islam.

6. Ketika Portugis mau mendirikan benteng ditepi sungai Ciliwung untuk memperkuat pertahanan menghadapi kekuasaan Islam di jawa Barat. Maka pada tanggal 21 Agustus 1522 M membuat persekutuan dengan Pajajaran untuk menggagalkan usaha Portugis tersebut. SGJ dan Demak setuju untuk menyerang dan menduduki Sunda Kelapa mendahului Portugis. Kemudian datang bala tentara Demak ke Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah( Faletehan) atau Fadhillah Khan . Balatentara yang dipimpin Patahillah itu diperkuat dengan pasukan tambahan dari Cirebon dan dari Kuningan yang dipimpin oleh Dipati Ewangga.

Semua pasukan bertolak dari pelabuhan Cirebon menggunakan kapal laut, mula-mula yang didudukinya adalah Banten terus Fatahillah mengerahkan tentaranya menuju Sunda Kelapa dan berhasil di dudukinya tahun 1527 M. Untuk mengabadikan kenangan itu maka nama Sunda Kelapa diganti menjadi ” Jayakarta”.

Tokoh-tokoh yang turut berjuang dengan Fatahillah banyak yang menetap di Jayakarta, diantaranya Dipati Ewangga bersama para pengikutnya dari Kuningan, yang kemudian membuat pemukiman di daerah itu yang pada akhirnya dikenal dengan nama ”Kampung Kuningan” atau daerah Kuningan – Jakarta.

7. Untuk meningkatkan kembali penyebaran Islam ke daerah pedalaman Jawa Barat pada tahun 1528 M SGJ Mengangkat Putranya yaitu Pangeran Pasarean sebagai pemangku kekuasaan Cirebon. Diantara daerah2 pedalaman yang telah di Islamkan itu adalah Talaga, Sindangkasih ( Daerah Majalengka), Cangkuang ( Garut), Galuh, Ukur, Cibalagung, Pagadingan ( Klungkung Bntar), Indramayu, Batulayang dan Timbanganten.

Dengan dinobatkannya Pangeran Pasarean, Kerajaan Rajagaluh dibawah Prabu Cakraningrat merasa hawatir dan perhatiannya mulai ditujukan ke Cirebon dengan tuntutan agar Cirebon mengakui kekuasaannya dan menghentikan penyebaran Agama islam. Semula Rajagaluh mengirimkan utusan dibawah pimpinan De Dipasara. Tetapi usaha itu dihalang-halangi oleh Sang Adipati Kuningan sehingga terpaksa kembali ke Rajagaluh. Pihak Rajagaluh siap-siap memperkuat pertahanannya di kaki Gunung Gundul, Gempol dan Palimanan yang dipimpin oleh Dipati Kiban. Untuk menghadapi ancaman lawan itu SGJ mendirikan pertahanan di Plered yang dipercayakan untuk dipimpin oleh Sang Adipati Kuningann. Sebelum melakukan serangan langsung Sang Adipati Kuningan berusaha mencari penyelesaian secara damai dan mengirim utusan dibawah pimpinan Demang Singgati untuk menghubungi Rajagaluh. Tetapi usaha itu gagal dan terjadilah pertempuran yang akhirnya Rajagaluh dapat ditundukan. Dalam pertempuran ini Sang Adipati mendapat bantuan dari Pangeran Walangsungsang Cakrabuana, Ratu Mas Gandasari dan Pangeran Karangkendal.

8. Sang Adipati menikah dengan putri Syekh Maulana Arifin dan mempunyai seorang putra bernama ”Geusan Ulun” yang pada tahun 1570 M dinobatkan menjadi Kepala Pemerintahan Kuningan menggantikan ayahnya yang meninggal pada tahun 1568 M. Setelah dinobatkan beliau bergelar Pangeran Geusan Ulun atau Prabu Geusan Ulun. Beliau mempunyai banyak istri yang berasal dari putri tokoh-tokoh penting yang berpengaruh di daerahnya dan mempunyai anak sebanyak 40 orang.

Pada masa pemerintahan Geusan Ulun, di pulau Jawa ini mulai tumbuh pusat-pusat Kekuasaan baru seperti di Jawa tengah tumbuh kerajaan Mataram yang berhasrat untuk mengembangkan pengaruhnya ke daerah Priangan termasuk Cirebon dan Kuningan, sedangkan disebelah barat, Jayakarta telah jatuh ketangan kekuasaan asing VOC ( Belanda ) dan disana mendirikan kekuasaan yaitu Batavia.

