Posts tagged "ngAleut! story"

Hayo temen2 siapa yang masih inget serial “return of the condor heroes”? pasti sebagian masih inget serial itu (bagi yang agkatannya agak lawas itu juga) hehe. kalo yang agak-agak lebih junior sih kayaknya kurang ngeh sama serial itu. terus apa hubungannya sama ngaleut kita minggu ini ya? sebenernya ada beberapa hubungan anatar serial tersebut sama ngaleut minggu ini, yang paling jelas yaitu kedua-dua nya sama-sama berhubungan dengan negeri tirai bambu (semua juga tau kali). Tapi ada satu lagi kesamaan yang saya temukan dari kedua hal tadi setidaknya dari sudut pandang saya, yaitu keduanya memiliki nilai2 romantisme kebudayaan tiongkok. lantas dimanakah letak romantisme tersebut? kita langsung aja ke TKP (OVJ fever nih hehe)

Pagi ini seperti pagi-pagi yang lainnya mataku terasa sangat berat untuk membuka apalagi hari ini hari minggu, it’s time to relax bray jadi sangat sah banget kalo bangunnya pun agak2 siang (tapi sebenernya ga juga sih kalo aja ketauan ibuku pasti diomelin hehe), tapi walau berat nih mata buat buka nya, mau ga mau aku harus bangun pagi soalnya hari ini ada agenda yang udah lumayan lama aku lewatkan, yaitu NgAleut! dan kebetulan juga ngaleut hari ini bakal bertandang ke kuburan china, hal itu semakin membuatku semangat karena seperti hadits nabi : menuntut ilmu lah walau sampai ke negeri china, ya walaupun belum sampe ke negeri nya, minimal ke kuburannya dulu dah dan aku yakin pasti disana pun akan banyak pelajran yang akan kutemukan, bukan hanya pelajaran tentang kehidupan saja tapi mungkin juga pelajaran tentang kematian (beuh lebay). Ngaleut kuburan mungkin bukan favorit banyak orang karena terbukti dari ngaleut kuburan yang sudah-sudah peserta nya pasti sedikit. Tapi hal itu tak menyurutkan niatku untuk ikutan ngaleut kuburan kali ini, apalagi setelah melihat foto-foto ngaleut kuburan pandu yang terlebih dahulu diadakan yang dengan sangat menyesal aku lewatkan. 

Pukul 7 aku udah stndby menunggu jemputan partner duet mautku ; pak guru, tapi jam 07.15 tiba2 ada sms ternyata dari pak guru dan isinya “sori boz urg blk deui.. helm tnggaleun..” wah2 bagaimana sih pak guru kan ekeu mau nebeng masa ga bawa helm 2 untung aja zmzx gug pke bhasha 4l4y. Akhirnya aku kembali menunggu beberapa saat, sampai tibalah pak guru dengan tunggangan andalannya menjemputku, berangkatlah kami dari tempatku di sarijadi kira-kira jam 7.30 menuju ke cikadut, pasti telat nih pikirku nyampe sananya dan benar saja pas kami nyampe in**maret cikadut sudah tak ada satupun anak aleut disana, mereka telah lebih dulu pergi menuju kuburan cina cikadut. FYI cikadut itu  terletak di :

Berhubung kita berdua ga ada yang tahu di sebelah mana kuburan cina cikadut itu, maka mau ga mau kita harus menghubungi salah seorang anak aleut yang berada di lokasi, akhirnya dengan sedikit terpaksa kita menelpon cici karena nama nya udah berbau2 cina tuh hehe.. setelah berkoordinasi sebentar maka kita langsung pergi menyusul mereka yang telah mendahului kita (asa serem kata2na). akhirnya setelah mencari beberapa saaat terlihatlah sesosok orang yang sudah kita berdua kenal yaitu kang asep suryana dengan senyumnya yang khas menyambut kita. Lalu tanpa basa basi kang asep mengajak kita untuk mengunjungi objek pertama kami yaitu sebuah bangunan yang membuat penasaran kang asep selama ini, ada apakah dengan bangunan tersebut mari kita saksikan bersama-sama :

Hal pertama yang aku temukan adalah kuburan dari Tan Joen Liong

siapakah Tan Joen Liong ??

(picture courtesy of Ms. Alexandra Wuisan and Mr. Gilbert F. Tanudirdja)In 1888, Tan Joen Liong, also known as Chen Yunlong, who was the son of Tan Hai Liong was appointed as Chinese lieutenant. Tan Joen Liong was promoted to captain’s rank in the mid 1890. It is unknown if Tan Joen Liong were ever promoted to major-ship which was the highest rank of Chinese officers. (THE CHINESE SETTLEMENT OF BANDUNG AT THE TURN OF THE 20TH CENTURY a thesis of DEVISANTHI TUNAS For the Degree of Master of Arts, Department of History, NATIONAL UNIVERSITY OF SINGAPORE) 


saya sangat excited ketika melihat kuburan tersebut karena nama yang tertulis di bong pai (maaf kalo salah tulis) atau nisannya kuburan cina adalah seorang yang pernah menjabat kapiten di bandung, dan pasti sangatlah menarik untuk menelusuri sejarahnya, sayangnya sumber yang kami miliki saat itu sangat terbatas tapi mungkin nanti pas ngaleut pecinan bisa mendapat penjelasan lebih lanjut.
setelah puas di kuburannya sang kapiten kami bergegas menelusuri objek-objek lain yang kami anggap menarik di area tersebut. sambil berjalan menuju jalan aspal kami berbincang-bincang membahas beberapa hal yang kami temui seperti hal ini :

benda apakah ini??

kami hanya bisa menduga-duga tentang benda ini, ada yang menduga bahwa ini adalah tempat untuk membakar dupa, ada juga yang menduga bahwa ini adalah tempat untuk menymbahyangi dewa bumi, manakah yang benar?? jawabanya ada di chapter atlantic park.
sembari meninggalkan benda yang masih membuat kami penasaran, kami pun bergegas menuju bagian yang lebih tinggi dari area kuburan cikadut dan kami pun menemukan objek ini :

sebuah kuburan muslim di tengah-tengah kuburan cina, mungkin hal ini menjadi sesuatu yang aneh bagi sebagian orang, tapi mungkin juga hal ini adalah hal yang biasa karena di kompleks kuburan pandu pun ditemukan kuburan muslim di tengah-tengah kompleks kuburan belanda.


setelah beberapa saat di kuburan ibu guru kepala, kami menuju sebuah objek yang cukup mencolok apabila kita melintasi area kuburan cina ini yaitu :

tempat ini bukan tempat ditemukannya atlantis yang hilang, apalagi gelanggang rekreasi tempat orang-orang berenang lho.


atlantic park adalah komplek kuburan keluarga yang dibangun oleh keluarga papa wong (saya lupa nama lengkapnya). dan selain kuburan untuk keluarga dibangun pula menara abu yang dibangun sebgai tempat penyimpanan abu kremasi bagi orang-orang yang tak mampu yang merupakan ide dari istrinya papa wong.


Hari minggu itu kebetulan di kompleks atlantic park ada penjaga yang sedang membersihkan kuburan disana, dan diajaklah kami semua untuk mengunjungi bagian belakang dari atlantic park yang merupakan menara abu dan tempat tinggal penjaga kuburan tersebut yang menasbihkan dirinya sebagai kuncen cikadut. Pak abang, itulah nama dari penjaga tersebut menjelaskan cukup banyak hal kepada kami tentang kuburan-kuburan di atlantic park ataupun kuburan-kuburan yang ada di cikadut pada umumnya. satu hal yang membuat kita miris dan mungkin hal tersebut menjdai lumrah di negeri kita ini, bahwa orang-orang kita itu selain hobby mencuri harta-harta dari orang yang masih hidup, orang-orang kita juga hobby untuk menjarah harta-harta orang yang sudah meninggal. hal ini memang disebabkan pula kebudayaan cina yang rela mengubur harta benda yang disukai orang yang meninggal bersama orang tersebut dan tak jarang benda-benda itu adalah harta yang bernilai tinggi, maka tak heran banyak kuburan cina yang dijarah dan terlantar begitu saja.

Dari pak abang pulalah kita mendapat penjelasan tentang beberapa istilah-istilah cina yang lazim ada di kuburan, tapi sayang saya lupa istilah-istilahnya. kami pula mendapat penjelasan tentang benda yang membuat kami penasaran di awal tadi, dan benar saja benda itu adalah tempat untuk sembahyang yang ditujukan bagi tuan tanah/dewa bumi sebelum bersembahyang ke kuburan yang dituju. wah sungguh membantu sekali nih pak abang, terima kasih pak. 


Nah setelah dari tempat nya pak abang kami menuju lokasi selanjutnya, namun ditengah perjalanan kami menemukan beberapa hal yang menarik, apa sajakah hal tersebut ?? kita lihat sama-sama :

 :

sebuah nisan yang berbahasa belanda dan bertuliskan tulisan asing yang kurang dikenal. kata pak abang ini adalah makam orang Belanda.

objek menarik selanjutnya :

sebuah nisan yang bertuliskan 2 nama orang, yang satu sudah meninggal dan satunya masih hidup. ternyata mereka adalah sepasang suami istri, walaupun sang suami belum meninggal tapi namanya telah ditulis di nisan tersebut, dan apabila dia meninggal maka akan dikubur disamping kuburan sang istri. inilah romantisme tiongkok yang saya maksud, yang diibaratkan romantisme yoko dan bibi lung


objek menarik selanjutnya :

kuburan yang cukup tua usianya sekitar 99 tahun, namun belum ada penjelasan lebih lanjtu tentang orang yang bersemayam disana


objek yang akan kami telusuri selanjutnya adalah kuburan dari salah seorang raja tekstil di bandung, Yo Giok Sie, beliau adalah pemilik dari bdan Tekstile Indonesia yang pada masa lalu adalah salah satu perusahaan tekstile terbesar di Bandung



area pemakaman sang juragan tekstile ini sangatlah indah dan terawat dengan baik, dan ini adalah salah satu kuburan yang paling indah di area pekuburan cina cikadut, orang-orang menyebut kuburan ini “bong koneng” karena mungkin warna atap bagunannya berwarna kuning.
karena kompleks ini indah maka kami berinisiatif untuk berfoto keluarga :


setelah puas dengan objek yang satu ini, kami lalu menuju objek selanjutnya yaitu :

objek yang satu ini cukup menyeramkan dan bahkan kang asep suryana kalo dulu lari pagi melewati tempat ini tak mau menoleh ke arah krematorium saking horornya kali yah, tapi walaupun horor kami tetap saja membuka perbekalan kami disana da lapar atuh da.

dan ini sejarahnya krematorium :


setelah dari krematorium kami melanjutkan perjalanaan menanjaki tanjakan-tanjakan yang membuat baeud rombongan, maka dari itu pulalah tanjakannya diberi nama tanjakan baeud. tapi walaupun baeud kami semua tetap mnajalaninya dengan tabah karena kami tahu bahwa di atas sana masih ada objek-objek menarik yang akan dijumpai.benar saja di kawasan atas pekuburan cikadut ini banyak kuburan yang sangat mewah dan masa pembangunannya pun masih baru. walalupun objek tersebut cukup menarik tapi tak semenarik objek-objek yang kami temui di bawah tadi, mungkin karena kurang memiliki cerita historis kali yah.


setelah sekian lama berjalan dibawah teriknya matahari dan melewati tanjakan yang membikin baeud, kahirnya kami sampai di area ujung pekuburan, kami pun isirahat sebentar sambil membuka perbekalan dan juga tak lupa sambil ngobrol-ngobrol.

Dari obrolan-obroalan kecil kami ada beberapa pengetahuan yang tergali diantaranya tentang penemuan kuburan kuno yang diduga dari masa pre-islam historic yang terletak mulai dari kawasan sekitar vila isola sampai dengan kawasan sekitar gunung manglayang, salah satu dari kuburan kuno itu terletak di panyandaan.

Ternyata panyandaan terletak tak jauh dari tempat kami beristirahat (walaupun jauh oge ternyata setelah disusuri, nanjak deui), maka kami pun memutuskan untuk melihatnya. perjalanan menuju makam kuno panyandaan ternyata tidak sesuai dengan harapan, karena trek yang dilalui sangatlah terjal dan nanjak terus, sehingga kamipun kepayahan dan beberapa kali harus berhenti untuk beristirahat. namun stelah berjuang sampai titik keringat penghabisan kamipun sampai di bukit dimana kuburan kuno tersebut berada. dari bukit ini kami bisa melihat wjah bandung dari ketinggian, tapi sayang sebagian bandung wajahnya berasap polusi, sungguh tidak cantik. tapi walalupun wajah bandung agak mengecewakan, tapi bukit itu tidak membuat kami kecewa karen disana terdapat dua buah kuburan kuno yang hanya tersusun oleh batuan-batuan, mirip kuburan-kuburan mannusia purba :

dan ini :

lagi-lagi kami kekurangan info tentang kuburan ini, mudah-mudahan ada teman-teman yang mengetahui info tentang kuburan ini bersedia untuk membagi infonya

kami hanyalah sebentar di lokasi kuburan kuno mengingat langit yang sudah mulai tampak gelap tak bersahabat, maka kamipun bergegas untuk pulang walalupun kami tahu bahwa perjalanan pulang yang akan kami tempuh tak akan mudah, dan benar saja perjalanan pulang tersebut cukup memakan tenaga terutama memakan kekuatan lutut saya (asa rek coplok euy).
walaupun perjalanan kali ini cape dan jumlah pesertanya tak sebanyak ngaleut yang lain, tapi tetap saja selalu ada nilai yang bisa diambil dari ngAeut!. mulai dari romasntisme yang dibawa sampai mati samapai pada pengingat buat kita bahwa hidup tak akan selamanya.

14 November 2010

Belum ke bandung kalo belum ngAleut!

Terima kasihku… Ku ucapkan

Pada guruku yang tulus

Ilmu yang berguna…selalu dilimpahkan

Untuk bekalku nanti

Setiap hariku… dibimbingnya

Agar tumbuhlah bakatku

Kan kuingat selalu… nasihat guruku

Terima kasih, Ku ucapkan…….

Satu lagu yang berirama merdu terlampir, ketika salah satu moment yang pas untuk lagu ini, tanggal 25 November, dimana satu hari bukan hari libur nasional tetapi ditujukan sebagai salah satu penghargaan dari pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 dan diperingati setiap tahun: Hari Guru Nasional.

Bermula pada tahun 1912 dengan adanya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB), semangat para guru yang tidak ingin terus menerus ada dibawah nama Belanda terus berkembang. Di tahun 1932 organisasi yang terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah ini berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia. Sampai pada akhirnya, dalam Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan. Melalui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Tepat 100 hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan. Terinspirasi dari salah satu hari penting itulah, saya dan Komunitas Aleut menyusuri jalur “pendidikan” lama di Bandung. Ternyata fungsi dari gedung-gedung yang dipakai zaman dahulu masih berlaku sampai sekarang.

Seperti pada titik pertama kami sampai, yaitu di Santa Alloysius, setelah berjalan dari tempat pertama berkumpul di Jalan Sultan Agung (Depan Patung PDAM alias Beasty Boys #halah #abaikan). Gedung yang dibangun tahun 1930 sampai 1932 ini dahulunya didirikan sebagai MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yaitu Pendidikan Dasar Lebih Luas, atau setara SMP.Namun pada masa pendudukan jepang tahun 1942-1945 Ken Petai menggunakan gedung tersebut untuk menawan musuhnya, orang-orang Belanda.

