Posts tagged "sejarah"

Kutipan tulisan “Mengapa Harus Kartini?” karya Tiar Anwar Bahtiar yang mengutip buku Satu Abad Kartini (1879-1979) karya Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar 

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.”

Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).


Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.”

Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut: “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”

Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos Kartini: “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.”

sumber :

Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4)

SMAK Dago atau lebih dikenal sebagai Lyceum, pada awalnya merupakan villa milik seorang pengusaha Cina. Setelah beralih fungsi menjadi sekolah Christelijk Lyceum di awal abad 20, bangunan kemudian direnovasi oleh arsitek Y.S. Deyvis (1939) dan terakhir oleh A.W. Gmelig Meijling (40’an).. Lyceum diakuisisi Jepang pada tanggal 30 September 1945. Oleh mereka bangunan tersebut diubah menjadi tempat kamp penampungan bagi perempuan dan anak-anak yang sakit.

Seperti diperlihatkan gambar di atas, Pada Januari 1946 ketika Bandung utara menjadi kawasan sekutu, bangunan ini dijadikan rumah sakit, tercatat sekitar 161 pasien pernah dirawat di sana. Sekitar akhir tahun 50’an bangunan ini diambil alih oleh pemerintah, dan sepertihalnya bangunan milik pemerintah lainnya, bangunan ini berusaha untuk dikuasai keluarga cendana pada tahun 80’an dan masalah sengketanya masih berlangsung hingga sekarang„, Selama beberapa dekade, gedung Lyceum juga pernah menjadi saksi perkembangan musik di Bandung„,

Bangunan ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, oleh karena itu kita perlu melindunginya dari segala tindakan yang mengancam keberadaanya..

Sumber : Wall Photos Muhammad Ryzki Wiryawan 20 Juli 2011

Namun sayang sekarang nampaknya kita ga bisa lagi melihat bangunan tersebut karena lihat di berita, bangunannya sudah mulai dirobohkan. Semoga saja cerita dan sejarahnya gak ikut hilang terlupakan, tapi saya rasa itu akan menjadi lebih sulit.

by Indra Pratama, pegiat Komunitas Aleut!

Kami mengirimkan pesan ini kepada seluruh alam semesta… Yang terdiri dari 200 milyar bintang di Galaksi Bima Sakti, beberapa -mungkin banyak- di antaranya, mungkin mempunyai planet yang didiami oleh peradaban yang bisa melakukan perjalanan ke luar angkasa. Bila salah satu diantaranya bisa bertemu dengan Voyager dan mampu mengerti isi dari rekaman ini, inilah pesan dari kami: Kami semua berusaha untuk mempertahankan keberadaan kami, sehingga kami bisa hidup bersama-sama dengan kalian. Kami harap suatu hari nanti, kami bisa menyelesaikan permasalahan yang kami hadapi, untuk ikut bergabung dalam sebuah komunitas Peradaban Galaksi. Piringan emas ini mewakili harapan, kebulatan tekad, serta niatan baik kami dalam alam semesta yang luas dan amat menakjubkan ini.

Kutipan pidato Jimmy Carter tersebut mungkin merupakan salahs atu pidato yang paling bersejarah dalam konteks harapan, imaji, dan keinginan liar manusia untuk bertemu, atau bahkan sekedar berinteraksi, dengan sahabat dari planet lain. Pidato tersebut masuk dalam Voyager Golden Records, rekaman phonograph yang dikirim ke angkasa luar bersama dengan wahana luar angkasa Voyager I yang diluncurkan pada thun 1977. Satelit Voyager adalah sebuah wahana luar angkasa tanpa awak yang diluncurkan amerika serikat tahun 1977 dengan beberapa tujuan yaitu :

1. meneliti luar angkasa lebih dalam dan luar angkasa yang tidak dapat dilihat oleh mata.

2. mencari keberadaan planet yang dapat dihuni

3. mencari planet yang berpenghuni.

Digerakkan dengan tenaga nuklir, Voyager diharapkan mampu mengirim data ke bumi sampai tahun 2025 ( 48 tahun setelah diluncurkan) sebelum pasokan listriknya habis.

Rekaman tersebut ditempatkan pada Voyager I dengan misi mustahil, sebagai pembawa pesan dari bumi kepada kemungkinan kehidupan di luar bumi. Dari maksud itu, Voyager Golden Records berperan sebagai profil audio yang dianggap mewakili bumi. Konten rekaman itu selain pidato dari Jimmy Carter, yang saat itu menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, berisi pula pidato dari Sekjen Persatuan Bangsa-Bangsa saat itu Kurt Waldheim, kalimat salam sapaan dalam 55 bahasa, suara-suara alam, seperti suara ombak, angin, petir, serta suara-suara binatang, termasuk kicauan burung dan suara dari ikan paus, serta 90 menit berisi musik-musik yang dianggap mewakili bumi, dari berbagai budaya.