Setelah Geusan Ulun Meninggal tahun 1650 M dan dimakamkan di Astana Gede Kuningan, maka timbul pembagian kekuasaan diantara saudara-saudaranya yang lain di pusat kota Kuningan dipegang oleh Dalem Mangkubumi sedangkan yang lainnya sebanyak 28 orang menempati tempat-tempat kedudukan seperti dapat diketahui dari nama julukannya atau tempat pemakamannya yaitu Dalem :

Mangkubumi dimakamkan di Purwawinangun, Citangtu ,Panyilih, Pasawahan, Koncang, Trijaya, Kasturi, Dago Jaya, Winduherang, Salahonje, Nayapati, Karawang. Amonggati, Cihideung, Cengal,Keko, Paduraksa, Cigugur, Tembong, Cikondang, Cibinuang, Maruyung, Balostrong, Tarka,Haur Kuning, Wirajaya, Mangku, Cigadung dan dalem Cageur.

Adapun Anak Geusan Ulun yang tidak memegang pemerintahan adalah Nyai Panembahan Girilaya, Nyai Kuwu Cirebon Girang, Adipati Ukur, Nyai Gedeng Pamuragan, Nyai Aria Salingsingan, Nyai Musti, Nyai Dalem Sumedang, Dipati Barangbang, Dewi Ratna Campaka, Nyai Gedeng Anggadiraksa dan Nyai Gedeng Jati.

Sesudah Kuningan dibagi dengan 29 Kabupaten yang masing-masing dipimpin oleh seorang Dalem dari keturunan Geusan Ulun. Daerah Kuningan itu kemudian masuk wilayah kekuasaan Mataram, selanjutnya dengan jatuhnya Cirebon dibawah kekuasaan VOC sejak tahun 1682 M, malapetaka sebagai akibat sistem monopoli VOC juga menimpa rakyat Kuningan.

9. Memasuki abad 19 setelah pembubaran VOC, nasib rakyat tidak menjadi lebih baik dibawah kekuasaan Gupernemen Hindia Belanda. Pada tanggal 2 Pebruari 1809 M , Daendeles mengeluarkan peraturan mengenai pengurusan tanah-tanah Cirebon dan para Sultan menjadi pegawai Belanda dengan pangkat /jabatan Bupati dan Wedana. Didaerah Kuningan ada beberapa orang Tumenggung yang dibawahi oleh Sultan Kasepuhan antara lain Kuningan dan Cikaso. Kekuasaan para sultan dihapuskan oleh Raffles dan diangkat Bupati-bupati dari pegawai biasa dalam pemerintahan. Pada tanggal 15 Januari 1819 M, dikeluarkan keputusan Komisaris Jendral No. 23 untuk membentuk Kabupaten Kuningan, tetapi wilayah administrasinya baru meliputi bagian selatan wewengkon Kabupaten Kuningan yang sekarang.

10. Pada abad 20 mulai didirikan sekolah untuk rakyat biasa di Kuningan. Pengaruh kebangkitan nasional lambat laun masuk dan meluas serta menggerakan Rakyat dalam organisasi pergerakan politik dan sosial.

Keruntuhan Hindia Belanda oleh Jepang membuka penderitaan rakyat yang tidak kurang kejamnya dari pada masa sebelumnya, tetapi orang Kuningan dalam keluarga besar bangsa Indonesia dibuat lebih siap untuk menyongsong kemerdekaan. Dalam perjuangan bangsa Indonesia membela proklamasi dan mempertahan NKRI ternyata para pejuang Kuningan dengan dukungan segala lapisan masyarakat mempunyai saham cukup besar. Katakanlah Linggarjati membuat lembaran sejarah nasional, kemudian Ciwaru melakukan peranan penting dibidang perjuangan Pemerintahan sipil dengan dijadikannya Pusat Pemerintahan Karesidenan Cirebon dalam menghadapi agresi I dalam perang kolonial Belanda. Dibidang militer, Sagarahiang selama Agresi I dan II menjadi pusat koordinasi perjuangan dalam perang gerilya.

Dalam Masa RIS rakyat Kuningan memelopori Likwiditas Negara Pasundan untuk mengembalikan Jawa Barat dalam pangkuan RI. Sesudah lewat masa revolusi fisik dan memasuki tahun lima puluhan, masalah politik,ekonomi dan sosial, termasuk kedalamnya situasi keamanan oleh gangguan DI/TII serta kemudian aksi-aksi sepihak yang dihasut oleh agitasi PKI sampai terjadinya kudeta terkenal G30 S/PKI membuat pembangunan terbengkalai. Baru setelah tahun 1966 M sampai dengan sekarang pembangunan baru dapat dilaksanakan dengan lebih baik, tertata dan berkesinambungan, ini semua tentu dalam rangka mengisi arti kemerdekaan dan mensejahterakan masyarakat.

resource : 

Buku Wajah dan Wisata Kabupaten Kuningan tahun 1984

http://saungweb.blogspot.com/2009/01/kuningan-dalam-sejarah-bagian-1.html

http://saungweb.blogspot.com/2009/03/sejarah-kuningan-bagian-2-periode.html