Jalan Merdeka mulai kehilangan payungnya, sehingga pori-pori kulit Aleutians mulai terisi partikel cahaya pancaran dari Sang Raja siang yang mulai menguap. Namun tak lama kemudian kami sampai di Santa Angela, yang didirikan Ordo Ursulinen. Dahulunya sekolah ini sebagai HBS (Hogere Burger School) atau Sekolah Menengah Atas Tertinggi (Lanjutan Sekolah Tingkat Menengah) yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang elit yang pintar. Pribumi boleh menuntut ilmu di sini asal mencakup dua alasan wajib tersebut. Terdapat sistem DO dan bahasa yang digunakan adalah Bahasa Belanda untuk semua materi yang diajarkan. Jika dahulu ada seorang yang ingin melanjutkan pendidikan dari MULO ke AWS (Algeme(e)ne Middlebare School), ia tidak perlu melakukannya jika telah mendaftar ke HBS, karena masa belajar di sini 5 tahun (Setara dari SMP + SMA).

klik gambar untuk tampilan yang lebih besar

Komplek pendidikan Hindia Belanda ternyata masih di daerah Jalan Merdeka mengelilingi yang sekarang ini kita kenal dengan nama Balai Kota. Namun pada akhirnya, setelah masa politik etis yang digunakan Belanda, pemerintah pun mulai berfikir untuk membuat sekolah untuk para pribumi seperti Kweek School (1834), dengan mencetak guru-guru sendiri. Anak pribumi pun dididik untuk menjadi pendidik (Sekarang menjadi SD Banjarsari dan Kantor Polisi).

Sistem pendidikan pada saat itu sudah memiliki penjurusan pada tingkat SMA (kalau zaman sekarang seperti SMK). Mulai dari penjurusan Bahasa dan Budaya serta Ilmu Alam. Sehingga konsentrasi ilmu yang digunakan pun jelas. Dan tidak sembarang sekolah yang bisa menjadikan seseorang menjadi guru, karena harus mengikuti prosedur pengajar yang dicetak dari sekolah khusus pengajar.

Setelah kemerdekaan, sistem penjurusan pun masih dipakai pemerintah dan muncullah sistem Universitas di Indonesia. Setelah mengetahui informasi dari komplek pendidikan di seputaran Balai Kota (Sekolah Ekonomi, Sekolah Jasmani (Guru Olahraga) serta sekolah cikal bakal UNPAR), Aleutians yang tak menggunakan sun block pun kembali bergerak dibawah sinar sang surya dengan semangat yang belum pudar. Menembus Jalan Sumatra lewat Jalan Tera yang ada sehabis portal kereta di Jalan Braga. Dan kami pun sempat menemukan fenomena Kereta jurusan Cicalengka-Padalarang yang “ngetem” di salah satu jalur. Alhasil sesi foto gratis dan langka pun digelar seketika.  

Perjalanan menuju target berikutnya pun berakhir, kami telah sampai di Wisma Van Deventer yang tetap menjadi sekolah khusus putri, dengan nama lembaga pendidikan Wanita International Putri University alias Universitas Wanita Internasional. Sedikit diskusi ngalor ngidul dan kaki para Aleutians pun harus kembali menjejak jalanan beraspal untuk menuju MULO yang didirikan pemerintah Kota Bandung pada tahun 1917, yang sekarang menjadi SMP Negeri 5 Bandung.

“Nongkrong” di pinggir got di bawah pohon Kersen pun tak masalah, karena rindangnya cukup mengobati dahaga yang mulai menjalar di tenggorokan kami setelah dari Jalan Van Deventer – Jalan Jawa – dan kembali ke Jalan Sumatra. SMPN 5 Bandung ini pun pernah dirampas oleh Jepang dan dijadikan markas oleh Ken Petai sebagai tempat untuk menawan dan menyiksa. Kesabaran telah mengetuk-ngetuk takut meluap, maka dengan segera kami melanjutkan kembali perjalanan ke titik terakhir perjalanan “Ngaleut Jalur Pendidikan” ini, yaitu SMAN 3 dan 5 Bandung. Bangunan yang dirancang oleh Schoemaker ini dibangun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda tahun 1916 sebagai Hoogere Burger School (HBS) yang setaraf dengan SMA, sekolah untuk anak-anak Belanda golongan menengah. Ken Petai pun menggunakan gedung ini di tahun 1941-1945 untuk keperluan mereka menawan dan menyiksa lawan.

Foto keluarga Komunitas Aleut di SMAN 3 dan 5. Sedikitnya Aleutians yang ikut tidak mengurangi rasa semangat untuk berfoto tentunya :)

Aku turun ke sini, membasahi, menemani Merebak aroma sendu yang berujar syahdu Menenangkan hati namun mencegat sedikit niat untuk pergi Sabarkan hati, tak lama lagi aku kan pergi… (Kutipan dari perkataan Sang Hujan, tadi dia berbisik ditelingaku)

Sayangnya, ketika kami akan pulang ternyata hujan yang cukup deras pun datang. Aleutians menunggu reda dengan mengisi perut dan sedikit berkelakar di tengah hari sampai akhirnya kami pun beranjak untuk pulang.

Pertanyaan: Sebutkan beberapa tempat yang pernah dijadikan markas oleh Ken Petai! Silakan ambil hadiah di Jalan Buah Batu Dalam V untuk jawaban yang benar :D

referensi : dari sini

foto: dari mba kuke, dan mungkin akan menyusul (menunggu update lagi dari Mba Kuke, Teh Yanstri, Teh Karis, Bey dan tentunya BR!)

"Selalu ada yang baru setiap kali NgAleut!"

Itulah yang saya alami setiap kali mengikuti kegiatan Komunitas Aleut!, begitu pula dengan ngaleut kedua Komunitas Aleut dan Ngaleut Pertama buat saya di tahun 2011 ini tepatnya pada hari minggu, 9 Januari 2011. Kali ini Komunitas Aleut! mendatangi kawasan Jatinangor untuk berkunjung ke Arboretum yang terletak di kampus UNPAD Jatinangor. Tidak seperti sebelumnya ketika berkunjung ke Jatinagor, kali ini  kami menempuhnya dengan menggunakan kereta dan ini merupakan pengalaman saya naik KRD.

Stasiun Bandung menjadi tempat berkumpul kami, karena dari sinilah kami akan naik KRD baraya Geulis ke Jatinangor.

Stasiun Bandung atau Stasiun Hall (kode: BD), adalah stasiun utama kereta api di Kota Bandung. Stasiun berketinggian +709 m dpl menjadi batas antara Kelurahan Pasirkaliki dan Kebonjeruk. Stasiun Hall sebelumnya hanya memiliki satu buah stasiun, setelah ada renovasi oleh pemerintah Kota Bandung maka Stasiun Hall sekarang terbagi menjadi dua bagian walaupun tetap bersatu.

Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984) karangan Haryoto Kunto, ide awal pembangunan Stasiun Bandung berkaitan dengan pembukaan perkebunan di Bandung sekitar tauh 1870. Stasiun ini diresmikan pada 17 Mei 1884, ketika masa pemerintahan Bupati Koesoemadilaga dan pada waktu yang sama juga dibuka jalur kereta Batavia-Bandung melalui Bogor dan Cianjur. Di masa itu, para tuan tanah perkebunan (Preangerplanters) menggunakan jalur kereta api untuk mengirimkan hasil perkebunannya ke Batavia dengan lebih cepat. Untuk menampung dan menyimpan hasil perkebunan yang akan diangkut dengan kereta, dibangunlah gudang-gudang penimbunan barang di beberapa lokasi dekat Stasiun Bandung, yaitu Jalan Cibangkong, Jalan Cikuda-Pateuh, daerah Kosambi, Kiaracondong, Braga, Pasirkaliki, Ciroyom, dan Andir. Sesaat setelah peresmian jalur Bandung-Surabaya (1 November 1894), para pemiliki pabrik dan perkebunan gula dari Jawa Tengah dan Jawa Timur (Suikerplanters) menyewa gerbong kereta menuju Bandung untuk mengikuti Kongres Pengusaha Perkebunan Gula yang pertama. Kongres tersebut merupakan hasil pertemuan Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula (Bestuur van de Vereniging van Suikerplanters) di Surabaya tahun 1896.

Pada tahun 1909, arsitek FJA Cousin memperluas bangunan lama Stasiun Bandung, salah satunya ditandai dengan hiasan kaca patri pada peron bagian selatan yang bergaya Art Deco. Tahun 1918, stasiun ini menghubungkan Bandung-Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali, kemudian setahun kemudian dibangun lintas Bandung-Citeureup-Majalaya dan pada jalur yang sama dibangun jalur Citeureup-Banjaran-Pengalengan (1921). Untuk jalur ke perkebunan teh, pada tahun 1918, dibangun jalur Bandung ke Kopo dan kemudian ke Ciwidey (Maret 1921).

Pada saat peresmian Stasiun Bandung, surat kabar Belanda saat itu, Javabode, menuliskan bahwa masyarakat sekitar merayakannya selama 2 hari berturut-turut. Dulunya, kereta api merupakan sarana transportasi hasil produksi perkebunan Bandung, seperti kina, teh, kopi, dan karet, sehingga pertumbuhan ekonomi di kota tersebut berkembang pesat. Hal ini menyebabkan stasiun ini mendapat penghargaan dari pemerintah kota berupa monumen yang berada tepat di depan stasiun, yaitu di peron selatan (Jalan Stasiun Selatan). Saat itu, tugu tersebut diterangi oleh 1.000 lentera rancangan Ir EH De Roo. Monumen tersebut telah digantikan oleh monumen replika lokomotif uap seri TC 1008. Pada tahun 1990, dibangun peron utara yang akhirnya dijadikan bagian depan stasiun di Jalan Kebon Kawung.

Setelah menunggu beberapa lama untuk menunggu teman-teman Aleut yang terlambat datang maka sekitar pukul 08.00 kami memutuskan untuk segera membeli tiket kereta karena Jadwal keberangkatan kereta selanjutnya adalah pukul 08.30. Harga tiket KRD Bumi Geulis (Kelas PATAS) adalah Rp.5000 dengan jurusan Stasiun Bandung - Cicalengka, tapi kami hanya akan menempuh perjalanan sampai dengan stasiun Rancaekek karena stasiun itulah yang paling dekat dengan tujuan kami Jatinangor. Sekitar pukul 08.30 kereta pun memulai perjalanan dengan teman-teman Aleut yang ceria menumpang didalamnya.

Tiket Tanpa tempat Duduk menuju Rancaekek

kereta Baraya Geulis

suasana di dalam kereta

Sekitar pukul 09.00 kita tiba di Stasiun Rancaekek, perjalan tersebut hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, jauh lebih cepat dibandingkan kita menggunakan DAMRI. Dari Rancaekek kita melanjutkan perjalanan menuju Cikeruh dengan menggunakan angkot.

suasana di dalam angkot

Setelah menmpuh perjalanan yang tidak terlalu lama dengan angkot akhirnya kita tiba di kawasan sungai cikeruh yang berada di kawasan sekitar Jatinangor. Di kawasan sungai ini kita menelusuri saluran irigasi yang telah lama di gunakan para petani untuk mengairi sawahnya, sangat senang rasanya menikmati keindahan hamparan sawah dan aliran sungai yang walaupun keruh sesuai dengan namanya Cikeruh.

perjalanan menelusuri sungai Cikeruh

Jatinangor sendiri adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Nama Jatinangor sebagai nama kecamatan baru dipakai sejak tahun 2000-an. Sebelumnya, kecamatan ini bernama Cikeruh. Nama Jatinangor sendiri adalah nama blok perkebunan di kaki Gunung Manglayang yang kemudian dijadikan kompleks kampus sejumlah perguruan tinggi di sana.

Dari Topografische Kaart Blaad L.XXV tahun 1908 dan Blaad H.XXV tahun 1909 yang diterbitkan oleh Topografische Dienst van Nederlands Oost Indie, telah dijumpai nama Jatinangor di tempat yang sekarang juga bernama Jatinangor. Ketika itu, daerah Jatinangor termasuk ke dalam Afdeeling Soemedang, District Tandjoengsari. Nama Cikeruh sendiri diambil dari sungai (Ci Keruh) yang melintasi kecamatan tersebut.

Pada Peta Rupabumi Digital Indonesia No. 1209-301 Edisi I tahun 2001 Lembar Cicalengka yang diterbitkan oleh BAKOSURTANAL masih dijumpai nama Kecamatan Cikeruh untuk daerah yang saat ini dikenal sebagai Kecamatan Jatinangor. Pada beberapa dokumen resmi dan setengah resmi saat ini, masih digunakan nama Kecamatan Cikeruh. Kecamatan ini terletak pada koordinat 107o 45’ 8,5” – 107o 48’ 11,0” BT dan 6o 53’ 43,3” – 6o 57’ 41,0” LS. Kode Pos untuk kecamatan ini adalah 45363.

Setelah menelusuri kawasan sungai cikeruh kami melanjutkan perjalanan menuju kampus UNPAD melalui jalan pesawahan yang pada akhirnya tembus ke jalan raya Jatinangor, kami melalui jalan cikuda yang kemudian menuju jembatan cincin atau jembatan cikuda yang terletak di samping kampus UNPAD.

jembatan cikuda atau jembatan cincin

Jembatan di Cikuda – yang sering disebut sebagai Jembatan Cincin oleh masyarakat sekitar – pada mulanya dibangun sebagai penunjang lancarnya kegiatan perkebunan karet. Jembatan Cincin dibangun oleh perusahaan kereta api Belanda yang bernama Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf pada tahun 1918. Jembatan ini berguna untuk membawa hasil perkebunan; dan pada masanya, jembatan ini menjadi salah satu roda penggerak perkebunan karet terbesar di Jawa Barat.

Setelah dari jembatan cikuda kami bergegas menuju kampus UNPAD dimana Arboretum berada yang merupakan tujuan utma ngaleut kita kali ini. Menurut informasi yang saya dapat, di lokasi kampus UNPAD Jatinangor dulunya merupakan sebuah perkampungan yang bernama kampung Kiciat. Kami menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan berjalan kaki untuk sampai di Arboretum karena Arboretum terletak di sisi barat kampus UNPAD sedangkan kami masuk dari sisi timurnya, alhasil hampir semua kawasan kampus kami telusuri. Ketika berjalan di jalan sekitar fakultas pertanian-fakultas peternakan kami melihat dari kejauhan sebuah bangunan yang membuat penasaran pegiat aleut. Ternyata bangunan tersebut adalah menara loji jatinangor.

Menara jam – yang sering disebut Menara Loji oleh masyarakat sekitar – itu dibangun sekira tahun 1800-an. Menara tersebut pada mulanya berfungsi sebagai sirene yang berbunyi pada waktu-waktu tertentu sebagai penanda kegiatan yang berlangsung di perkebunan karet milik Baron Baud. Bangunan bergaya neo-gothic ini dulunya berbunyi tiga kali dalam sehari. Pertama, pukul 05.00 sebagai penanda untuk mulai menyadap karet; pukul 10.00 sebagai penanda untuk mengumpulkan mangkok-mangkok getah karet; dan terakhir pukul 14.00 sebagai penanda berakhirnya kegiatan produksi karet.

Baron Baud adalah seorang pria berkebangsaan Jerman yang menanamkan modal bersama perusahaan swasta milik Belanda dan pada tahun 1841 mendirikan perkebunan karet bernama Cultuur Ondernemingen van Maatschapij Baud yang luas tanahnya mencapai 962 hektar. Perkebunan karet ini membentang dari tanah IPDN hingga Gunung Manglayang.

Sekira tahun 1980-an lonceng Menara Loji dicuri dan hingga kini kasusnya masih belum jelas; baik mengenai pencurinya, apa motifnya, dan bagaimana tindak lanjut dari pihak berwenang. Bahkan Pemerintah Daerah (Pemda) Sumedang – selaku pihak yang seharusnya mengawasi pemeliharaan cagar budaya – pun tidak tahu-menahu mengenai kelanjutan kisah pencurian itu. Saat ini Menara Loji nampak tidak terurus. Menara Loji yang sempat nampak tidak terurus sekarang telah terlihat cantik kembali berkat bantuan PMI yang berkantor didekatnya.

Tak jauh dari tempat melihat menara loji kami akhirnya tiba di bagian belakang Arboretum, kemudian melalui jalan semak-semak kita masuk ke dalam hutan yang ternyata hutan koleksi pohon-pohon langka. setelah berjalan beebrapa saat tibalah kami di sebuah gubuk dengan kolam ikan didepannya yang tampak bersahaja namun sangat menawan, ternyata ini adalah kawasan arboretum yang bertema pedesaan dimana disana terdapat rumah, kolam ikan, hewan ternak dan tumbuhan-tubuhan tertentu, dan disinilah kami semua melepas lelah sambil membuka perbekalan kami.

Jalan menuju arboretum

sebagian kawasan pertanian arboretum

bunga-bunga liar di kawasan arboretum

kolam ikan dengan sepasang angsa di dalamnya

Lalu apa sih arboretum itu?