Nusantara, yang memang memiliki tempat khusus dalam khasanah musik tradisional, menempatkan satu komposisi sebagai duta Indonesia di mata semesta, yaitu komposisi Ketawang Puspawarna Laras Slendro Pathet Manyura.  

Ketawang Puspawarna

Teks dan melodi dari Ketawang Puspawarna Laras Slendro Pathet Manyura merupakan hasil karya dari Pangeran Mangkunegara IV, yang berkuasa di Mangkunegaran era 1853-1881. Ketawang Puspawarna ini biasanya dibunyikan sebagai tanda kedatangan pangeran maupun untuk mengiringi tarian. Gendhing ini memiliki lirik mengenai berbagai jenis bunga yang melambangkan beragam suasana, rasa, atau nuansa.

Puspawarna merupakan salah satu komposisi gamelan dengan jenis kendhangan (ritme) Ketawang yang dapat dilagukan dalam laras slendro maupun pelog. Movement yang dipakai adalah movement Pathet Manyura, yang biasa dipakai pada bagian happy ending dari sebuah pertunjukkan wayang, mewakili mood puas dan kegemilangan.  Ketawang Puspawarna terdiri dari tujuh “cakepan” (bait) “gerongan” (lirik lagu). Biasanya, komposisi gending Jawa pada umumnya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk memainkannya. Sedangkan, Ketawang Puspawarna sangat berbeda karena hanya membutuhkan waktu lima menit untuk melantunkan setiap cakepan gerongan.

Versi dari komposisi ini yang mendapat kehormatan tersebut dibawakan oleh gamelan Keraton Pakualaman, yang diaransir ulang oleh pemimpinnya, yaitu Kanjeng Pangeran Haryo Notoprodjo, yang lebih dikenal dengan nama Tjokrowasito, atau Wasitodipuro, yang dikenal sebagai salah satu Empu Karawitan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Proses seleksi untuk bisa masuk rekaman Voyager tentunya tidak sembarangan. NASA saat itu membentuk sebuah komite khusus untuk masalah seleksi rekaman-rekaman yang akan masuk. NASA menunjuk astronom Dr. Carl Sagan dari Universitas Cornell, sebagai pemimpin komite. Nama Carl Sagan dikenal luas di dunia non astronomi sebagai penulis novel Contact, yang kemudian dilayarlebarkan dengan bintang film Jodie Foster. Sagan dan timnya menyeleksi 115 suara alami yang dianggap mewakili suasana bumi: angin, ombak, kilat, burung, ikan paus, dan suara binatang lainnya. Ia juga menghimpun ucapan salam dari 55 bahasa yang dipergunakan makhluk bumi. Himpunan itu diawali bahasa Akkadian, yang digunakan bangsa Sumeria 6.000 tahun lalu, dan diakhiri dengan Wu, dialek modern Cina kini.

Tim Sagan juga menyeleksi bunyi-bunyian musik yang ada di bumi, musik berdurasi 90 menit yang meliputi klasik, etnis, dan modern. Yang mengusulkan agar Ketawang Puspawarna kepada Sagan adalah etnomusikolog dari Wesleyan University dan Universitas San Diego, Profesor Robert E. Brown. Brown memiliki rekaman live Ketawang Puspawarna yang dimainkan gamelan Pakualaman pimpinan Tjokrowasito pada tahun 1971 di Pakualaman.

Tjokrowasito

Tjokrowasito sendiri lahir pada 17 Maret 1909 di Kompleks Pakualaman. Ia  dikenal sebagai putra dari R.W. Padmowinangun, pemimpin gamelan keraton.

Lingkungan Pakualaman sebagai keraton yang menaruh perhatian sangat tinggi kepada bidang pendidikan (baik tradisional maupun barat) , sastra dan kesenian memiliki andil besar pada perkembangan Tjokrowasito. Tjokrowasito memiliki kebebasan untuk terlibat di beberapa kelompok gamelan terkenal sebelum akhirnya mengambil alih jabatan pemimpin gamelan keraton Pakualaman dari ayah angkatnya pada 1962.

Tjokrowasito sebelumnya pernah terlibat di MAVRO (Mataramsche Vereeniging Radio Omroep) mulai tahun 1934 sebagai music director untuk segmen gamelan,sampai kemudian bergabung di  Radio Hosokyoku sejak 1942 sampai 1945 selama pendudukan Jepang, and RRI Yogyakarta setelah kemerdekaan. Di masa terakhir inilah kiprahnya makin luas dan berkualitas. Ia dipercaya mengajar karawitan di beberapa negara sejak 1953, kemudian mengajar juga di Konservatori Tari Indonesia and Akademi Seni Tari Indonesia. Lalu mendirikan Pusat Olah Vokal Wasitodipuro.

Tjokrowasito juga merupakan salah satu penggagas awal bentuk kesenian Sendratari. Bersama koreografer Bagong Kussudiarjo di dekade 1960-an, ia pertama kali mementaskan Sendratari Ramayana di Prambanan, yang kini sudah menjadi salah satu trademark wisata kesenian Indonesia.

