Suasana Labotarium Ilmu Alam “Bosschalabotarium” di THS (ITB) tahun 20’an.
Beberapa hari yang lalu saya bersama Komunitas Aleut berkesempatan melakukan jelajah sejarah Kampus ITB. Walaupun perjalanannya cukup singkat, namun di akhir sempat terjadi diskusi yang sangat menarik mengenai perkembangan ITB dilihat dari sudut pandang masing2 peserta ngaleut…
Ada Mira Rachmawatie yang mengisahkan pengalamannya sewaktu kecil bermain bersama om-om dari ITB, Bu Wiwit Ratna Djuwita yang mengadu asmara di ITB, kegelisahan Catra Prathama menyikapi kebijakan kampus yang mengurangi peran sosial mahasiswa, hingga masalah banyaknya lulusan ITB yang bekerja untuk perusahaan asing.
Isu terakhir mengingatkan suatu kisah yang dialami seorang mahasiswa pribumi THS (sekarang ITB) pada 1 minggu terakhir sebelum ia diwisuda tahun 1926. Saat itu ia bertanya kepada sang Rektor THS, Professor Ir. G. Klopper M.E. :
“Mengapa kami diisi dengan pengetahuan-pengetahuan yang hanya berguna untuk mengekalkan dominasi Kolonial terhadap kami ?”, tanyanya.
“Sekolah tinggi teknik ini”, ujar Klopper. “Didirikan terutama untuk memajukan politik Den Haag di Hindia. Supaya dapat mengikuti kecepatan ekspansi dan eksploitasi, pemerintah saya merasa perlu untuk mendidik lebih banyak insinyur dan pengawas yang berpengalaman.”
“Dengan kata lain, kami mengikuti perguruan tinggi ini untuk memperkekal politik Imperialisme Belanda di sini?”, tegas Sang Pemuda.
“Ya Tuan, itu benar..”, sang Professor menjawab…
…
Sang Pemuda tersebut tidak lain adalah Soekarno. Pada akhirnya ia berhasil membuktikan bahwa walaupun dididik dalam kampus yang didirikan dengan tujuan memperkekal politik Imperialisme Belanda di Indonesia, dengan idealismenya ia bisa menjadi orang yang menghancurkan Imperialisme Belanda itu sendiri…
Adapun Soekarno selalu mengenang ucapan Rektornya, Professor Klooper, ketika ia diwisuda. “Ir, Soekarno, ijazah ini dapat robek dan hancur menjadi abu di satu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah bahwa satu-satunya kekuatan yang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. ia akan tetap hidup dalam hati rakyat, sekalipun sesudah mati.”
Source :
M.Ryzki Wiryawan Wall Photo