Dalam bahasa latin, Arboretum berasal dari kata arbor yang berarti pohon, dan retum yang berarti tempat. Sedangkan Arboretum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan.

Istilah Arboretum sendiri pertama kali digunakan oleh John Claudius Loudon pada tahun 1833dalam The Gardener’s Magazine, walaupun sebenarnya sudah ada konsepnya terlebih dahulu.

Sejarah Arboretum

Firaun Mesir menanam pohon eksotis dan merawatnya, mereka membawa kayu ebony dari Sudan, pohon pinus dan cedar dari Suriah. Setelah Ekspedisi Hatshepsut (salah satu Firaun)  ke daerah Punt mereka membawa tiga puluh satu  pohon frankincense hidup, akarnya disimpan dalam keranjang dengan hati-hati selama dalam perjalanan, hal tersebut adalah upaya pertama yang tercatat untuk transplantasi pohon asing.  Pohon-pohon tersebut kemudian ditanam di sekitar lapangan Deir el Bahri yang merupakan kompleks kuil dan pemakaman.

The three temples at Deir el Bahari from the top of the cliff behind them, part of Hatshepsut’s temple on left, Tuthmosis III’s temple in center, and Mentuhotep II’s temple on right

Trsteno Arboretum, Kroasia

Arboretum pertama adalah Trsteno Arboretum , di Dubrovnik, Kroasia . tanggal pendiriannya tidak diketahui tapi telah ada sejak tahun 1492, ketika saluran air sepanjang 15 m (50 kaki) untuk mengairi Arboretum dibangun, saluran air ini masih digunakan. Taman ini diciptakan keluarga Gučetić/Gozze. Taman ini mengalami dua bencana besar pada 1990-an tetapi dua buah Platanus orientalis atau Oriental plane yang unik dan kuno masih tetap berdiri.

Setelah makan siang, kami melanjutkan kegiatan yaitu dengan menyimak penjelasan dari Pak Prihadi dan Pak Joko yang merupakan dosen MIPA UNPAD dan pengurus Arboretum. Beliau menjelaskan banyak hal yang sebelumnya tidak kita ketahui padahal sering kita dengar sehari-hari seperti nama-nama tumbuhan yang kemudian dijadikan nama daerah seperti kosambi, bintaro, gandaria, lame, dan masih banyak lagi. selain itu kami pun dapat melihat tanaman-tanaman yang menjadi ciri daerah-daerah di jawa barat seperti bunga patrakomala yang menjadi bunga khas kota Bandung.

Arboretum ini seluas 12,5 ha, terbagi ke dalam beberapa zona, diantaranya zona tanaman obat, tanaman langka, tanaman jati diri, tanaman bahan bangunan dan zona budidaya.

Manfaat arboretum :

  1. Digunakan sebagai tempat diskusi, praktikum dan penelitian
  2. Tempat pembelajaran mengenai lingkungan dan keanekaan hayati untuk berbagai jenjang pendidikan dan umum.
  3. laboratorium lapangan, arboretum merupakan sumber daya plasma nutfah (bank genetik) yang menyimpan berbagai koleksi jenis tanaman langka khususnya dari daerah jawa barat, tanaman obat-obatan, tanaman pohon produksi dan kolam percobaan, berbagai jenis hewan liar.
  4. Melindungi mata air yang ada di kawasan arboretum
  5. Melestarikan model ekologi pedesaan seperti pekarangan tradisional, rumah baduy, kolam, sawah, kebun dan lain-lain.
  6. Tempat wisata pendidikan dan rekreasi.

bunga patrakomala

katanya buah sosis, tapi awas beracun loh

mahkota dewa

haur kuning

tanaman papyrus

Selain bisa melihat langsung dan mempelajari tumbuhan yang ada di arboretum ini, ternyata disini juga kami mendapatkan banyak pencerahan dari Pak Pri dan Pak Joko tentang betapa besarnya potensi yang dimiliki Indonesia yang sayangnya sebagian masyarakatnya belum tahu atau tidak mau tahu dalam pengelolaanya. Beliau juga mengatakan pada kami bahwa kenapa buah-buah yang unggul selalu berembel-embel “bangkok”, hal ini dikarenakan perilaku masyarakat Thailand yang sangat menghargai semua pemberian alam. Menurut Pak Pri bahwa kearifan lokal masyarakat Thailand itu menganggap di dunia ini tidak ada yang gratis, setelah kita mengambil sesuatu dari alam maka kita harus memberikan sesuatu pula pada alam, misalkan ketika mengambil buah dari pohon maka kita harus memberikan pohon tersebut pupuk sebagai balasannya. dengan demikian maka kelangsungan ekosistem alam akan terjaga dan memberikan kontribusi yang maksimal bagi manusia.

Setelah lelah berjalan menelusuri kawasan arboretum, kami terpaksa mengakhiri kegiatan kami dikarenakan hari yang sudah mulai sore, dan seperti biasa pada akhir kegiatan ngaleut ditutup dengan sharing dari seluruh peserta ngaleut sambil menikmati singkong bakar dan jagung rebus hasil tanam dari arboretum.

Dengan berakhirnya session sharing maka berakhir pula Ngaleut Arboretum pada hari tersebut dan kami pun beranjak pulang karena hari sudah semakin sore.

Ngaleut kali ini benar-benar memberikan banya inspirasi bagi saya khususnya tentang bagaimana kita memperlakukan lingkungan agar mereka tetap bersahabat dengan kita.

mudah-mudahan catatan ini juga dapat menginspirasi kita semua agar lebih bisa menghargai lingkungan.

Belum ke Bandung kalo belum NgAleut!

sumber :

http://en.wikipedia.org/wiki/Arboretum

http://edukasi.kompasiana.com/2010/05/03/arboretum-itu-bukan-sekedar-arboretum/

http://www.biologi.unpad.ac.id/?p=68

http://id.wikipedia.org/wiki/Jatinangor,_Sumedang

http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Hall

http://secretdalmatia.wordpress.com/2010/04/21/arboretum-trsteno-near-dubrovnik-www-tours-in-croatia-com/

Foto dari album koleksi para pegiat Komunitas Aleut!

"Sesuatu yang tidak tampak bukan berarti tidak berguna, bahkan mungkin sebenarnya kita sangat bergantung kepadanya, seperti udara begitulah kisah para  pejuang kita."

Hari minggu 30 Januari 2011, sebuah pagi yang cerah menjadi awal kegiatan ngaleut di penghujung bulan awal ini, saya memutuskan untuk ikut ngaleut dengan harapan dapat mencerahkan hati yang memang belakangan ini kadang tak secerah sang pagi.

Sesuai dengan isi sms yang saya terima sebelumnya, kami berkumpul di sebuah tempat yang terletak di Jalan Asia-Afrika Bandung, sebuah tempat yang menunjukan betapa majunya visi seorang Soekarno, sebuah tempat yang menjadi tonggak sejarah bagi banyak negara di kawasan Asia dan Afrika. Societeit Concordia atau yang sekarang menjadi Museum Konferensi Asia-Afrika pada masa colonial merupakan sebuah symbol dari rasisme kaum elite Belanda terhadap pribumi, tempat ini merupakan tempat berkumpul para elite Belanda untuk bersosialisai dengan sesama elite Belanda lainnya, ya hanya sesame elit. Tak ada seorang pun yang di luar golongan tersebut diperbolehkan menikmati fasilitas disini apalagi bagi pribumi. Dengan visi luar biasa yang Soekarno miliki, beliau menjadikan gedung bekas societeit Concordia sebagai tempat berlangsungnya konferensi Asia-Afrika tahun 1955 yang merupakan symbol perlawanan terhadap rasisme dan kolonialisme di Negara-negara Asia dan Afrika, beliau “menikam rasisme tepat di jantungnya”.

berkumpul di depan Museum KAA

Seperti biasa sebelum memulai perjalanan, kita melakukan sebuah “ritual” yaitu perkenalan dan pengantar perjalanan. Mungkin keduanya terlihat sepele, namun ternyata hal tersebut merupakan bagian penting dari kegiatan ngaleut. Karena dengan perkenalan, para peserta yang berasal dari berbagai macam latar belakang, asal daerah, asal tempat belajar maupun asal tempat bekerja diharapkan dapat mengenal satu sama lain dan menjalin pertemanan yang lebih erat pasca mengikuti kegiatan ngaleut ini, karena mungkin sesungguhnya interaksi social semacam inilah yang mempunyai nilai lebih dibanding bentuk interaksi social di masyarakat kita belakangan ini yang cenderung lebih senang berinteraksi jarak jauh via alat komunikasi ataupun dunia maya. Setelah melakukan perkenalan, disampaikanlah sedikit pengantar tentang sosok Soekarno dan Inggit Garnasih, awal mula kedatangan Soekarno ke Bandung dan sampai akhirnya bertemu dengan Inggit Garnasih.

Perjalanan kami dimulai dengan menyusuri jalan di samping Hotel Savoy Homann yang merupakan salah satu hotel yang mempunyai nilai historis bagi kota ini, kami lalu sampai di jalan Dalem Kaum lalu berbelok ke arah barat menuju arah alun-alun. Di kawasan ini banyak tempat untuk massage atau pijat dengan dekorasi yang menurut saya lebih mirip tempat hiburan malam dibanding dengan tempat untuk menjaga kesehatan tubuh. Bentuk dan dekorasi tersebut seolah-olah sedang menggoda lelaki siapa saja yang melintasinya untuk masuk dan memuaskan hasratnya. Entah dari sejak kapan bangunan-bangunan seperti ini muncul karena saya yakin pada awalnya kawasan ini merupakan sebuah kawasan yang sangat diagungkan dan dihormati, karena kawasan ini dahulu merupakan pusat pemerintahan kabupaten Bandung dan terlebih lagi di kawasan ini berdiri sebuah mesjid yang menjadi lambang dari sebuah keagungan dan kesucian, kalau saya memikirkan ulang tentang kawasan ini maka hanya akan menimbulkan kemirisan dan pertanyaan kenapa bisa para pembuat kebijakan tentang tata kota mengijinkan usaha-usaha semacam ini berdiri di sekitar mesjid Agung dan Pendopo Bandung yang dihormati.

Kami lalu berhenti di dekat jembatan yang terbentang di atas sungai cikapundung, disini kami membahas tentang sejarah kawasan dimana kami berdiri sekarang, mulai dari nama kawasan Regol yang merupakan perkampungan yang berada tepat di seberang kami. Regol yang kemungkinan namanya berasal dari kata Regal (Bahasa Belanda ; megah) yang dapat diartikan pula sebagai istilah untuk bangsawan, karena kawasan ini merupakan tempat tinggal bagi para abdi dalem atau pelayan bangsawan Bandung yaitu Bupati Bandung dan keluarganya, kawasan seperti ini terdapat pula di beberapa daerah lain, biasanya para abdi dan pelayan dibuatkan rumah mengelilingi rumah atau kantor dari bupati atau bangsawan tersebut. Selain regol kami pun membahas tentang penamaan Jalan Dalem Kaum yang tidak lain diambil dari julukan bagi Bupati Bandung ke VI yang sekaligus founding father nya Kota Bandung yaitu RAA Wiranatakusumah II. Julukan itu sendiri diberikan setelah RAA Wiranatakusumah wafat, beliau dimakamkan di belakang kauman (istilah untuk mesjid) maka dari itu beliau mendapat julukan Dalem Kaum. Dari tempat kami berdiri dapat disaksikan sebuah bangunan lama yang masih berdiri diatas aliran sungai Cikapundung, kami mengenal bangunan tersebut dengan nama Lido yang dahulunya merupakan toko furniture, mungkin bangunan tersebut menjadi satu-satunya bangunan di Kota Bandung yang berdiri di atas aliran sungai dan itulah yang menjadikannya unik.

Suasana Pembahasan Kawasan Regol, Dalem Kaum dan sekitarnya

Setelah membahas beberapa hal, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan ke arah barat lalu berbelok ke arah Jalan Balong Gede yang terletak di samping bangunan bekas bioskop Radio City atau bioskop Dian yang merupakan salah satu generasi pertama bioskop di Bandung, memang kawasan tersebut pernah menjadi kawasan bioskop dan tonggak perkembangan film di nusantara. Kami lalu menyusuri jalan balong gede dan berhenti sejenak di bagian belakang pendopo dan rumah dinas walikota bandung untuk sejenak mendengarkan keterangan tentang pendirian tempat tersebut yang sedikit banyak melibatkan sepenggal dari kisahnya Soekarno. Di dalam kompleks pendopo memang terdapat bangunan hasil rancangan dari Soekarno yang khas dengan ornament gada pada atapnya, entah apa yang hendak disampaikan Soekarno dengan memilih gada sebagai ciri khas bangunan-bangunan hasil rancangannya. Mungkin saja beliau ingin menunjukan keteguhan dan kekuatan karakter yang dimilki oleh beliau yang dilambangkan dengan gada tersebut.

Kawasan Belakang Pendopo

Di tempat kami berdiri ini  diceritakan pula tentang kisah seorang pejuang perempuan yang kemilaunya tersamarkan oleh kata “paling berjasa”, terus terang saya sendiri kurang menyukai kata “paling berjasa” ini karena setiap pejuang memiliki jasa dengan proporsinya masing-masing dan disadari atau tidak kata “paling berjasa” ini membuat jasa pejuang lain seolah terkubur waktu dan bukan tidak mungkin berujung pada pengkultusan seseorang. Sebagian besar masyarakat kita, mungkin termasuk saya masih memiliki mind set bahwa pejuang perempuan yang paling berjasa dalam hal emansipasi perempuan Indonesia adalah R.A Kartini, Memang Kartini memiliki peranan penting dalam perjuangan membela hak-hak kaum perempuan khususnya dalam bidang pendidikan, namun seharusnya kita juga mengangkat kisah-kisah perjuangan pejuang perempuan lainnya dengan lebih proporsional agar lebih akrab khususnya bagi siswa sekolah.  Pejuang yang kami bahas di tempat ini tak lain adalah Dewi Sartika, mungkin hampir semua dari kita familiar dengan nama Dewi Sartika, bahkan saya sendiri sempat bersekolah taman kanak-kanak yang memakai nama beliau sebagai nama institusinya, namun terus terang saya sendiri sangat sedikit mengenal tokoh ini karena seingat saya belum pernah diajarkan atau diperkenalkan secara detail selama saya di sekolah, atau mungkin memang saya saja yang tidak memperhatikan penjelasan dari guru.  Tapi yang pasti setelah saya mendapatkan keterangan tentang kisah perjuangan Dewi Sartika membuat saya sangat terkesan, ternyata jasa-jasa beliau sangatlah besar dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan terutama dalam bidang pendidikan, bahkan mungkin lebih nyata hasilnya dibandingkan dengan apa yang telah diperjuangkan Kartini. Salah satu kontribusi yang paling nyata adalah pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda.

Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910, menggunakan hartanya pribadi, sekolahnya diperbaiki lagi sehingga bisa lebih mememnuhi syarat kelengkapan sekolah formal.

Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.

Saya jadi berpikir kalau memang ada hari yang dikhususkan untuk mengenang RA Kartini dan dinamakan Hari Kartini lalu  kenapa tidak ada satu hari lain untuk mengenang Dewi Sartika.

Dewi Sartika

Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966.

Setelah puas bercerita kami lalu melanjutkan perjalanan ke arah pertokoan di kawasan kebon kalapa. Kemudian kami berhenti kembali di salah satu sudut pertokoan dekat persimpangan jalan dewi sartika dan jalan abdul muis atau lebih dikenal dengan jalan pungkur. Disini kami membahas tentang sepenggal kisah kehidupan Soekarno, di kawasan tersebut menyimpan beberapa jejak perjuangan dan kisah cinta Soekarno diantaranya adalah adanya rumah yang sempat menjadi tempat tinggal Soekarno dan Inggit Garnasih, rumah tersebut terletak dalam rangkaian rumah yang dikenal dengan “gedong dalapan” karena rumah-rumah dalam rangkaian tersebut berjumlah delapan rumah, konon Soekrano dan Inggit tinggal di rumah ketiga dari rangkaian gedong dalapan tadi, namun sayang tak ada sedikit pun yang tersisa dari gedong dalapan karena semuanya telah tergantikan oleh bangunan baru. Jalan di samping tempat kami berdiri pun konon adalah jalan yang sering dilewati oleh Soekarno ketika pulang pergi kuliah di THS (Technische Hoogeschool) yang sekarang menjadi ITB.  Konon juga di daerah ini adalah tempat berdirinya biro arsitek dimana Soekarno dan salah seorang sahabatnya Rooseno (seorang yang dikenal sebagai Bapak Beton Indonesia) meniti karier. Namun yang paling membuat saya tertarik adalah penjelasan tentang seorang tokoh yang namanya sekarang dijadikan nama resmi untuk jalan pungkur, yaitu Abdul Muis. Saya sendiri sebelumnya hanya sedikit mengetahui tentang sosok ini, beliau ternyata adalah seorang sastrawan dan wartawan yang cukup dikenal dan berjasa bagi Indonesia.