Tahun 1971 ia pindah ke Valencia, Amerika Serikat untuk mengajar di California Institute for the Arts. Ia juga menjadi dosen tidak tetap untuk beberapa kmpus ternama negeri Paman Sam, seperti University of California, Berkeley, dan San Jose University. Pada usia lanjut, tahun 1992 ia pulang ke Indonesia, dan menciptakan ruang kesenian yang aktif di kediamannya di Jogjakarta. Hingga wafat tahun 2007.

Selain komposisinya yang mengangkasa, ternyata Tjokrowasito juga menyusul mengangkasa. Lou Harrison, komponis terkemuka Amerika, mengusulkan agar nama Tjokrowasito menjadi nama salah satu bintang di angkasa. Harrison, memang dekat dengan Tjokrowasito. Mereka berkenalan tahun  1975 di Center of World Music di Berkeley. Harrison belajar pada Tjokrowasito dan menghasilkan beberapa karya yang bereksperimen dengan konsep, sistem gamelan, atau struktur tembang-tembang Jawa seperti Concerto in Slendro (1961), La Karo Sutro (1972), dan Main Bersama-sama (1978).

Pada 12 April 1983, sertifikat internasional Star Registry diberikan kepada Tjokrowasito. Letak persisnya di Andromeda Ra 23 h 35 mm 54 sd 43× 48×. Bintang itu dinamai Wasitodiningrat (nama saat Tjokrowasito dianugerahi gelar Kanjeng Raden Tumenggung oleh Pakualaman. Nama bintang baru itu kini tercatat di Library of Congress, Amerika Serikat.

Tahun 2009 Voyager I diketahui telah mencapai jarak 16,5 milyar kilometer dari matahari, sudah jauh menginggalkan sistem tata surya kita,  dan terus akan melanglangbuana dengan kecepatan rata-rata 61.000 kilometer/jam. Kita tidak pernah tahu apakah Voyager I beserta Ketawang Puspawarna akan ditemukan dan dikenang seluruh jagat, ataukah hanya akan menjadi sampah antariksa.

Tetapi NASA, Voyager, Golden Records, Tjokrowasito dan Ketawang Puspawarna setidaknya telah jauh melangkah dibanding kebanyakan kita. Kita bahkan tidak berani bermimpi, ketika tidak ada orang-orang Robert Brown, apakah Ketawang Puspawarna, serta banyak karya besar musik tradisional kita akan dikenang, ataukah hanya teronggok menjadi sampah.

Sumber :

nayasa:

Sejarah Institut Teknologi Bandung

Dan yang sering terlewat adalah peran dari seorang pribumi yang berjasa sebagai salah satu penggagas dan yg memperjuangkan berdirinya THS yaitu Abdoel Moeis.

Di hari Minggu pertama bulan April 2012, saya menyempatkan diri untuk ngaleut bersama Komunitas Aleut! Hari itu kita menelusuri stilasi-stilasi yang menjadi penanda dan pengingat peristiwa Bandung Lautan Api, kita mengambil tema Bandung Lautan Api karena memang berdekatan dengan momentum peringatan peristiwa Bandung Lautan Api yang diperingati setiap tanggal 24 Maret. 

Dari perjalanan ngaleut kali saya mendapat beberapa pelajaran yang mungkin bisa sangat berharga setidaknya bagi saya sendiri, yaitu :

Pada penelusuran stilasi-stilasi Bandung Lautan Api, kami menjumpai stilasi-stilasi BLA sudah dalam kondisi yang memprihatinkan, dari 10 titik stilasi sekitar 80 % nya dalam kondisi yang tidak terawat.

(Foto kondisi-kondisi Stilasi BLA. source : Foto-foto pegiat Komunitas Aleut!)

Menurut pandangan pribadi saya, kondisi seperti ini dikarenakan beberapa faktor yang saling berkaitan, dan faktor-faktor tersebut berhubungan dengan sikap mental sebagian masyarakat kita, mungkin termasuk saya sendiri. Faktor-faktor tersebut adalah :

1. Ketidaktahuan warga sekitar atau bahkan sebagian besar warga Bandung, hal tersebut karena memang sampai saat masih sangat sedikit informasi tentang stilasi BLA yang dipublikasikan ke masyarakat umum. 

2. Ketidaktahuan sebenarnya bisa saja teratasi seandainya ada kepedulian dan kepekaan (awareness), karena faktanya sebagian besar stilasi tersebut memang berada di lokasi yang lazim dilewati oleh orang kebanyakan. Namun entah karena rasa peduli masyarakat kita yang semakin berkurang atau terlalu sibuknya kita, sehingga seringkali tidak menghiraukan hal-hal yang ada di sekitar kita.