Abdoel Moeis

Abdoel Moeis (lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun) adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta akan tetapi tidak tamat. Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad pada tahun 1918 mewakili Centraal Sarekat Islam. Ia dimakamkan di TMP Cikutra - Bandung dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959).Beliau adalah salah satu yang aktif mengecam tulisan orang-orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia melalui tulisannya di harian berbahasa Belanda, De Express. Pada tahun 1913, menentang rencana pemerintah Belanda dalam mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis melalui Komite Bumiputera bersama dengan Ki Hadjar Dewantara.Pada tahun 1922, memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta sehingga ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat. Mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda dalam pendirian Technische Hooge School - Institut Teknologi Bandung (ITB). Beliau juga merupakan sastrawan yang cukup dikenal salah satu karyanya adalah Salah Asuhan (novel, 1928, difilmkan Asrul Sani, 1972),diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Robin Susanto dan diterbitkan dengan judul Never the Twain oleh Lontar Foundation sebagai salah satu seri Modern Library of Indonesia

Memang kita seringkali kita melewatkan hal-hal kecil yang sebenarnya menyimpan sebuah kebesaran dibaliknya.

Tujuan kami selanjutnya adalah rumah Inggit Garnasih yang terletak di Jalan Ciateul yang kemudian mempunyai nama resmi Jalan Inggit Garnasih. Untuk sampai ke jalan ciateul kami menyusuri jalan dewi sartika sebelah utara menembus terminal di samping ITC Kebon kalapa untuk kemudian sampai di salah satu bagian jalan Inggit Garnasih. Kami terus menelusuri Jalan tersebut dan pada akhirnya sampai di Rumah yang dahulu merupakan kediaman Soekarno dan Inggit Garnasih.

Rumah Inggit Garnasih di Jalan Ciateul atau Jalan Inggit Garnasih No. 8

Namun karena kami tiba di tempat tersebut terlalu awal, maka pintu gerbangnya pun masih terkunci, untuk itu kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu sambil menunggu bapak pemegang kunci dating. Cendol Elizabeth yang terkenal itu pun jadi tujuan kami melepas lelah dan memang tidak menyesal kami memilih tempat ini, disini makanan dan minumannya enak dan yang lebih penting lagi harganya pun tergolong bersahabat. Kami pun menghabiskan waktu disini dengan suasana yang santai dan akrab sembari menyantap pesanan masing-masing yang sangat menggoda.

Keakraban yang terjalin ketika melepas lelah

Sekitar satu jam kami menghabiskan waktu untuk melepas lelah dan sekitar tengah hari kami pun bergegas menuju rumah Inggit Garnasih yang memang menjadi tujuan utama kami. Sambil berjalan, dalam benak saya sudah terbayang akan banyak sekali cerita-cerita dahsyat yang akan ditemui tentang kisah cintanya Soekarno dan Inggit Garnasih.

-Bersambung-

sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Dewi_Sartika

http://id.wikipedia.org/wiki/Abdoel_Moeis

Foto diambil dari koleksi pribadi penggiat Komunitas Aleut

"Ketika ketulusan dan pengabdian merupakan sebuah pilihan yang disadari maka akan menjadi bagian dari cinta yang sejati, namun ketika keduanya hanyalah sebuah tradisi maka hanya akan menjadi ironi."

Siang itu cuaca Bandung memang terasa panas, mungkin inilah bagian dari yang orang-orang sebut global warming, tapi mungkin juga bisa disebut sebagai sebuah peringatan dari Tuhan karena kita seringkali lupa untuk memberikan sesuatu ketika kita telah mengambil sesuatu dari bumi ini. Tapi cuaca panas ini tidak menghalangi kami Komunitas Aleut untuk mencoba menggali sedikit tentang kisah dan pemikiran Soekarno dan Inggit Garnasih, rasanya akan sangat malu apabila hanya karena  panas seperti ini saja kita sudah mengurungkan niat sedangkan jaman dahulu Soekarno tak pernah kenal lelah menantang bukan hanya panas atau dinginnya cuaca bahkan menantang maut sekalipun beliau tak gentar. Begitupun dengan Inggit Garnasih dengan kesabarannya menerima segala tantangan bukan sekedar hanya panas dan dinginnya cuaca bahkan kegetiran hidup pun beliau hadapi.

Kali ini kami akan menggali cerita dua sejoli ini langsung dari salah seorang ahli waris Inggit Garnasih yaitu Tito Zeni Asmarahadi, beliau merupakan putra dari Ratna Djuami yang merupakan salah seorang anak angkat dari Inggit Garnasih dan Soekarno, memang seperti yang sudah diketahui oleh banyak orang bahwa Soekarno dan Inggit Garnasih tidak memiliki keturunan langsung. Rencana awalnya kami akan berbincang-bincang sekaligus melihat koleksi-koleksi peninggalan dari Inggit Ganarsih di dalam rumah kediaman Inggit Garnasih, namun karena yang memegang kuncinya berhalangan hadir jadi kami pun mengalihkan tempat berbincang ke teras belakang rumah tersebut. Karena kami yakin bukan masalah tempat yang akan membuat perbincangan ini penuh makna tapi isi dan orang-orang yang terlibat di dalamnya lah yang akan memberikan nilai lebih.

Perbincangan dimulai dengan cerita awal mula kedatangan Soekarno ke Bandung yang diceritakan oleh Pak Tito. Soekarno datang ke Bandung dengan tujuan melanjutkan pendidikannya, selepas beliau lulus dari HBS di Surabaya pada tahun 1921 beliau memutuskan untuk kuliah di THS (Technische Hoogeschool) karena pada saat itu THS merupakan satu-satunya universitas yang ada di Hindia Belanda. Teknik sipil adalah jurusan yang dipilih oleh Soekarno, yang di kemudian hari menjadi dasar beliau merancang beberapa bangunan. Sebelum ke Bandung Soekarno telah lebih dahulu menikah dengan Oetari yang merupakan puteri dari HOS Tjokroaminoto yang mempunyai jasa besar kepada Soekarno selama Soekarno tinggal di Surabaya, maka pernikahan Soekarno dengan Oetari disinyalir adalah bentuk rasa hormat dan balas jasa atas kebaikan ayahnya Oetari. Di Bandung, Soekarno dan Oetari dititipkan oleh HOS Tjokroaminoto kepada salah seorang rekannya yang bernama H.Sanoesi, H. Sanoesi adalah seorang pedagang kaya yang juga tokoh perjuangan dari Sarekat Islam. H.Sanoesi pada saat itu telah mempunyai istri yang bernama Inggit Garnasih keduanya tinggal di rumah yang terletak di Jalan Kebon Jati. Ketika tiba di Bandung, Soekarno dan Oetari ditawarkan untuk memilih tempat kos selain dari rumahnya H.Sanoesi namun Soekarno menolak dan lebih memilih rumah H.Sanoesi sebagai tempat tinggalnya selama di Bandung, seolah-olah hal tersebut memang telah menjadi sebuah suratan dari Yang Maha Kuasa yang nantinya bakal mengantar Soekarno ke dalam sebuah romansa yang tak terduga.

Inggit Garnasih lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Kab. Bandung, 17 Februari 1888, dari pasangan Ardjipan dan Amsi. Nama itu diberikan dengan penuh makna dan harapan, kelak menjadi anak yang hegar, segar, menghidupkan, dan penuh kasih sayang.
Pada usia 12 tahun Inggit sudah menikah dengan Nata Atmaja seorang patih di Kantor Residen Priangan. Perkawinan ini tidak bertahan lama dan beberapa tahun kemudian Inggit menikah lagi dengan seorang pedagang kaya yang juga tokoh perjuangan dari Sarekat Islam Jawa Barat, H. Sanoesi.

Seiring dengan jalannya waktu hubungan antara Soekarno dan Oetari ternyata tidak berjalan dengan baik, hal tersebut berujung pada keputusan Soekarno untuk menceraikan istri pertamanya tersebut dan mengembalikan Oetari kepada ayahnya. Selepas bercerai dengan Oetari, Soekarno praktis membutuhkan teman untuk berbagi keluh kesah atas semua persoalan yang dihadapinya, dan hal itulah yang membuat kedekatan anatara Soekarno dan Inggit mulai terjalin. H.Sanoesi pun melihat dan menyadari fenomena ini, namun entah apa yang terjadi H.Sanoesi dengan rasa ikhlas dan kebesaran hatinya rela untuk “menyerahkan” Inggit kepada Soekarno, hal yang mungkin mustahil terjadi pada saat ini atau bahkan pada saat itu sekalipun. Yang melandasi tindakan H.Sanoesi pada saat itu konon karena H.Sanoesi telah melihat bibit-bibit pemimpin besar pada diri Soekarno dan seorang pemimpin besar butuh wanita tangguh dibelakangnya, H.Sanoesi menganggap Inggit adalah sosok yang paling tepat untuk menjadi wanita tangguh tersebut.

Tak lama kemudian H.Sanoesi menceraikan Inggit, setelah melewati masa idahnya Inggit kemudian menikah dengan Soekarno pada tanggal 24 Maret 1923. Dalam surat nikah dicantumkan usia Soekarno 24 tahun, tapi yang sebenarnya baru 22 tahun (Soekarno lahir 6 Juni 1901), sedangkan usia Inggit tercantum 33 tahun, padahal yang sebenarnya telah 35 tahun (Inggit lahir 17 Februari 1888). Pengurangan jarak umur tersebut saya yakin bukan bertujuan untuk membohongi public melainkan bentuk saling pengertian dari keduanya untuk saling menjaga satu sama lain, karena saya yakin pada saat itu tak jauh berbeda dengan masa sekarang bahwa pasangan suami istri dengan jarak umur istrinya terpaut jauh lebih tua akan menimbulkan pendapat kurang baik dari masyarakat. Satu hal yang unik dan luar biasa dari pernikahan Inggit dengan Soekarno adalah adanya surat perjanjian yang berisi jika dalam waktu 10 bulan Soekarno menyakiti Inggit maka Soekarno wajib mengembalikan Inggit kepada H.Sanoesi, perjanjian yang mungkin kelihatan tidak lazim namun saya rasa hal ini merupakan bentuk kecintaan H.Sanoesi terhadap Inggit, walaupun dia telah merelakan Inggit namun H.Sanoesi tetap ingin menjaga Inggit dan surat perjanjian itulah yang menjadi jalannya.

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga suka dan duka dialami oleh pasangan Inggit dan Soekarno, bahkan mungkin lebih banyak dukanya dibandingkan dengan sukanya khususnya yang dialami oleh Inggit, salah satunya adalah kenyataan bahwa pasangan tersebut tidak pernah bisa mempunyai keturunan. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan tekad dari Inggit untuk tetap mendampingi Soekarno. Bahkan Inggit rela untuk bekerja keras mencari uang dengan membuat bedak dan jamu demi membiayai kuliah dan perjuangan Soekarno tanpa pernah mengeluh sedikit pun, mungkin agak terdengar konyol seorang wanita begitu rela membanting tulang berkorban untuk membiayai suaminya, tapi hal tersebut dilakukan bukan tanpa alasan, Inggit dengan penuh kesadaran dan keyakinan mengambil peran tersebut karena yakin bahwa Soekarno adalah sosok yang akan membawa Indonesia ke dalam alam kemerdekaan, dan untuk mewujudkan hal tersebut maka Soekarno perlu focus dalam perjuangan melawan penjajah sedangkan Inggit yang mengambil peranan sebagai pemenuh kebutuhan rumah tangga.  Jadi bisa dikatakan bahwa Inggit bukanlah hanya seorang wanita yang diperah habis segala apa yang dimilikinya demi kepentingan Soekarno tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya menajdi hak dia, melainkan Inggit adalah sosok seorang perempuan yang mempunyai visi yang ingin membentuk Soekarno menjadi seorang yang bisa memberikan harapan bagi bangsa Indonesia.

Bung Karno merangkul Inggit dan Ratna Djuami,
sementara kartika duduk diantara dua murid Soekarno yang salah satunya menikahi Ratna Djuami

Dalam perjalanannya mendampingi Soekarno, Inggit selalu all out ini bisa dilihat dari kesetiannya mendampingi suaminya itu ketika masa sulit yaitu diantaranya ketika Soekarno di tangkap dan dipenjara, ketika diasingkan ke Ende sampai ketika diasingkan ke Bengkulu. Inggit bisa menjadi sosok Ibu ketika Soekarno membutuhkan kasih sayang Ibu yang memang tidak didapatkan terlalu banyak oleh beliau ketika masih kecil. Inggit bisa menjadi sosok istri yang mengerti kebutuhan suaminya setiap saat. Inggit bisa menjadi sosok kawan ketika Soekarno membutuhkan sokongan dalam perjuangannya, hal ini bisa terlihat salah satunya ketika Soekarno dipenjara di penjara Banceuy dan akan menghadapi persidangan di Lansraad, dalam persiapan penyampaian pledoi yang kemudian hari dikenal dengan judul Indonesia Menggugat, Soekarno membutuhkan bahan dan literature yang hanya bisa didapatkan di luar penjara, maka dengan kecerdikan dan ketulusannya Inggit rela berpuasa tiga hari demi mengecilkan perutnya sehingga bisa disusupi buku dan bahan literature lain yang akan digunakan Soekarno.

Namun kisah kebersamaan Soekarno dan Inggit tidak berlangsung selamanya dan sampai akhirnya keduanya harus berpisah. Kejadian tersebut bermula ketika Soekarno dipindahkan tempat pengasingannya dari Ende ke Bengkulu pada tahun 1938-1942, di Bengkulu Soekarno bertemu dengan gadis setempat dan jatuh hati kepadanya, gadis tersebut bernama Fatma. Dengan alasan Inggit tidak bisa mempunyai keturunan maka Soekarno meminta izin kepada Inggit untuk menikahi Fatma untuk dijadikan istri kedua. Namun hal ini ditolak oleh Inggit dan Inggit lebih memilih bercerai dari pada harus dimadu, suatu hal yang menunjukan bahwa dibalik semua kelembutan, ketulusan dan kesetiannya tersimpan sebuah sikap yang memegang kuat prinsip, sebuah prinsip yang menjadi prinsip dari hampir semua wanita yaitu tidak rela kalau cinta dari yang dikasihinya terbagi. Dan dengan ketulusannya Inggit akhirnya merelakan Soekarno menikahi Fatma demi mendapatkan keturunan dan dengan ketulusannya pulalah dia rela bercerai dari Soekarno walaupun dia tahu hal ini berarti pula melepaskan sebuah harapan menjadi Ibu Negara. Sebuah ketulusan yang sangat luar biasa, ketulusan yang tak pernah mengharapkan balasan apapun dan dari siapapun bahkan mungkin dari Tuhan sekalipun. Mereka kemudian bercerai di pada tanggal 29 Feruari 1942 dan Inggit diserahkan kembali oleh Soekarno kepada H.Sanoesi namun bukan dengan tujuan untuk menikah kembali melainkan hanya untuk menjalin persaudaraan. Ada peribahasa Sunda yang Pak Tito sampaikan untuk menggambarkan kisah Inggit ini yaitu “Ka naraka katut turut, ka surgana henteu turut” (bahasa Indonesia ; ke neraka sempat ikut, namun ketika ke surga tidak ikut).