3. Kekurangpedulian dan kekurangpekaan tersebut bisa jadi timbul dari kurangnya rasa keingintahuan (Curiosity) kita yang masih kurang terbangun. Ya, memang sistem pendidikan kita sudah sedari dulu kurang bisa menanamkan mental curious kepada para peserta didiknya. Padahal jika saja curiousity ini telah terbangun maka persoalan tentang perawatan stilasi ini akan terpecahkan, karena seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”, jika kita sudah mengenal sesuatu maka kita bakal (minimal) peduli dengan sesuatu tersebut.

Dalam perjalanan ngaleut kali ini, para pemandu menyampaikan berbagai informasi dari sumber-sumber yang berbeda dan dengan banyak versi yang berbeda pula. Hal tersebut membuat saya berfikir bahwa sejarah adalah sesuatu yang sangat subjektif, sejarah kadang-kadang ditulis untuk kebutuhan tertentu para penulis atau penuturnya. Maka dari itu saya secara tidak langsung selalu diwanti-wanti agar memandang sejarah tidak dari satu sisi saja, karena akan berakibat kurang baik yaitu timbulnya sikap yang terlalu fanatis ataupun terlalu apatis terhadap sebuah peristiwa, objek ataupun tokoh sejarah. Jika fanatisme dan apatisme telah merasuki pikiran kita maka objektivitas dan sikap kritis kita terhadap sesuatu akan terus menurun, dan hal tersebut akan menjadi tidak bagus ketika kita melakukan suatu proses pembelajaran. Selain itu pada ngaleut kali ini saya diingatkan kembali untuk selalu meng-crosscheck setiap materi yang disampaikan, hal yang mana sudah jarang atau malas dilakukan oleh kebanyakan dari kita setiap kali merespon suatu berita ataupun informasi.

Setiap perjuangan dan pergerakan selalu saja ada kontroversi dan pro kontra yang mengiringinya, hal tersebutlah yang menjadi poin selanjutnya yang bisa saya ambil dari perjalanan ngaleut kali ini. Begitu pula dengan peristiwa Bandung Lautan Api, walaupun cerita-cerita yang berkembang di masyarakat kebanyakan tentang kepahlawanan, pengorbanan dan perjuangan warga Bandung pada masa itu, namun ada beberapa pihak yang memang kurang setuju dengan langkah yang diambil pada masa itu, mereka berpendapat tindakan membumihanguskan Bandung adalah suatu tindakan yang merugikan Bandung dua kali, pertama Bandung harus diserahkan kepada NICA dan yang kedua warga Bandung harus memusnahkan harta benda yang dimilikinya begitu saja padahal andaikata NICA menguasai bandung secara utuhpun, mereka belum tentu mempergunakan semua rumah dan harta warga Bandung demi kepentingan mereka, jadi tindakan membumihanguskan Bandung dianggap tindakan yang mubadzir. Jika diperhatikan, tanggapan peristiwa BLA tersebut memiliki kemiripan dengan tanggapan tentang perjuangan dan pergerakan menolak rencana kenaikan BBM baru-baru ini, banyak yang mendukung dan tidak sedikit pula yang tidak simpatik terutama karena banyak aksi yang dilakukan dengan cara yang merusak. Menyikapi hal ini saya beranggapan bahwa setiap orang punya hak dalam berpendapat dan punya cara masing-masing dalam memperjuangkan pendapatnya, semua itu sah-sah saja sepanjang memang dilakukan atas dasar kesadaran sendiri, bukan karena ikut-ikutan belaka, tahu tujuan yang diperjuangkannya dan tidak merugikan orang lain.

Demikianlah sedikit pengalaman dan kesan yang bisa saya share setelah mengikuti perjalanan ngaleut Bandung Lautan Api. Semua pendapat diatas adalah sebatas pendapat dan intrepretasi pribadi. 

Dulu Bandung dikobarkan demi harga diri, hari ini mari kita jaga demi masa depan kita. Kota kita bukan cuma tanggung jawab pemerintah saja, kota kita tanggung jawab kita bersama.


Suasana Labotarium Ilmu Alam “Bosschalabotarium” di THS (ITB) tahun 20’an.

Beberapa hari yang lalu saya bersama Komunitas Aleut berkesempatan melakukan jelajah sejarah Kampus ITB. Walaupun perjalanannya cukup singkat, namun di akhir sempat terjadi diskusi yang sangat menarik mengenai perkembangan ITB dilihat dari sudut pandang masing2 peserta ngaleut…

Ada Mira Rachmawatie yang mengisahkan pengalamannya sewaktu kecil bermain bersama om-om dari ITB, Bu Wiwit Ratna Djuwita yang mengadu asmara di ITB, kegelisahan Catra Prathama menyikapi kebijakan kampus yang mengurangi peran sosial mahasiswa, hingga masalah banyaknya lulusan ITB yang bekerja untuk perusahaan asing.