Setelah bercerai dengan Inggit dan kemudian menikahi Fatma, Soekarno tak lama berselang memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tepatnya pada tahun 1945 atau hanya berselang 3 tahun dari perceraiannya dengan Inggit. Hal inilah yang memunculkan sebuah istilah bahwa Inggit mengantarkan Soekarno ke pintu gerbang kemerdekaan, ya hanya mengantarkan sampai ke pintu tidak pernah masuk dan menikmati buah hasil dari perjuangan bersamanya tersebut. Setelah bercerai dengan Soekarno Inggit hidup sangat sederhana dan tetap berjualan bedak dan jamu untuk menghidupi keseharian bersama anak-anak angkatnya yaitu Ratna Djuami dan Kartika. Namun Inggit tak pernah sekalipun mengeluh atau menuntut kehidupan yang lebih baik kepada siapapun.

Status mungkin boleh saja menjadi mantan istri dan suami namun rasa cinta Inggit kepada Soekarno tak pernah lekang ditelan waktu, itu terbukti ketika Soekarno menjenguk Inggit yang tengah sakit, ketika itu Inggit berpesan kepada Soekarno bahwa baju yang dipakai Soekarno pada saat itu adalah pemberian dari rakyat, maka sudah sepantasnya lah Soekarno cinta kepada rakyat, sebuah pesan yang menunjukan bahwa Inggit sangat ingin Soekarno tetap sebagai sosok yang sempurna dan dicintai oleh banyak orang. Belum lagi ketika Soekarno wafat, Inggit yang ketika itu telah sangat renta hadir di Wisma Yaso untuk melihat lelaki yang dicintainya itu untuk yang terakhir kalinya, disana Inggit mengungkapkan rasa sayang untuk terakhir kalinya dengan kalimat  “Ngkus, geuning Ngkus teh miheulaan, ku Nggit didoakeun”(bahasa Indonesia ; Ngkus, ternyata ngkus mendahului, Nggit mendoakan) –Ngkus merupakan panggilan sayang Inggit untuk Soekarno-. Cinta Inggit kepada Soekarno memang luar biasa, suatu bentuk cinta yang sulit untuk mencari tandingannya.

Inggit ketika melayat jenazah Soekarno

Mudah-mudahan kisah Inggit dan Soekarno ini dapat menginspirasi dan menjadi bekal kita semua dalam menjalin hubungan dengan siapapun.

"Jika kita ingin mencari tandingan atas ketulusan matahari yang setia menyinari bumi, kita bisa melihat ketulusan dan kesetiaan Inggit Garnasih sebagai padanannya."

Sumber :

Obrolan dengan Bpk. Tito Zeni Asmara Hadi, putra Ratna Djuami & Asmara Hadi, cucu Inggit Garnasih, pada tanggal 30 Januari 2011.

http://rgalung.wordpress.com/2011/02/01/273/

http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/4437/inggit-garnasih-dan-batu-pipisan

http://rosodaras.wordpress.com/tag/inggit-garnasih/

Ngaleut yang dengan penuh penyesalan harus terlewatkan, tapi catatan ini sedikit mengobati. Belum ke Bandung kalo belum Ngaleut!

aditfebriansya:

Minggu 20 Maret besok Aleut! akan mengunjungi Dayeuh Kolot, untuk melihat sisa peristiwa Bandung Lautan Api.. bwt anggota Aleut harap bawa 5rb rupiah utk ganti print an materi, sedangkan yg mau daftar bawa 15 rb utk daftar dan materi.. Kita kumpul di Apotek Damai Jl. Buahbatu (sbrng Kartika Sari) jam 7.30 pagi.. konfirmasi ke 0857201048xx pake nama ya.. oiya yg mesen kaos udah ada tuh besok

Begitu pesan yang terpapar di dinding Facebook Komunitas Aleut, langsung pengen ngAleut soalnya udah bolos seminggu ga ngAleut (maklum mamah ngijinin ngAleut 2 minggu sekali).

Oke, minggu pagi setelah sholat subuh, saya siap siap mau berangkat ke tempat janjian dengan naik angkot (perdana yeuh ke Buahbatu make angkot sendirian). Pertama dari rumah naik Cimahi-Leuwipanjang sampe perempatan jl. Kopo lalu dilanjutkan pake angkot Cijerah-Ciwastra sampe jl. Buahbatu, dari situ kekeliruan dimulai, lantaran salah nanya saya malah naik angkot Kalapa-Buahbatu sampe jl. Moch. Ramdan da kata si sopirnya lewat apotik damai tempat kumpulnya, setelah sampai disana tidak ketemulah si apotiknya, lalu nanya-nanya lagi dan ternyata ada ditempat yang berlawanan arah, terpaksa jalan dan lari sampe tempat tujuan.

Foto : Depan Apotek Damai, Jl. Buahbatu

Sesampainya di apotik damai dengan hoshhoshan langsung disuruh ke rumah BR dan ternyata kaos Aleut! udah jadi! (y) langsung dipake ngAleut bajunya biar maching sama yang lain. Lalu Aleut! susur bekas peninggalan Bandung Lautan Api kita sebut BLA dimuai, pertama BR sama Kang Indra basa-basi dulu tentang latar belakang BAL tentang Moh. Toha yang meledakkan gudang mesiu milik Jepang di Dayeuh Kolot dan terjadi banyak pertumpahan darah saat BAL terjadi, lalu dilanjutkan dengan perkenalan karena ada anggota baru. Setelah basa-basi selesai Aleut! langsung caw ke Dayeuh Kolot dengan mem-booking angkot.

Sebelum ke Aleut! saya mau menjelaskan tentang Moh. Toha dan latar belakang terjadinya BAL dulu yang saya kutip dari Portopolio yang dibagiin saat kegiatan. Moh. Toha menurut isunya adalah pelaku peledakkan gudang mesiu milik Jepang yang di Dayeuh Kolot bersama Moh. Ramdan cs. Peledakan tersebut terjadi pada 10 Juli 1946 di pagi hari. Dikutip dari wikipedia, Moh. Toha lahir di jl. Banceuy, Desa Suniaraja, Bandung pada tahun 1927.

Latar belakang terjadinya Bandung Lautan Api dimulai ketika kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Jepang dan Belanda tidak mau kehilangan daerah jajahannya. Belanda pun membentuk NICA (Netherlands Indies Civil Administration) di bawah pimpinan Van der Plas di bawah tanggung jawab Inggris. Sementara itu, pihak sekutu yang memenangi PD II membentuk AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) yang terdiri dari pasukan Inggris yang bertugas antara lain:

  1. Menerima penyerahan kekuasaan dari Jepang,
  2. Membebaskan para tawanan perang (interniran) di Indonesia,
  3. Melucuti dan mengumpulkan tentara Jepang untuk dipulangkan ke negerinya,
  4. Menjaga perdamaian, dan
  5. membuat data tentang penjahat perang untuk kemudian diajukan ke pengadilan pihak sekutu.

Pemerintah Indonesia yang tidak mau terus dijajah oleh Belanda mengadakan berbagai perlawanan dengan membentuk laskar penjaga keamanan umum BKR (Badan Keamanan Rakjat) yang kemudian nantinya pada 27 Juni 1947 akan menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia). Selain laskar yang dibentuk Pemerintah sebagian pemuda membentuk badan-badan perjuangan yang militan lainnya, diantaranya : PRI (Pemoeda Repoeblik Indonesia), Angkatan Pemoeda Indonesia, Hizbullah, Angkatan Muda PTT, BRRI (Barisan Pemberontak Rakjat Indonesia), LASWI (Laskar Wanita Indonesia) dan lain lain.

Kedatangan Inggris di Bandung disusul dengan ultimatum pada 27 November 1945 agar penduduk pribumi harus segera pindah ke sebelah selatan rel kereta api dengan batas waktu sampai 29 November 1945, semua pelanggaran akan ditembak mati. Ultimatum ini  dilakukan dengan tujuan agar proses pembebasan tawanan perang dan pelucutan senjata dari Jepang berjalan lancar. Namun banyak pemuda yang membangkang dan akhirnya dibombandir oleh Inggris. Lalu terjadi chaos dimana pemuda Indonesia tidak bisa membedakan bule Inggris dan bule Belanda sehingga mereka pun turut memerangi Inggris yang sebenarnya dalam misi perdamaian sampai Inggris marah dan mengeluarkan ultimatum ke-2 pada 17 Maret 1946 melalui PM Sutan Sjahrir agar pasukan bersenjata RI mundur ke Bandung Selatan sampai radius 11 km dari pusat kota sampai batas waktu 24 Maret 1946. Bila tidak dipenuhi, maka Inggris akan membombandir Bandung bagian Selatan.

Awalnya pemuda menolak mundur ke selatan sampai terjadi perundingan antara Kol. A.H. Nasution (Komandan Divisi III), Mayjen. Didi Kartasasmita (Panglima Komandemen Jawa Barat), dan PM Sjahrir yang dilanjutkan dengan perundingan antara komandan laskar pejuang di Markas Divisi III diputuskanlah untuk menuruti ultimatum untuk mundur ke selatan. Setelah itu terjadilah peristiwa Bandung Lautan Api yang dimulai dari peledakan bangunan pertama yaitu Indische Restaurant (di lokasi gedung BRI sekarang) di Grootepostweg (Jalan Raya Pos) yang sekaligus menjadi kode untuk meledakkan bangunan-bangunan lainnya.

Yak, mari kita kembali ke Aleut!

Setelah sampai di Dayeuh Kolot kita mengunjungi Monumen Mohammad Toha di sebelah Markas Batalyon Zeni Tempur 3/YW. Monumen tersebut dibangun diatas tempat bekas gudang mesiu yang diledakkan Toha. Bekas ledakkan sangat besar dan saat ini digenangi air dan menjadi tempat pemancingan umum bagi warga sekitar. Di Monumen tersebut terdapat patung dada yang wajahnya dianggap sebagai Moh. Toha lalu di samping kanan Monumen terdapat tugu yang isinya nama pahlawan yang ikut berjuang pada saat Bandung Lautan Api.

Monumen Mohammad Toha

Foto : Aleut! dan Monumen Mohammad Hatta, Dayeuh Kolot

Dari Monumen Mohammad Toha kita lanjut ke Situs Makan Leluhur Bandung masih di Dayeuh Kolot. Sesampainya disana kita bertemu dengan kuncennya yang bercerita tentang makam-makam disana. Memang benar di sana terdapat makam Ratu Wiranatakusumah (Ratu disini maksudnya Raja), makam patih, dan bupati Bandung (CMIIW).

Foto : Aleut! di Situs Makam Leluhur Bandung, Dayeuh Kolot

Dari Situs Makam Leluhur Bandung kita lanjut ke Situs Rumah Adat Sunda Bumi Alit Kabuyutan di jl. Batukarut, Ds. Lebak Wangi, Kec. Anjarsari, Kab. Bandung dengan kembali mem-book angkot. Sebelum berangkat beberapa pegiat Aleut! mengisi perut dulu karena ada yang belum sarapan ternyata. Ternyata dari Dayeuh Kolot sampai Batukarut (Banjaran ke sana lagi) jauh banget, untung ga jalan kaki, bisa-bisa kakinya pada coplok lagi.

Sesampainya di Batukarut, kita langsung mengunjungi Situs Rumah Adat Sunda Bumi Alit Kabuyutan yang berada di sisi kanan jalan. Setelah bertemu dengan Kuncennya kita baru boleh memasuki Situs tersebut. Sang Kuncen bercerita banyak hal saat itu namun karena sudah tua suara yang dikeluarkannya sangat kecil, namun informasi tetap kami dapatkan karena BR menyimak semuanya, hingga Adzan Dzuhur berkumandang. Beberapa pegiat Aleut! sholat dulu karena sholat itu tidak boleh dinanti-nanti. Setelah sholat kita kembali menyimak Bapak Kuncen dan setelahnya kita berkeliling daerah Situs tersebut. Di dalam situs tersebut terdapat Rumah Adat Sunda yang dicat putih dan kita ga boleh memasukinya karena konon didalamnya ada pusaka-pusaka lambang kebesaran agama Islam.

Foto : Aleut! di Situs Rumah Adat Sunda Bumi Alit Kabuyutan berserta Bapa Kuncen, Batukarut, Kab. Bandung

Foto : Bapa Kuncen sedang diwawancara dan Rumah Adat Sunda (Cat Putih)

Perjalanan belum selesai, setelah dari Situs Rumah Adat Sunda Bumi Alit Kabuyutan kita lanjut ke Desa Cienteun (sekarang Desa Mekarsari) dengan menggunakan angkot. Desa Cienteun merupakan daerah bencana banjir yang menimpa daerah Dayeuh Kolot karena di sana terdapat muara sungai, atau tempat bertemunya dua sungai yaitu Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum, sehingga kalau terkena hujan pasti akan banjir. Banjir tersebut tidak tanggung-tanggung, ketinggiannya bisa mencapai 2,5 meter, bujubuneng.

Foto : Muara Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum, Dayeuh Kolot

Setelahnya kita langsung ke spot yang dapat melihat dengan jelas dimana Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum menjadi 1. Sungai yang sangat lebar dan panjang membawa ribuan kubik air siap banjir. Jadi inget kata BR waktu itu “sekarang banjirnya sudah bukan musiman lagi tapi udah bisa terjadi kapan saja” bener banget, melihat air yang begitu banyak terkena hujan bisa langsung meluap dan menggenangi rumah warga. Anehnya masih ada saja warga yang menetap di sekitar area luapan air, saya juga melihat di beberapa rumah warga pun sudah siap perahu untuk mengevakuasi diri saat banjir.

“Pemandangan yang menghanyutkan” ucap BR melihat perpaduan dua sungai tersebut.

Setelah puas memandangi muara sungai kita langsung caw lagi nih ke tempat finish menggunakan angkot. Tempat finishnya di jl. Buahbatu tepatnya di Cafe KupiGayo, langsung deh seperti biasa masing-masing pegiat menyampaikan kesan-kesannya selama perjalanan dan setelah beristriahat cukup masing-masing pegiat membubarkan dirinya masing-masing.

Oh 1 hal lagi, jalur-jalur yang kita lalui menggunakan angkot itu adalah jalur pelarian pribumi saat bombardir dilakukan, jalur Napak Tilas Bandung Lautan Api sebelum jalurnya dialihkan ke Tegalega (CMIIW).

Sampai ketemu lagi di Aleut! berikutnya :)

sumber :

  • Portopolio Ngaleut Bandung Lautan Api dan Mohammad Toha
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Toha
  • Narasumber (Kuncen Situs Makam Leluhur Bandung dan Kuncen Situs Rumah Adat Sunda Bumi Alit Kabuyutan)
  • Guide Aleut! 20 Maret 2011
  • Foto dari Mba Kuke :)

Tuliskanlah sesuatu! walaupun menurut kita tulisannya sederhana tapi siapa tahu memberikan dampak yang luar biasa.


Hari ini entah ada angin apa tiba-tiba saja ingin mencoba mulai menulis lagi, walaupun sebelumnya juga belum banyak tulisan yang ku tulis. Sebenarnya semangat menulis ini muncul lagi setelah membaca tulisan-tulisan seorang temanku, teman baruku, teman baru yang sebenarnya lama, baru berkenalan tapi telah lama ku dengar namanya dari temanku yang lain. Hampir semua tulisan dia di blognya kubaca habis dan menurutku tulisan-tulisannya menarik, mungkin karena dia menulis dengan gaya dia sendiri kali ya. Cara penyampaiannya khas dan isinya pun cukup berbobot, Terima kasih buat kamu yang telah menginspirasi untuk menulis lagi.

Hari ini terasa cukup special buatku, bukan karena mendapatkan belahan jiwa seperti yang selama ini kunanti-nanti (padahal itu juga yang masih diharapkan sampai sekarang hehe), tapi karena hari ini pertama kalinya aku menjadi pembicara di sebuah acara talkshow yang diselenggarakan oleh sebuah himpunan mahasiswa di UPI. Aku menjadi pembicara mewakili Komunitas Aleut, kayaknya bukan karena aku hebat dalam hal sejarah dan semacamnya tapi lebih karena hari ini orang-orang yang berkompeten di Komunitas Aleut punya kesibukan masing-masing yang lain, jadilah aku yang menjadi utusan Komunitas Aleut untuk jadi pengisi talk show tersebut. Judul yang diberikan oleh panitia menurutku lumayan berat yaitu “Metoda mengembangkan kota agar menjadi investasi arsitektur”, wow dari kata-katanya saja udah nyeremin nih, tapi setelah berkonsultasi sana-sini dengan pegiat Aleut yang lebih senior akhirnya diputuskan bahwa saya akan menyampaikan investasi kota ala Aleut! mau tahu seperti apa? mungkin akan saya tunjukan dulu slide yang tadi aku bawakan di talk show itu.

Nah, itulah slide-slide yang disampaikan pada talk show tadi, sebenarnya sih ga ada materi baku yang dimiliki oleh Komunitas Aleut untuk mengisi seminar-seminar atau talk show-talk show, semuanya adalah hasil interpretasiku selama bergabung dan berkegiatan bersama Aleut! dan ada juga yang diambil dari blognya Aleut!.

Pertama-tama aku menjelaskan tentang apa itu komunitas Aleut dan seperti apa kegiatan-kegiatannya. Lalu selanjutnya menjelaskan yang menjadi inti dari tema yang dibawakan oleh Aleut yaitu “Investasi Kota Ala Aleut”. Dari interpretasiku selama ini Komunitas Aleut telah berinvestasi dengan cara yang unik, dengan caranya sendiri, dengan Ala Aleut banget deh. Komunitas Aleut berinvestasi pasa sisi “manusia” yang merupakan elemen penting dari sebuah kota dan memposisikan sejarah dan cagar budaya sebagai sarana belajarnya. Saya beranggapan bahwa segala sesuatu yang bersifat material, misal : bangunan, situs-situs, benda-benda cagar budaya sifatnya hanya sementara dan tidak akan ada selamanya, hal-hal tersebut bisa saja tiba-tiba hilang baik itu karena dihilangkan dengan sengaja ataupun hilang karena ada faktor yang diluar kuasa manusia yang menghilangkannya. Maka Aleut! beranggapan dibutuhkan sesuatu yang lebih bisa bertahan lama dan bisa berkelanjutan, untuk itu Aleut dalam kegiatannya selama ini telah berinvestasi pada sisi ‘manusia’ Kota bandung, 3 hal yang dapat aku simpulkan dari kegiatan-kegiatan Aleut selama ini adalah :

1. Mengajak berpola pikir yang “ramah kota: dalam setiap kegiatan Aleut kita selalu diajak untuk bertindak dan berperilaku yang baik terhadap kota kita, misalnya tidak buang sampah sembarangan, menyebrang jalan pada tempat yang benar, berjalan kaki di tempat yang semestinya, dll. Hal-hal tersebut mungkin kelihatan sederhana dan sangat klise, mungkin telah berpuluh-puluh kali orang-orang menganjurkan untuk berbuat seperti itu, tapi disadari atau tidak dari hal-hal kecil tadi itu apabila dikerjakan secara konsisten akan memacu kesadaran-kesadaran lain yang sifatnya lebih besar dan lebih penting.

2. Belajar memaknai dan menghargai (perjalanan, tempat, orang dan setiap yang ditemui) : dalam setiap kegiatan Aleut! kita diajak untuk mencoba lebih menghargai dan memaknai setiap hal yang kita jumpai baik itu perjalanannya, orang-orangnya, tempat-tempatnya atau benda-benda lain yang ditemui, dengan cara itulah maka setiap pegiat Aleut! akan memiliki interpretasi yang bermacam-macam mengenai sebuah kegiatan yang akan memperkaya pengetahuan pegiat Aleut! sevara keseluruhan. Dan dengan memaknai dan menghargai pula kita bisa menemukan sesuatu yang mungkin kelihatannya kecil namun menjadi sesuatu yang luar biasa karena kita telah memaknainya.

3. Mengajak berbuat sesuatu : tak cukup hanya tahu, berbuatlah sesuatu: Dalam setiap kegiatannya, Aleut mengajak semua pegiatnya agar bisa melakukan sesuatu yang “riil”, tidak harus besar dan luar biasa bentuknya tapi bisa dengan melakukan hal-hal kecil yang bisa dilakukan, hal yang paling sering dicontohkan adala “menulis”. Menulis merupakan hal yang biasa dilakukan pegiat Aleut! setelah melakukan sebuah kegiatan, menulis bisa bentuknya apa saja, bisa menulis artikel, menulis catatan perjalanan, menulis puisi, menulis cerpen atau apapun yang bisa ditulis. Disadari atau tidak dengan cara seperti itu pegiat Aleut telah melakukan sesuatu yang riil, karena tulisan bisa mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama ataupun memberikan gagasan kepada orang tersebut. Menulis bisa menciptakan sebuah sejarah baru, karena inti dari sejarah adalah tulisan. Dan memamng menurutku disamping kita belajar tentang sejarah-sejarah yang telah lampau kita seharusnya menciptakan sejarah untuk masa depan, “create your own history” tentunya melalui tulisan salah satunya.

Itulah kira-kira inti yang tadi aku sampaikan pada talkshow di kampus UPI sore ini. sebenarnya sebagian merupakan interpretasiku sendiri, hasil dari semua yang aku peroleh selama ini di Komunitas Aleut, kalo meminjam istilah temanku “hasil endapan dari jeda yang telah dilakukan selama ini”.  

Sebenarnya ada satu hal lagi yang tidak ada di slideshow yang tadi aku sampaikan yaitu Komunitas Aleut mengajak untuk lebih peka dan peduli pada lingkungan sekitar kita, kalo dalam istilah bisnis “Think Globally Act Locally” atau dalam peribahasanya adalah “dimana bumi dipijak disana langit dijunjung”. Dan saya rasa ajakan ini merupakan suatu hal yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang, dimanapun kita berada cobalah kenali keadaan sekitar lalu berkontribusilah terhadapnya. Apabila semua orang telah melakukan hal ini, saya rasa pemerintah akan sangat ringan sekali tugasnya, karena masyarakatnya telah dengan sukarela mengurusi dirinya dan sekitarnya.

Semoga saja kita bisa mewujudkan semua hal yang tadi telah dituliskan, karena aku yakin mewujudkannya tidak akan semudah mengucapkan dan menuliskannya. Tapi kalo kita berusaha, apa sih yang ga bisa?

tak cukup hanya tahuberbuatlah sesuatu!

Belum Ke Bandung Kalau Belum Ngaleut!


sumber :

http://aleut.wordpress.com/about/

Intrepretasi pribadi terhadap kegiatan Komunitas Aleut!

Foto-foto koleksi Komunitas Aleut!


Hari Minggu 5 Juni 2011, Bandung seolah-olah dihujani dengan “keramaian”. Berbagai aktivitas mulai dari kegiatan-kegiatan memperingati hari lingkungan hidup sedunia, kegiatan rutin car free day atau yang sekedar jalan-jalan menghabiskan libur panjang. Kebetulan aku menjadi bagian dari salah satu aktivitas tersebut yaitu kegiatan memperingati hari lingkungan hidup sedunia. Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan perayaan-perayaan semacam ini apalagi kalo ujung-ujungnya hanya sekedar ceremony saja, menurutku hari lingkungan hidup sedunia itu harusnya kita rayakan setiap hari, karena memang untuk menjaga bumi kita itu tidak cukup hanya dilakukan sekali dalam satu tahun. Namun, setelah melalui pengkajian lebih lanjut, perayaan seperti ini perlu juga untuk lakukan sebagai pengingat, sebagai penyemangat, ataupun sebagai pengajak pada publik yang lebih luas. 

Flyer Baladkuring Bebeja

Peringatan hari lingkungan hidup sedunia kali ini  di”organized” oleh teman-teman Baladkuring bersama BPLHD dan pihak-pihak lain yang peduli terhadap lingkungan, tema tahun ini adalah “hutan sebagai penyangga kehidupan”, untuk itu kami memutuskan untuk menamakan acara ini sebagai BALADKURING BEBEJA (Bebenah Jawa Barat) : Hutan sebagai penyangga kehidupan. Bebeja sendiri berasal dari kata dalam bahasa sunda yang berarti memberitahukan, karena memang salah satu tujuan dari acara ini adalah untuk memberitahukan kepada masyarakat tentang arti penting dari hutan. Acara bebeja ini terdiri dari beberapa rangkaian acara yaitu bersepeda, yoga dan menanam pohon. Komunitas Aleut! ikut berpartisipasi dalam acara Baladkuring Bebeja tersebut dengan cara Aleut! tentunya yaitu dengan ngaleut! Tahura (taman hutan raya) Djuanda.

Terminal dago tempat berkumpul Aleut!

Ngaleut kali ini dimulai dengan berkumpul di terminal dago yang merupakan spot langganan apabila kita ngaleut ke kawasan dago. Waktu berkumpul yang ditentukan adalah pukul 07.00 WIB namun semua peserta ngaleut! baru berkumpul sekitar jam 8 pagi. Setelah semua berkumpul kami memulai perjalanan dengan menaiki angkot sewaan menuju Tahura dan rencananya dilanjutkan ke warung bandrek. Tak berapa lama kami tiba di Tahura dan langsung ke venue utama untuk berkoordinasi dengan panitia.

Venue acara Balad Kuring bebeja. foto 1 : Komunitas Aleut di depan patung Juanda. foto 2 : peserta acara sedang beryoga.

Venue utamanya terletak di area sekitar patung Ir.H. Juanda. Namun siapakah Ir.H.Juanda? mungkin dari kita ada yang belum tahu atau lupa terhadap beliau, berikut profil singkatnya :

Ir. R. Djoeanda Kartawidjaja (ejaan baru: Juanda Kartawijaya) lahir di TasikmalayaJawa Barat14 Januari 1911 – meninggal di Jakarta7 November 1963 pada umur 52 tahun adalah Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir. Ia menjabat dari 9 April 1957 hingga 9 Juli 1959. Setelah itu ia menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I.

Sumbangannya yang terbesar dalam masa jabatannya adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI atau dikenal dengan sebutan sebagai negara kepulauan, dalam konvensi hukum laut United Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS).

Namanya diabadikan sebagai nama lapangan terbang di SurabayaJawa Timur yaitu Bandara Djuanda atas jasanya dalam memperjuangkan pembangunan lapangan terbang tersebut sehingga dapat terlaksana. Selain itu juga diabadikan untuk nama hutan raya di Bandung yaitu Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, dalam taman ini terdapat Museum dan Monumen Ir. H. Djuanda.

Djuanda wafat di Jakarta 7 November 1963 karena serang jantung dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. 

Kami hanya sekitar 15 menit berada di venue acara, karena harus melanjutkan perjalanan yang masih sangat jauh. Kami recananya akan naik angkot menuju warung bandrek, namun belum juga keluar dari komplek tahura tiba-tiba ban angkot yang kami naiki kempes dan terpaksa kami pun turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Memang Komunitas Aleut! ditakdirkan untuk berjalan kaki nampaknya. 

pintu masuk II tahura, dari sinilah perjalanan dimulai.

Kami mulai berjalan kaki dari pintu II Tahura lalu berbelok ke jalan Bukit Pakar Utara dan terus menelusuri jalan itu, menaklukan tanjakan demi tanjakan, mencoba tidak mempedulikan peluh dan terik yang mengahadang. 

kondisi jalan yang harus ditempuh

Di tengah perjalanan kami berhenti di sebuah bangunan yang sudah tidak ditempati lagi untuk beristirahat sejenak dan berfoto-foto.

tempat beristirahat

Setelah sejenak beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Beberapa lama kemudian, kami tiba di sebuah warung yang berada di kampung negla, dan karena kondisi kami yang kelelahan setelah melahap beberapa tanjakan yang cukup ekstrim, kami pun memutuskan untuk beristirahat kembali. 

suasana istirahat di warung kampung negla

Sambil beristirahat, kami melakukan acara perkenalan. Acara perkenalan yang cukup terlambat sebenarnya, hal ini dikarenakan ada perubahan rencana yang semula akan ngangkot menuju warung bandrek kemudian melakukan perkenalan disana, tapi karena tidak memungkinkan maka kami berjalan kaki dan baru melakukan perkenalan di warung negla ini.

Setelah cukup beristirahat dan melakukan perkenalan, kami melanjutkan perjalanan menuju warung bandrek yang lagi-lagi medannya cukup berat yaitu tanjakan demi tanjakan. Walaupun berat namun semuanya tidak begitu terasa, mungkin karena kami berjalan bersama-sama sehingga beban yang dirasa pun terasa berkurang.

Tak terasa kami pun akhirnya tiba di warung bandrek yang cukup terkenal di kalangan pesepeda, karena warung bandrek ini merupakan salah satu tujuan favorit pesepeda yang ingin menjajal track pegunungan di Bandung. Warung ini dinamakan warung bandrek mungkin karena menyajikan minuman bandrek sebagai jajanan favoritnya yang memang rasanya cukup bisa merefresh tenaga setelah menempuh perjalanan yang melelahkan.

Bandrék adalah minuman tradisional Indonesia yang populer di Jawa Barat, yang dikonsumsi untuk menaikkan kehangatan tubuh. Minuman ini biasanya dihidangkan pada cuaca dingin, seperti di kala hujan ataupun malam hari. Bahan dasar bandrék yang paling penting adalah jahe dan gula merah, tapi daerah-daerah tertentu menambahkan rempah-rempah tersendiri untuk memperkuat efek hangat yang diberikan bandrék, seperti seraimericapandan,telur ayam kampung, dan sebagainya. Susu juga dapat ditambahkan tergantung dari selera penyajian. Banyak orang Indonesia percaya bahwa bandrék dapat menyembuhkan penyakit ringan seperti sakit tenggorokan. Ada juga bandrék yang dikhususkan untuk orang dewasa karena efek panasnya.


 

suasana warung bandrek

Setelah puas menikmati jajanan di warung bandrek, kami pun melanjutkan perjalanan. Kali ini kami melalui sebuah perkampungan yang bernama Sekejolang. Seke sendiri dalam bahasa sunda berarti mata air dan jolang adalah sebuah wadah besar tempat menampung air. Di perkampungan ini kami sempat nyasar dan menemui jalan buntu, namun atas bantuan penduduk setempat kami bisa menemukan jalan yang dituju. Selepas perkampungan ini kami memasuki kawasan hutan dengan jalan tanah yang becek dan licin, maka kami pun harus lebih berhati-hati melaluinya. Pemandangan di dalam kawasan hutan ini sangat indah, udaranya pun segar dan terdengar suara-suara hewan dan percikan aliran sungai cikapundung, benar-benar kombinasi yang sempurna. 

kondisi jalan di kawasan hutan.

Setelah berjuang cukup keras menaklukan jalan hutan yang licin dan menurun kami tiba di jembatan yang merupakan perbatasan kawasan tahura dago dan maribaya. di sini kami beristirahat untuk berfoto-foto dan melakukan diskusi kecil tentang perjalanan kali ini. Bang Ridwan (BR) menjelaskan beberapa hal tentang kawasan tahura dan sekitarnya. Mulai dari nama-nama kampung yang ada di sekitar kawasan tahura yaitu diantaranya kampung kordon, saya pun penasaran dengan asal mula penamaan kampung ini karena di bandung setidaknya ada dua nama kampung kordon, kemudian BR menjelaskan sedikit tentang hal ini dan menyuruh untuk melihat tulisannya yang ada di blog, dan inilah tulisannya :

Paling tidak ada dua nama tempat Kordon yang cukup populer di Bandung, satu di atas kawasan Dago dan satu lagi di sebelah timur Buahbatu. Dalam kamus Inggris, cordonberarti garis atau lingkaran penjaga. Mungkin kata ini bentukan dari cord yang berarti kawat, kabel atau pita. Kata cordon juga dapat dipakai untuk kata kerja seperti dalam cordoned off yang artinya menutup dengan penjagaan ketat. Sedangkan kamus Belanda menerangkan kordon sebagai garis pelindung atau garis pertahanan.

Masih ingin berspekulasi lebih lanjut, berbatasan dengan wilayah Kordon di Buahbatu terdapat nama daerah Tegal Luar yang dulu berbatasan dengan Ciparay. Kedua tempat dengan nama Kordon ini memiliki dam dengan pintu air dan terletak agak jauh dari pusat kota. 