Isu terakhir mengingatkan suatu kisah yang dialami seorang mahasiswa pribumi THS (sekarang ITB) pada 1 minggu terakhir sebelum ia diwisuda tahun 1926. Saat itu ia bertanya kepada sang Rektor THS, Professor Ir. G. Klopper M.E. :

“Mengapa kami diisi dengan pengetahuan-pengetahuan yang hanya berguna untuk mengekalkan dominasi Kolonial terhadap kami ?”, tanyanya.

“Sekolah tinggi teknik ini”, ujar Klopper. “Didirikan terutama untuk memajukan politik Den Haag di Hindia. Supaya dapat mengikuti kecepatan ekspansi dan eksploitasi, pemerintah saya merasa perlu untuk mendidik lebih banyak insinyur dan pengawas yang berpengalaman.”

“Dengan kata lain, kami mengikuti perguruan tinggi ini untuk memperkekal politik Imperialisme Belanda di sini?”, tegas Sang Pemuda.

“Ya Tuan, itu benar..”, sang Professor menjawab…



Sang Pemuda tersebut tidak lain adalah Soekarno. Pada akhirnya ia berhasil membuktikan bahwa walaupun dididik dalam kampus yang didirikan dengan tujuan memperkekal politik Imperialisme Belanda di Indonesia, dengan idealismenya ia bisa menjadi orang yang menghancurkan Imperialisme Belanda itu sendiri…

Adapun Soekarno selalu mengenang ucapan Rektornya, Professor Klooper, ketika ia diwisuda. “Ir, Soekarno, ijazah ini dapat robek dan hancur menjadi abu di satu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah bahwa satu-satunya kekuatan yang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. ia akan tetap hidup dalam hati rakyat, sekalipun sesudah mati.”

Source :

M.Ryzki Wiryawan Wall Photo

Dulu Bandung dikobarkan demi harga diri, hari ini mari kita jaga demi masa depan kita 

Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, pada 24 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung, membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.

Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar PameungpeukGarut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi “Bandoeng Laoetan Api”.

"Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air." - A.H Nasution, 1 Mei 1997

Source :

http://nationalgeographic.co.id/berita/2011/03/mengenang-bandung-lautan-api

http://www.anneahira.com/pertempuran-bandung-lautan-api.htm

http://www.bandung.go.id/index.php?fa=pemerintah.detail&id=408

Bandung 1941

Kagum sekaligus sedih

Kagum karena Bandung ternyata pernah se-rapi itu

Sedih karena sekarang hanya tinggal kenangan

Tahun 1917, Comitee Indie Weerbaar berkunjung ke Negeri Belanda untuk mendesak pemerintah Belanda mendirikan sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda. Abdoel Moeis, salah seorang anggota delegasi, dalam pidatonya di hadapan Perdana Menteri C.M. Pleyte dan Dr. A.M. Colijn berkata :

‘Mana mungkin penduduk bumiputera sanggup melawan Jepang yang begitu kuat dan telah pandai membikin meriam, kapal perang, dan teknik persenjataan lainnya. Hindia sulit dipertahankan selama anak negeri belum diajarkan pengetahuan-pengetahuan teknik, kami mengusulkan agar segera didirikan seklah teknik tinggi, agar penduduk Bumiputera dapat ikut serta mempertahankan Hindia di masa mendatang.”

Permohonan tersebut disetujui, Tahun 1918 ditunjuklah Maclaine Pont untuk merancang komplek Technische Hoogeschool di Bandung. Pemilihan Pont terutama didasarkan oleh semangat politik etis dan ketenaran dirinya sebagai perancang bangunan yang berhasil memadukan gaya barat dengan budaya lokal nusantara. 

Terbukti bahwa karya Maclaine Pont berhasil mewujudkan harapan tersebut. Hellen Jessup mengatakan bahwa 

“The ITB buildings are perhaps still the best example in Indonesia of a successful adaptation of an old idiom to new requirements, in which both are convincingly blended through the unique spatial vision of a distinguished architect”

Sumber :

Wall photos Muhammad Ryzki Wiryawan

by Asep Suryana salah seorang pegiat Komunitas Aleut! on Friday, December 23, 2011 at 6:16am

Sudah hampir empat bulan tidak ikut kegiatan Komunitas Aleut, komunitas apresiasi wisata dan sejarah. Akhirnya pada hari Minggu tanggal 18 Desember 2011 saya mempunyai kesempatan “ngaleut” kembali. Kali ini objek yang dikunjungi adalah bekas stasiun pemancar gelombang radio Malabar. Berkat stasiun ini pertama kalinya komunikasi jarak jauh antara Eropa-Indonesia terjadi.

Reruntuhan stasiun pemancar gelombang radio Malabar dapat dilihat di kawasan Gunung Puntang 30 km dari Bandung ke arah Pangalengan, selanjutnya kita sebut Radio Malabar. Pada era tahun 1920-an Radio Malabar merupakan sebuah karya yang sangat fenomenal dalam telekomunikasi nirkabel awal abad ke-20. Sebuah artikel yang membahas secara komprehensif  tentang Radio Malabar terdapat dalam sebuah buletin berbahasa Jerman “Telefunken-Zeitung” tahun 1925 sebanyak 16 halaman. Radio Malabar didirikan untuk komunikasi telefon dan telegrafi antara Hindia Belanda (kini Indonesia) dengan negeri Belanda. Sedangkan stasiun penerima gelombang radio di antaranya terdapat di Rancaekek dan Padalarang.