Kemudian BR menjelaskan sedikit tentang sejarah Tahura, dan lagi-lagi BR menyuruh untuk membaca tulisannya tentang tahura, dan inilah tulisannya :

Taman Hutan Raya Juanda merupakan taman terbesar yang pernah dibangun oleh pemerintah Hindia-Belanda berbentuk hutan lindung dengan nama Hutan Lindung Gunung Pulosari. Perintisan taman ini mungkin sudah dilakukan sejak tahun 1912 berbarengan dengan pembangunan terowongan penyadapan aliran sungai Ci Kapundung (kemudian hari disebut sebagai Gua Belanda), namun peresmiannya sebagai hutan lindung baru dilakukan pada tahun 1922.

Sebagai taman hutan raya, maka Hutan Lindung Gunung Pulosari ini merupakan taman hutan raya yang pertama didirikan di Hindia-Belanda. Pada tahun 1965 taman hutan raya ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat waktu itu, Brigjen. H. Mashudi, sebagai Kebun Raya atau Hutan Rekreasi. Baru pada tanggal 14 Januari 1985 taman hutan diresmikan oleh Presiden Soeharto sebagai Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Tanggal peresmian ini memang bertepatan dengan hari kelahiran Pahlawan Kemerdekaan, Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, seorang tokoh nasional yang pernah memangku 18 jabatan menteri dalam rentang waktu antara 1946-1963.

suasana diskusi dan foto di jembatan perbatasan maribaya

BR lalu menceritakan bahwa sampai tahun 70-an kawasan maribaya merupakan salah satu kawasan favorit untuk tujuan wisata di Bandung, hampir semua turis lokal maupun mancanegara minta diantarkan ke tempat ini, namun kondisi sekarang sangat jauh berbeda dengan kondisi waktu itu, sekarang maribaya sudah kumuh dan tidak lagi menarik bagi wisatawan. Mungkin ini harus menjadi renungan dan “pekerjaan rumah” bersama dalam menjaga aset yang kita punya, tidak hanya maribaya, karena saya yakin berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tempat wisata yang menjadi aset kita kondisinya serupa dengan maribaya. BR juga menceritakan tentang aliran sungai cikapundung yang berhulu di Gunung Bukit Tunggul Lembang, saya jadi tertarik untuk menelusuri Gunung bukit tunggul dan hulu sungai cikapundung, mungkin Aleut! bisa kesana suatu saat nanti.

Setelah puas berdiskusi kita melanjutkan perjalanan menelusuri kawasan hutan raya menuju arah dago yang katanya jaraknya kurang lebih 5 km, sebuah jarak yang cukup menciutkan nyali namun ternyata tidak begitu terasa apabila kita menajalaninya apalagi jika  bersama-sama. Rencananya kami ingin menelusuri sebuah batu yang terbentuk dari lipatan lava hasil letusan gunung tangkuban parahu yang bentuknya unik sepeti bentuk daun tanaman pakis, namun sayang kami tidak berhasil menemukannya karen lokasi nya yang cukup tersembunyi di tengah-tengah sungai cikapundung dan jalan setapak menuju kesana katanya lumayan curam dan licin. 

Di tengah perjalanan menuju dago tepatnya di sebuah saung yang cukup luas kami bertemu dengan beberapa orang yang cukup kami kenal, mereka merupakan kelompok riset cekungan Bandung (KRCB) yang memang telah sering berinteraksi dengan komunitas Aleut!, kita berhenti untuk beristirahat sambil diskusi santai dengan kelompok tadi, disana kami diperkenalkan dengan Pak Ganjar yang merupakan salah satu staff dari tahura yang mengenal banyak sekali koleksi tanaman di tahura ini dan kami pikir inilah kesempatan untuk belajar tentang tanaman lebih mendalam.

suasana diskusi dengan KRCB

Akhirnya kami memutuskan untuk bergabung dengan perjalanan KRCB untuk belajar mengenal berbagai tanaman, sepanjang perjalanan kami belajara mengenal banyak sekali tanaman diantaranya : pohon kaliandra, pohon kondang, pohon binar, pohon johar, pohon hampelas, pohon kiciat, harendong dll. saking banyaknya saya pun lupa sebagian nama tanaman karena memang tidak dicatat, satu pelajaran yang bisa diambil : lain kali bawa catatan setiap kali ngaleut!. Banyak sekali dari nama-nama tanaman tersebut menjadi nama daerah, dan mempunyai ceritanya masing-masing, dari sini saya mendapatkan pelajaran baru bahwa setiap nama itu punya cerita, hampir setiap nama yang diberikan kepada tempat atau manusia atau apapun itu saya yakin tidaklah dengan kebetulan atau asal saja, melainkan selalu ada cerita, harapan atau maksud tertentu”

 Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengan Pak Ganjar ini untuk menanyakan sebuah pertanyaan yang belum menemukan jawabannya selama ini, yaitu kenapa di sunda banyak sekali nama pohon yang awalan namanya memakai “ki” ? seperti : Kiciat, kihoe, kimerak, dll. Dan saya akhirnya mendapatkan jawabannya, kata Pak Ganjar “ki” itu merupakan kependekan dari :”kai” (bhs. Indonesia : kayu) seperti halnya “ci’ yang berasal sari “cai” . 

Pak Ganjar menjelaskan tentang tanaman

Setelah beberapa lama berjalan kami tiba di kawasan kolam penampungan air yang di bangun Belanda untuk digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga air yang alirannya nanti akan melalui gua belanda. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Gua Belanda dan Gua Jepang dan berikut adalah sejarah kedua gua tersebut yang ada pada tulisannya BR :

 Gua Belanda mulai dibangun pada tahun 1912 dengan membobol bukit di sisi aliran sungai Ci Kapundung. Fungsi awalnya adalah sebagai saluran penyadapan aliran sungai untuk keperluan pembangkit tenaga listrik. Tahun 1918 tampaknya ada perubahan atau penambahan fungsi gua karena di dalam gua ditambahkan ruang-ruang dan cabang lorong hingga panjang keseluruhan gua mencapai 547 meter. Tinggi mulut gua 3,2 meter dan jumlah cabang lorong 15 buah. Beberapa ruang tampak seperti ruang tahanan. Setelah terjadinya perubahan fungsi, maka dibuatlah jalur air yang baru menggunakan pipa-pipa besar yang ditanam di bawah tanah kawasan Tahura. Kemungkinan Belanda juga menjadikan gua ini sebagai tempat penyimpanan mesiu. Saat masuknya tentara Jepang, Belanda sempat menggunakan gua ini sebagai Pusat Telekomunikasi Militer Hindia-Belanda bagi tentaranya.

 Pada masa penjajahan Jepang, fungsi gua sebagai gudang penyimpanan senjata dan mesiu dilanjutkan sambil menambahkan gua-gua baru lainnya di dekatnya (1943-1944) yang belakangan disebut sebagai Gua Jepang. Untuk membangun gua ini, Jepang menerapkan kerja paksa (romusha) pada penduduk saat itu. Gua-gua ini kemudian juga menjadi tempat pertahanan terakhir Jepang di Bandung. Setelah kemerdekaan RI gua-gua ini tidak terperhatikan dan baru ditemukan kembali pada tahun 1965 dengan kondisi tertutup alang-alang dan tetanaman yang lebat. Saat itu di dalam gua banyak didapati amunisi bekas tentara Jepang pada masa Perang Dunia II. Sejak ditemukannya, Gua Jepang masih berada dalam kondisi aslinya sementara Gua Belanda sudah mengalami 3 kali perbaikan.

Gua Belanda

Setelah melewati kawasan gua jepang, kami akhirnya tiba kembali di kawasan depan tahura dago, namun bertepatan dengan itu pula hujan mengguyur seolah tak ingin ketinggalan berpartisipasi meramaikan hari lingkungan hidup sedunia ini. Kami memutuskan untuk berteduh sejenak sambil membeli jagung bakar dan roti di warung yang ada di areal tahura.

Setelah hujan reda, kami melanjutkan dengan sholat Dzuhur dan istirahat sejenak dikawasan kantor pengelola tahura. Sambil menunggu teman-teman yang belum selesai sholat kami berbincang-bincang kembali dengan Pak Ganjar, kali ini kita berdiskusi tentang temuan-temuan baru yang baru-baru ini ditemukan di tahura dan hal-hal baru yang kemungkinan terdapat di tahura. Diskusi yang sangat menarik dan bikin penasaran untuk menelusuri tahura lebih jauh dan dalam, namun sayang kami harus melanjutkan perjalanan karena hari mulai beranjak sore.

Kami melanjutkan perjalanan menuju situs makam cibitung yang sempat diceritakan oleh Pak Ganjar, lokasi situs makam ini berada di kampung cibitung di sekitar kawasan tahura, namu kami belum tahu persis dimana lokasinya. Dengan rasa penasaran kami yang besar yang sampai-sampai mengalahkan rasa lelah kami pun menelusuri mencari situs tersebut. Kami menempuh tangga-tangga yang licin kemudian tangga-tangga yang menanjak, menemukan mata air yang sangat jernih lalu melalui jalan tanah yang becek dan sempat pula beberapa kali salah jalan. Namun akhirnya dengan perjuangan yang tiada henti, kami menemukan situs makam tersebut, namun sayang tidak ada informasi yang bisa kami dapat tentang siapa yang dimakamkan disitu karena memang tidak ada kuncen yang menjaga, hanya ada makam, pohon-pohon besar dan sisa-sisa bangunan yang menyerupai benteng yang entah apa fungsinya. 

makam di kampung cibitung

Setelah dari makam tersebut kami pun melanjutkan perjalanan menuju PLTA Bengkok, namun di tengah perjalanan kami menemukan satu lagi penampungan air yang di bangun oleh Belanda demi keperluan PLTA yang sekarang sudah tidak digunakan lagi.

Komunitas Aleut! di dekat penampungan air.

Kami akhirnya tiba di kawasan atas PLTA bengkok, disini kita bisa melihat pipa-pipa raksasa yang mengalirkan air dari kawasan tahura ke PLTA sebagai pembangkit listrik, kebetulan disini terdapat warung, kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak untuk mengisi perut yang memang mulai keroncongan. Sensasi makan di atas pipa-pipa raksasa sambil memandang pemandangan dago dari ketinggian memang luar biasa, sehingga makanan yang cuma mie rebus pun terasa sangat istimewa. 

pipa raksasa PLTA Bengkok 

Setelah beristirahat dan mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan ke spot terakhir yang menjadi tujuan ngaleut kali ini yaitu PLTA Bengkok.

PLTA pertama yang dibangun di aliran Sungai Ci Kapundung adalah Waterkracht werk Pakar aan de Tjikapoendoeng nabij Dago (PLTA Pakar, belum jelas di mana lokasinya). Produknya adalah tenaga listrik yang didistribusikan ke rumah-rumah di Bandung dan sekitarnya olehBandoengsche Electriciteit Maatscappij. PLTA yang masih ada saat ini adalah PLTA Bengkok yang sudah beroperasi sejak tahun 1922. Gedung yang masih berdiri sekarang dibangun tahun 1923 dan di dalamnya masih dapat ditemukan mesin-mesin buatan tahun 1922, di antaranya mesin pendingin Ceber-Stroco Henegelo dan generator Smit Slikkerveer.

Untuk menggerakkan turbin di PLTA ini, air Sungai Ci Kapundung dialirkan melalui saluran khusus yang kemudian ditampung di kolam pengendapan lumpur dan kolam penenang di kawasan Tahura Ir. H. Djuanda (dibangun tahun 1918). Kolam ini sering disebut dengan Kolam Pakar. Melalui pintu pembuang, air memasuki suatu saluran dan menuju pipa pesat sepanjang ± 500 m (tinggi jatuh air sekitar 104 meter) dan kemudian dijadikan pembangkit generator. Listrik yang dihasilkan lalu disalurkan untuk rumah-rumah orang Belanda yang berada di daerah Bandung Utara.

Sejak tahun 1920, pengelolaan distribusi listrik ditangani olehGemeenschappelijk Electrisch Bedrift Bandoeng en Omstreken atauG.E.B.E.O. (kemudian menjadi PLN). Menurut salah seorang mantan pekerja di Radio Malabar di Gunung Puntang, pembangunan pembangkit listrik di utara Bandung ini juga difungsikan untuk menambah pasokan kebutuhan listrik dalam mengoperasikan stasiun pemancar Radio Malabar.

Selain PLTA Bengkok, di tempat terpisah di kawasan ini juga terdapat PLTA Dago yang selain berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik juga untuk memenuhi kebutuhan PDAM.

PLTA Bengkok

Dari PLTA Bengkok kita melanjutkan perjalanan pulang menuju terminal dago, dan sebelum pulang kita berhenti sejenak untuk memberikan bebrapa informasi. Sharing yang menjadi menu wajib setiap kali ngaleut akhirnya diputuskan via online saja melalui FB Komunitas Aleut! dikarenakan kondisi badan yang sudah tidak mendukung dan hari yang sudah senja. Dan sekitar pukul 17.00 WIB akhirnya ngaleut! kali ini selesai dan para pegiat Aleut! pulang ke tempatnya masing-masing.

Beberapa foto keindahan tahura :

Foto karya Yandi Dephol 


Sebuah perjalanan yang sangat menarik, berjalan jauh, belajar tentang tanaman, tersesat, menemukan hal baru, dapet teman baru, dapet pelajaran baru. cape tapi super seru!!! Semoga saja dengan lebih mengenal alam dan lingkungan, kita lebih tergugah untuk menjaganya.

Belum ke Bandung kalo Belum Ngaleut!

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Djoeanda_Kartawidjaja

http://aleut.wordpress.com/category/taman-hutan-raya-djuanda/

http://rgalung.wordpress.com/2011/02/07/aleut-berbagi-cerita-06-02-11/

http://id.wikipedia.org/wiki/Bandrek

Sumber foto :

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.2076635125431.126629.1531574635

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1945977841744.2109680.1011473467

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1865412229117.2102237.1055356878

rikpratama:

Dalam sebuah wawancara Komunitas Aleut di PRFM tempo hari, salah seorang pegiat Aleut mengatakan bahwa yang penting dalam sejarah bukanlah mengingat tanggal dan tokoh sejarah melainkan bagaimana memgapresiasi sejarah tersebut. Saya sangat setuju dengan pernyataan ini. Lagipula mengingat adalah tahapan terendah dari sebuah pencapaian pembelajaran.

Rekan-rekan pendidik atau mahasiswa Bidang Pendidikan tentu mengenal ada 3 tahapan pencapaian pembelajaran yang kita kenal sebagai taksonomi Bloom yaitu Kognitif, Afektif dan Psikomotor. Setiap tahapan ini juga terbagi kembali menjadi tahapan-tahapan lain sehingga kita kenal C1,C2 dan seterusnya. Seingat  saya, mengingat  berada pada ranah C1 ini berarti mengingat adalah sebuah pencapaian terendah dalam aspek Kognitif.

Bagi teman-teman yang kurang paham tentang aspek ini saya jelaskan secara singkat. Sederhananya Kognitif = OTAK, Psikomotor=OTOT dan Afektif = RASA. Aspek kognitif meliputi hal mengingat, memahami, menganalisa dan sebagainya sedangkan Psokomoto berkaitan dengan perbuatan nyata atau fisik dan Afektif berarti dilakukan scara non fisik seperti rasa,hasrat, moral dan lainnya.

Ketiga aspek ini sama pentingnya, setiap pelajaran juga perlu memiliki ketiga aspek ini tapi menurut saya setiap pelajaran memiliki aspek yang lebih dominan. Matematika misalnya, menurut saya aspek kognitif lebih harus dikedepankan dalan pelajaran ini karena pelajaran ini bertujuan untuk mengasah logika dan pemahaman siswa akan sebuah konsep, begitupula halnya dengan fisika dan lainnya. Smentara pelajaran Penjas tentu harus lebih menekankan aspek psikomotor karena pelajaran ini bertujuan untuk mengasah kemampuan jasamani siswa. Dan beberapa pelajaran  perlu menonjolkan aspek afektif, bahkan setiap pelajaran seharusnya tidak melupakan aspek ini .

Seni budaya misalnya seharusnya yang ditekankan bukan bagaimana siswa bisa melakukan suatu kesenian tapi bagaimana mencintai budaya daerahnya sendiri. Begitupula dengan pelajaran sejarah, yang lebih penting adalah bagaimana sebuah sejarah dapat mempengaruhi masa depan sebuah negara dan bagaimana kita dapat menghargai para pelaku sejarah. Bahkan beberapa sekolah yang memiliki pelajaran PLH (pendidikan Lingkungan Hidup) seharusnya juga tidak melupakan aspek afektif. Bukan bagaimana cara mengolah kertas daur ulang yang penting, tapi menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan tempat tinggalnya.