 

Gambar atas, Radio Malabar  (Telefunken-Zeitung, Oktober-1925)

Gambar bawah, puing Radio Malabar, Desember 2011)

Proyek pembangunan Radio Malabar dipimpin oleh Dr. Ir. G.J. de Groot dengan melakukan percobaan sejak 1916. Kementerian Urusan Negeri-negeri Jajahan di Hague Belanda membeli dua pesawat pemancar buatan Telefunken-Jerman (daya pancar 400 kW). Satu dipasang di Kootwijk Belanda dan satunya lagi untuk dipasang di Radio Malabar. Hingga peresmian Radio Malabar tanggal 5 Mei 1923 Dr. de Groot bersikeras untuk menggunakan pesawat pemancar atau transmiter Poulsen (2400 kW) buatan Amerika. Sayang pada uji coba pertama mengirim pesan kepada Ratu Wilhelmina, gagal. Pesawat Telefunken yang sudah dibeli pada akhirnya terpasang juga di Malabar.

Antena untuk memancarkan gelombang dipasang di antara lereng Puntang-Malabar dan Halimun. Panjang kawat antena mencapai 2 km dan tinggi dari permukaan tanah bervariasi 480-800 meter. Gedung utama yang berisi peralatan yang dibutuhkan untuk membangkitkan dan mengirimkan gelombang radio terdapat di lembah 1250 m di atas permukaan laut. Di sekitarnya terdapat komplek perumahan yang digunakan oleh para teknisi. Karena Radio Malabar terletak di kaki gunung dan jauh dari keramaian, maka dilengkapi pula sarana olah raga seperti lapangan tennis dan untuk hiburan sebuah bioskop. Pemandangan di sekitar Radio Malabar dalam potret-potret dulu maupun sekarang indah sekali. Sayangnya teknologi yang digunakan menurut ukuran sekarang sangat boros energi, selain dari PLTA mikro Ci Geureuh, dibutuhkan pula pasokan listrik dari beberapa pembangkit listrik di sekitar Bandung.

 

Gambar kiri atas, peta pembangkit listrik di Bandung ketika Radio Malabar berdiri

Gambar kanan atas, situasi panjang kawat antena busur (2 km) yang mengarah ke negeri Belanda

Gambar kanan tengah, Radio Malabar dilihat dari arah Ci Geureuh.

Gambar kiri tengah, situasi ruang mesin pemancar

Gambar kanan bawah, ruangan pembangkit listrik Dayeuhkolot

Gambar kanan bawah, peta kedudukan stasiun-stasiun radio di Bandung

(sumber Telefunken Zeitung Nr. 40/41 Oktober 1925)

Berkat usaha keras tim yang dipimpin Dr. de Groot, maka sejak 1927 komunikasi nirkabel jarak jauh antara Hindia Belanda dengan negeri Belanda menjadi lancar. Dr. de Groot meninggal pada tanggal 1 Agustus  1927. Atas jasa-jasanya, walikota Bandung B. Coops mengabadikan namanya menjadi nama jalan “de Grootweg”, sekarang Jalan Siliwangi. Kemudian walikota juga memerintahkan pembuatan monumen telekomunikasi. Monumen dirancang oleh Prof. C.P. Wolff Schoemaker berupa bola dunia beserta patung dua orang laki-laki laki-laki bugil yang sedang melakukan komunikasi. Letak monumen di Tjitaroem Plein, sekarang menjadi Mesjid Istiqamah. Pada masa pendudukan Jepang monumen tersebut dihancurkan.

 

Gambar kiri atas, Lazarus Potcognak orang Ceko sedang melakukan supervisi instalasi koil magnetik

Gambar kanan atas, memasang koil magnetik bagian atas, nampak tulisan POULSEN sebelah kanan

Gambar tengah, KlaasDijkstra bersama tiga karyawan di dekat transmiter Poulsen (9 July 1923)

Gambar kiri bawah, ruang dalam Stasiun Radio Dayeuhkolot (1938)

Gambarkanan bawah, transmiter Telefunken di Radio Kootwijk (1927)

(Koleksi keluarga Klaas Dijkstra. K. Dijkstra adalah teknisi yang pernah bertugas di Radio Malabar)

Di dekat bekas komplek perumahan karyawan (Kampung Radio – Radio Dorf) terdapat sebuah gua yang menembus sebuah bukit. Ketika ditelusuri jalurnya seperti angka empat. Papan penunjuk menyebutkan Gua Belanda. Tetapi saya ragu apabila dibangun bersamaan atau pada masa Radio Malabar masih beroperasi. Kemungkinan lain dibangun pada masa Jepang sebagai tempat perlindungan ataukah sudah ada sebelun Radio Malabar berdiri?

Ketika Jepang menjajah Indonesia, teknisi-teknisi Belanda ada yang pergi meninggalkan Indonesia dan ada pula yang ditangkap Jepang. Saya belum menemukan keterangan yang memadai bagaimana Radio Malabar pada masa penjajahan Jepang. Sedangkan pada masa revolusi fisik Radio Malabar diputuskan untuk dihancurkan, karena khawatir digunakan kembali oleh pihak Belanda. Perintah penghancuran diterima dari komandan resimen Mayor Daan Yahya kepada beberapa anggota Angkatan Muda PTT (Dinas Pos, Telefon, dan Telegraf – Staatsbedrijf der Posterijen Telegrafie en Telefonie) yang menjaga Radio Malabar. Penghancuran terjadi di seputar Peristiwa Bandung Lautan Api 24 Maret 1946. Akan halnya peralatan di Radio Malabar yang penting dipindahkan ke stasiun penerima Dayeuhkolot dan Rancaekek. Kemudian ada juga pemancar yang dikirim ke Delangu,  Solo. Saya kira yang dikirim ke Delangu adalah peralatan utama dan akan sangat membantu pemerintah pusat NKRI  yang sudah pindah  dari Jakarta ke Yogyakarta sejak tanggal 6 Januari 1946. Tidak mungkin peralatan utama dikirim ke Stasiun Dayeuhkolot, karena jaraknya dekat dengan kedudukan tentara Belanda di Kota Bandung.

Akan halnya “rekan kerja” Radio Malabar  di Belanda yaitu Radio Kootwijk pendiriannya dimulai tahun 1918 oleh arsitek Julius Maria Luthman. Pada akhir perang Dunia II tentara pendudukan Jerman menghancurkan gedung pemancar ini. Setelah perang selesai bagain yang rusak diperbaiki kembali. Dari keterangan yang diperoleh dari situs internet Radio Kootwijk, sekira akhir 1920-an setelah komunikasi lancar biaya pembicaraan telefon dari negeri Belanda ke Jawa sebesar 33 Gulden untuk 3 menit pertama. Jika diasumsikan biayanya pembicaraan telefon juga sama dari Jawa ke Belanda, maka seberapa mahal atau murahnya biaya pembicaraan tersebut? Dari data statistik tahun 1927 harga beras di Jawa per kuintal adalah F 139,7. Dengan demikian pembicaraan telefon selama 3 menit setara dengan 23 kg beras.

 

Gambar kiri, foto Radio Kootwijk tahun 1922

Gambar kanan, Radio Kootwijk sekarang

(sumber Wikipedia)

Pada saat itu ungkapan "Hallo Bandoeng, hier Den Haag" seringterdengar. Peristiwa ini mengilhami Willy Derby tahun 1929 menggubah lagu “Hallo Bandoeng”. Lagu ini mengisahkan seorang wanita tua di Belanda yang berbicara dengan anak laki-lakinya yang berada di seberang lautan….Hindia Belanda, dan untuk pertama kali mendengar suara cucunya.

 

Gambar atas, “kolam asmara” di depan Radio Malabar, awalnya kolam ini berbentuk hati

Gambar kiri tengah, puing-puing rumah karyawan di Kampung Radio

Gambar kanan tengah, gua dekat Kampung Radio

Gambar kiri bawah, Aleut bermain air di Ci Geureuh

Gambar kanan bawah, foto keluarga merupakan acara wajib di setiap kegiatan

Referensi:

Creutzberg, Pieter & Laanen, J.T.M van (ed.), Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia, Yayasan Obor Indonesia, 1987.

Doetsch, Carl W. Die Grosstation Malabar Radio Auf Java, Telefunken Zeitung Nr. 40/41 Oktober 1925 hal. 14-29.

Kunto, Haryoto. Semerbak Bunga di Bandung Raya, Granesia, 1986

Suganda, Her. Jendela Bandung, pengalaman bersama Kompas, Kompas Media Nusantara, 2007.

http://radiokootwijk.free.fr

http://en.wikipedia.org/wiki/Radio_Kootwijk

http://www.cdvandt.org/dijkstra_-_malabar.htm

Tahukah kamu?

Kata Delman (kendaraan transportasi tradisional) berasal dari nama penciptanya Charles Theodore Deeleman, seorang litografer dan insinyur di masa Hindia Belanda.