Sayangnya pentingnya aspek ini seringkali tidak terpenuhi oleh Kurikulum di Sekolah, misalnya saja pada Kurikulum Sejarah SMA berikut:

bagi teman-teman yang belum tahu Kompetensi Dasar (KD) adalah Kompetensi atau Keterampilan atau Pengetahuan yang harus dipahami dari suatu pelajaran. Setiap Pelajaran Terdiri dari beberapa KD

Saya hanya akan menuliskan sebagian kecil saja.

Mata Pelajaran : Sejarah

Kelas : XII

Standar Kompetensi:

1. Menganalisis perjuangan bangsa Indonesia sejak proklamasi hingga lahirnya Orde Baru

Kompetensi Dasar

1.1 Menganalisis peristiwa sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 dan pembentukan  pemerintahan Indonesia

1.2  Menganalisis perkembangan ekonomi- keuangan dan politik pada masa awal kemerdekaan sampai tahun 1950

1.3  Menganalisis perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dari ancaman disintegrasi bangsa terutama dalam bentuk pergolakan  dan pemberontakan

dst.

Dari ketiga KD di atas semuanya hanya berkutat di aspek Kognitif. Yang lebih menyedihkan bahkan pada indikator (pencapaian) pun tidak ada satu pun satu kata kunci indikator yang mengarah pada aspek Afektif. Apakah menganalisa sebuah kejadian sejarah lebih penting  dibanding mengapresiaasi sejarah? Silakan anda sendiri yanng menjawab.

Kekurangan ini mungkin sedang diatasi pemerintah dengan menambahkan Pendidikan Karakter Bangsa pada kurikulum sekolah. Tapi apakah ini bisa menajdi jalan kekuar? Saya rasa tidak, karena pembelajaran di sekolah akan kurang efektif. Waktu pembelajaran yang singkat di sekolah adalah salah satu penghambatnya. Salah satu jalan keluar adalah menyerahkan pendidikan afektif ini pada Komunitas Belajar.Begitu banyak komunitas belajar yang menawarkan  begitu banyak bidang, sejarah, lingkungan hidup,sosial dan lainnya.Tinggal bagaimana keinginan kita untuk Belajar

Erik Pratama
Seorang Guru yang belum lama menggeluti profesinya
Pegiat Aleut

dalamkurungbandung:

Komunitas Aleut! merupakan sebuah wadah belajar bersama melalui apresiasi sejarah dan wisata. Komunitas Aleut bersifat independen dan non profit secara uang. Penggiatnya terutama adalah generasi muda serta masyarakat umum yang mempunyai minat dan kepedulian terhadap sejarah dan budaya, terutama dalam lingkup Kota Bandung dan sekitarnya.

anggrainilestari:

Sejak obrolan random setaun lalu dengan dua teman saya yang menyentil kesadaran tentang banyaknya perubahan wajah kota Bandung (read my post Bandoengkoe), saya jadi punya hobi baru luntang-lantung jalan kaki sendirian, bagaikan syahrini tanpa mas anang, menyusuri sudut2 kota Bandung. Berjalan kaki untuk sekedar meresapi dan menikmati suasana (semerawut) Bandung hari ini. Bernostalgia dengan memori kenyamanan Bandung masa lalu. Bermain dengan imaji khayal masa depan, membayangkan akan seperti apa tempat yang saya lewati hari ini 20 tahun mendatang.

Tapi sepertinya mulai sekarang saya ngga perlu lagi jalan kaki sendirian. Karena apa?

Karena Briptu Norman sudah mengundurkan diri dari kepolisian..:p

Oke bukan.. Tapi karena sekarang saya sudah bergabung dengan komunitas yang hobinya mapay jalan abring2an menyusuri tempat2 yang menyimpan banyak cerita tentang Kota Bandung. Yes, Komunitas Aleut!

Ngaleut pertama saya adalah hari minggu lalu saat episode Dayeuh Kolot 2. Kami menyusuri jejak2 peninggalan kejayaan teknologi komunikasi radio pada zaman penjajahan.  Menurut cerita Bang Ridwan, sekitar tahun 1920an kolonial belanda mulai membangun menara2 dan stasiun radio untuk saling berkomunikasi dengan  pasukan militer yang ada di daerah lain. Bahkan mereka membangun jaringan komunikasi radio untuk menghubungkan Indonesia dengan Belanda sehingga mereka dapat menerima perintah langsung dari Ratu Belanda.

Zaman kejayaan teknologi radio tersebut diabadikan dengan membangun sebuah monumen setengah bola dunia dengan dua orang (bugil) yang bersebrangan, satunya sedang berbicara dan satunya mendengarkan. Monumen tersebut dulu di simpan di sekitar mesjid istiqamah, tapi sayangnya kemudian dihancurkan, karena takut orang2 nafsu ngeliat patung bugilnya.. heu.. ngga deng..

Saya juga tidak tau persis kenapa di hancurkan, tapi menurut Bang Ridwan kemungkinan memang karena pertimbangan norma kesopanan.

Ketika Jepang datang untuk menduduki Indonesia, Jepang menguasai stasiun radio untuk memutus jaringan komunikasi militer Belanda. Jepang sangat mengetahui pentingya radio untuk kebutuhan komunikasi militer, oleh karena itu mereka tidak memakai gedung2 sebagai tempat stasiun radio, melainkan menggunakan gua2 agar komunikasi radio tidak mudah diputus lawan.

Di Bandung sendiri menara radio pertama di bangun di dataran tinggi puntang dan halimun sehingga jaringan gelombangnya melewati daerah cekungan yang ada di antara kedua gunung tersebut. Kemudian menara2 dan stasiun radio lainnya mulai di bangun di beberapa daerah. Salah satunya di dayeuh kolot yang saat ini menjadi kawasan kampus ITT Telkom. Di dalam kawasan kampus masih ada sisa 2 menara radio yang masih berdiri (sekarang digunakan oleh provider GSM). Plakat menara menunjukkan bahwa menara tersebut di bangun pada tahun 1934. Dulu, semua tempat yang dibangun menara dan stasiun radio, daerah disekitarnya disebut sebagai kampung radio. Termasuk daerah Palasari yang ada di dayeuh kolot ini.

Tidak jauh dari kawasan kampus, terdapat gedung yang dulu digunakan sebagai stasiun radio (sekarang digunakan oleh PT Telkom). Dengan izin pak satpam yang baik hati kami dibolehkan untuk masuk melihat-lihat gudang tua dan naik ke atap gedung untuk melihat menara pengawas. Menurut cerita pak agus (satpam yang baik hati), sejak pertama gedung ini di bangun tidak banyak perubahan pada bentuk bangunan. Bahkan kayu pada atap menara pengawas belum pernah diganti sejak pertama dibangun.


Disaat teman2 lain mengililingi atap gedung, saya berbincang-bincang dengan pak agus. Membicarakan sedikit sejarah stasiun radio ini. Menurut pak agus, dulu stasiun radio ini bernama stasiun Palapa. Nah sebenarnya ini masih harus di konfirmasi lagi kebenaran nama stasiun radio ini. Karena ada perbedaan informasi yang saya dapat dari penggiat aleut lain yang mengatakan bahwa stasiun radio ini dulu bernama stasiun Palasari. Di dalam gedung tersebut ternyata masih ada ruangan tempat menyimpan perangkat2 radio tua, juga terdapat foto-foto ketika stasiun radio masih aktif. Daaann tidak disangka-sangka saat temen2 lain lagi muterin atap gedung, saya diajak pak agus untuk melihat-lihat ruangan tempat perangkat radio tua.

Ruangan perangkat radio tersebut gelap dan dingin. Nyaris tidak pernah terjamah manusia (Ha! berlebihan). Dengan pintu besi dan dinding yang dilapisi besi, alat-alat yang sudah rusak dan terbengkalai, serta cahaya senter yang diarahkan ke wajah pak agus, cukup bikin suasana serem ajah (heu..ampun pak). Sebenarnya pak agus mau memperlihatkan foto-foto jaman dulu ketika stasiun radio masih aktif (Ya ampun pak baek bener). Tapi sayangnya foto2 tersebut ada di dalam lemari dan pak agus harus mendapat izin terlebih dulu untuk membuka lemarinya. Tapi saya sudah cukup merasa beruntung karena bisa melihat ruangan tempat sisa2 perangkat radio. Jejak sisa2 kejayaan teknologi radio di masa lalu. Tempat yang Bang Ridwan bilang, mungkin 5 tahun kedepan sudah hilang tergusur zaman..

To be continued

anggrainilestari:

Saya: “Marhaen tu siapa sih?”

Temen: (dengan gaya meyakinkan) “Gurunya Soekarno. Pernah denger partai PNI Marhaenis kan?”

Saya: “Ohh I see..”

Setelah selesai melihat2 stasiun radio, kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat selanjutnya. Katanya kami akan diajak melihat makam Pak Marhaen. Dengan modal pernah denger nama PNI Marhaenis ditambah pengetahuan sesat  kalau Pak Marhaen adalah gurunya Soekarno, saya dengan setia mengikuti perjalanan panjaaaaang berliku2 menyusuri galengan sawah menuju makam Pak Marhaen.

Sesampainya di makam Pak Marhaen, akhirnya saya mendapat pencerahan mengenai siapa sosok Marhaen sebenarnya dari cerita kang indra.

Alkisah Soekarno muda sedang berjalan-jalan di Kawasan Bandung Selatan, menyusuri galengan sawah yang tadi kami lewati (heu.. ngarang). Kemudian Soekarno bertemu dengan seorang petani yang sedang bekerja di sawah. Nama petani tersebut adalah Pak Marhaen. Sawah yang digarap Pak Marhaen adalah milik Pak Marhaen sendiri. Beliau bukanlah seorang buruh tani yang bekerja untuk sawah orang lain. Tetapi walaupun begitu, kehidupan Pak Marhaen tetap sulit karena hasil sawahnya hanya cukup untuk makan keluarga sehari2. Melihat mayoritas kondisi sosial masyarakat Indonesia yang hidupnya sulit, terkangkangi (bahasanya kang indra) oleh masyarakat kelas borjuis, mendorong Soekarno untuk membuat gerakan perjuangan untuk membebaskan penderitaan masyarakat kelas bawah. Paham gerakannya dinamakan Marhaenisme, karena terinspirasi oleh Pak Marhaen sebagai simbol penderitaan rakyat kecil.

Wait!

Kelas masyarakat? Penderitaan kelas bawah? Perjuangan pembebasan?

Itu sih Marxisme

Br%$#x@*&^%$#@#$%^&%^$#zz Marxisme!” tiba2 terdengar suara kang Indra menyebut kata Marxisme

Nah kan bener ada hubungannya..

Karl Marx yang seorang filosof, ahli sejarah, ahli sosiologi, ahli ekonomi, sepertinya sangat mempengaruhi faham yang dianut Soekarno. Pemikiran2 Marx yang praktis (dan politis) diterapkan Soekarno di Indonesia dalam bentuk gerakan Marhaenis. Ngga heran sih sebenernya. Karena kondisi penderitaan kelas pekerja (proletar) pada zaman Marx masih sangat terasa juga pada masa penjajahan di Indonesia. Bahkan kalau dipikir2 kondisi penderitaan masyarakat kecil dari setiap zaman komplit ada di Indonesia. Markicek (Mari kita cek)!

  1.  Penderitaan para budak oleh warga bebas khas zaman perbudakan kuno? Ada!
  2. Penderitaan para hamba pengolah tanah oleh kesewenangan tuan tanah pada masyarakat feodal abad pertengahan? Ada!
  3. Penderitaan warga negara biasa oleh kaum bangsawan/pemerintah? Ada!
  4. Penderitaan kaum proletar (pekerja) oleh para pemilik sarana produksi (pemodal) pada masyarakat kapitalis? Ada!
  5. Penderitaan masyarakat yang hidup sulit walaupun mereka memiliki sarana produksi sendiri? Ada, seperti Pak Marhaen. Dan ini yg paling ironi memang.

Astagfirullah, penderitaan yang sangat lengkap sekali.. *ngurut dada sampai kaki*

Bisa jadi yang membedakan Marxisme dengan Marhaenisme adalah bahwa Karl Marx membuat faham Marxisme sebagai gerakan pembebasan penderitaan kelas masyarakat No 4, sedangkan Marhaenisme adalah gerakan pembebasan penderitaan kelas masyarakat No 1,2,3,4,5.  Artinya seluruh masyarakat yang merasa menderita oleh sistem yang diterapkan kelas masyarakat yang lebih berkuasa.

Kalau dihubung2kan, sepertinya Karl Marx yang lambat laun menggaungkan sistem komunis, sedikit banyak mempengaruhi praktek gerakan2 di Indonesia, terutama Soekarno. Melalui tulisannya, Comunist Manivesto, Marx mengusung ide bahwa jalan pembebasan penderitaan kaum proletar hanya bisa dilakukan melalui jalan R-E-V-O-L-U-S-I. Menyatukan seluruh kekuatan masyarakat yang menderita dan  membuat kelompok penguasa gemetar. Aah, bisa jadi Comunist Manivesto-nya Marx kalau di Indonesia adalah Indonesia Menggugat-nya Soekarno . (Haa ngaco..  oke abaikan. Ini cuma skeptis pribadi :p)

Skip ttg Marxisme. Kembali kepada Marhaenisme. Ketika diskusi sempat ada pertanyaan mengenai nama Marhaen yang terdengar kurang lazim untuk nama orang Indonesia apalagi orang sunda. Marhaen.. Berasa nama penyanyi.. Insya Allah~~  Insya Allah~~

Lanjut!

Menurut kang indra, justru Soekarno mengatakan bahwa pada saat itu nama Marhaen banyak digunakan oleh masyarakat sekitar sini. Nah dari nama yang tidak lazim itu pertanyaan menjadi meluas. Benarkah pertemuan soekarno dengan petani bernama Marhaen benar2 terjadi? Seandainya Soekarno bertemu dengan petani bernama Pak Ujang (ini nama yg lebih lazim kayanya) apakah fahamnya akan dinamakan Ujangnisme?

Rasanya untuk Soekarno yang sangat mengedepankan sebuah citra tidak akan menamakan fahamnya Ujangnisme. Boleh jadi Soekarno sebenarnya sudah merencanakan memberi nama Marhaenisme untuk fahamnya (ngga kalah keren kan dengan nama Marxisme). Tapi Soekarno perlu membuat cerita filosofis dan simbolis yang kuat dari nama Marhaenisme tersebut. Maka dibuatlah Alkisah pertemuan Soekarno dengan Pak Marhaen (kalau yang ini udah jadi skeptis rame2 dari dulu, jadi boleh tidak diabaikan..:p)

Hari ini, jauh setelah Indonesia terbebas dari penjajahan kolonialisme, apakah ditandai juga dengan terbebasnya seluruh masyarakat kelas bawah dari penderitaan kelas masyarakat yang lebih berkuasa? Apakabar faham Marhaenisme hari ini? Apakah sudah mati?

Belum (sepertinya)

Selama mata kita masih melihat ada kelas masyarakat yang masih terbelenggu dalam rantai penderitaan, maka gerakan2 pembebasan akan tetap menggeliat. Marhaenisme masih menggaung dalam forum2 masyarakat, bisa dilihat dalam salah satu situs http://marhaenisme.com/ . Semangat Marhaenisme pun masih dianut oleh puteri Soekarno yang mengusung salah satu Partai dengan kredo “Partainya Wong Cilik”. Tapi apakah faham tersebut benar2 dijiwai dalam praktek2 pembebasan penderitaan Wong Cilik atau hanya sebatas dijadikan kredo untuk menarik simpati rakyat?

No comment ah..

Ini adalah video perjalanan Komunitas Aleut! ketika ngaleut Gedung Pakuan - Cicendo - H.Mesri. Bisa dilihat sekilas bagaimana Komunitas Aleut berkegiatan dan mengapresiasi berbagai hal yang ditemukan.

Untuk melihat video perjalanan Komunitas Aleut lainnya bisa dilihat di http://www.youtube.com/results?search_query=Komunitas+Aleut&aq=f

Belum ke Bandung kalo belum Ngaleut!