Sumber : Manhafte heren en rijke erfdochters: Het voorgeslacht van E.du Perron op Java

anggrainilestari:

Bagaimana caranya agar bangsa kita bertambah maju? Hal itu oleh para pembesar sudah dipikirkan, yaitu kaum wanitanya harus maju pula, pintar seperti kaum laki-laki, sebab kaum wanita itu akan menjadi ibu. Merekalah yang paling dahulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitu kepada anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan. (R. Dewi Sartika, 1911)

..Yang dimaksud agar kaum wanita orang Sunda bisa maju, meniru orang Eropa, mudah-mudahan bangsa kita tidak terlalu direndahkan oleh bangsa lain (R. Dewi Sartika)

Begitulah, 100 tahun yang lalu, seorang wanita pribumi mengungkapkan pemikirannya mengenai keharusan akan kemajuan pendidikan wanita dan keterkaitannya dengan kemajuan bangsa. Pemikiran yang jika dilontarkan pada masa kini mungkin hampir seluruh kepala akan mengangguk setuju. Tapi tidak pada kondisi saat itu, 1 abad yang lalu, ketika istilah pendidikan wanita pribumi, kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, adalah suatu kalimat mimpi yang terdengar utopis.

Dialah Raden Dewi Sartika, wanita pribumi yang bermimpi (dan beraksi) memajukan bangsa melalui pendidikan wanita. Lahir pada 4 Desember 1884, merupakan seorang anak pribumi yang cukup beruntung sempat menikmati bangku Eeste Klasse School (sekolah setingkat SD) karena ayahnya Raden Rangga Somanegara pada saat itu menjabat sebagai Patih Bandung. Pada umur 9 tahun, Dewi Sartika terpaksa Drop Out karena ayahnya diasingkan oleh pemerintah Belanda ke Ternate setelah melakukan pemberontakan terkait kekecewaan atas tidak terpilihnya ia sebagai Bupati Bandung yang baru.

Ketika ayahnya akan diasingkan, ibunya lebih memilih untuk ikut suaminya ke tempat pengasingan dan menitipkan Dewi Sartika beserta saudaranya ke sanak keluarga di Bandung. Dewi Sartika dititipkan pada keluarga Patih Afdeling Cicalengka dan terpisah dengan saudaranya yang lain. Selama di Cicalengka, Dewi Sartika diperlakukan seperti abdi dalem, bahkan lebih buruk, dengan ditempatkan dikamar sempit dibelakang rumah dan sering kali dimarahi bahkan oleh abdi dalem sendiri. Perlakuan buruk tersebut dikarenakan kekhawatiran Patih Afdeling yang takut dianggap pemerintah Belanda melindungi anak seorang pemberontak.

Read More

Tebaklah di mana lokasi Menara ini berdiri… Apabila anda menyebut Paris, maka anda salah besar…

Bangunan menara Eiflel ini didirikan oleh sekelompok insinyur Belanda di kota kecil Tasikmalaya (Priangan) pada tahun 1898 dalam rangka perayaan penobatan ratu Belanda. Menara Eiffel setinggi tiga puluh meter ini terbuat rangkaian bambu yang diikat dengan tali ijuk, dan tanpa sama sekali menggunakan paku…

SEMPOA!!!

Sumber : Wall photos Muhammad Ryzki Wiryawan ; salah seorang penggiat Komunitas Aleut!

Pada tahun 1924 , Arsitek Charles Proper Schoemaker menambahkan ‘Wolff’ yang diambil dari nama keluarga ibunya di tengah namanya hingga namanya menjadi C.P. Wolff Schoemaker.

Beberapa tahun kemudian ia menambahkan lagi nama “Kemal” di depan namanya seiring dengan perpindahan agamanya ke Islam. Keaktifannnya dalam dunia Islam ditunjukannya lewat jabatannya sebagai wakil ketua pada kelompok Western Islamic Association di Bandung.

Perpindahan agamanya ke Islam mungkin dipengaruhi pertemanannya dengan Muhammad Natsir yang tinggal di Bandung selama awal tahun 30’an.

Setelah masuk Islam, Schoemaker turut merancang sebuah masjid di Tjipaganti. Selain itu, Jarang diketahui bahwa Schoemaker bersama Natsir pernah menghasilkan sebuah karya berjudul Cultuur Islam yang diterjemahkan menjadi keboedajaan Islam pada tahun 1936. Dalam buku ini, Schoemaker menguraikan sejarah dan unsur2 arsitektur Islam, menegaskan pengetahuan dan keseriusannya dalam mempelajari Islam.

Dalam buku ini Schoemaker mencetuskan kritik yang mungkin masih sesuai dengan keadaan sekarang :
"Alangkah sayangnya melihat, bagaimana keadaan arsitektur Islam zaman kita sekarang, amat jauh dari keadaan di zaman keemasan itu, semasa Islam tidak hanya dianggap sebagai satu paham ketuhanan dan gerak-gerakan bibir saja, semasa dada kaum Muslimin masih terbuka dengan luas menerima dorongan Islam yang membangkitkan semangat supaya turut bersama-sama menegakkan satu kemajuan rohani dalam masyarakat-kebudayaan di Eropa dan Asia!"

Sumber : Wall photos Muhammad Ryzki Wiryawan ; salah seorang penggiat Komunitas Aleut!