Posts tagged "ngAleut! foto"

Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda.

Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang.

Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini. Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928.

(source : wikipedia)

Ereveld Pandu ; Taman Makan Kehormatan Belanda di Bandung.

Di pemakaman Pandu dimakamkan 4000 jasad para tentara KNIL pada jaman Belanda dulu, yang gugur dalam pertempuran melawan Jepang yang juga menewaskan lebih dari 4000 penduduk sipil Bandung.

Di pemakaman ini didirikan juga monument peringatan yang memakai nama setempat. Di sekitar monument terdapat plat dengan nama-nama mereka yang gugur di perbatasan Ciater, Subang, lini pertahanan terakhir Belanda.

Konon pemakaman ini merupakan salah satu teritori Belanda yang masih ada di Indonesia, tidak semua orang bisa masuk ke wilayah tersebut, harus dengan seizin dari organisasi yang mengurus pemakaman ini. Di Bandung sendiri ada 2 buah Ereveld yaitu di Leuwi Gajah dan di Jl. Pandu.

ZORG, DAT ALS IK TERUG KOM HIER EEN STAD IS GEBOUWD ; coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota. -H.W Daendels 1810-

Gubernur Jendral Belanda mengucapkan kalimat tersebut sambil menancapkan tongkatnya di titik yang sekarang dikenal sebagai Bandung nol kilometer.

Kala itu, gedung bernama Swarha Islamic ini digunakan sebagai tempat penginapan bagi para tamu negara khususnya para jurnalis yang menghadiri KAA 1955. 

Di Jalan Braga no. 3 pada tahun 1915 dibangun toko Au Bon Marché. Istillah bon marché dalam Bahasa Perancis merupakan istilah menarik yang beraneka arti. Bahasa Indonesianya “Pasar Benar”, “Pasar Baik”, “Murah” atau “Untung”. Selain itu, nama toko ini ada konotasi keren karena berbahasa Perancis, yaitu negeri yang pada waktu itu sudah merupakan pusat dari dunia mode. Nama toko Au Bon Marché mengacu ke toko ternama Le Bon Marché di Paris yang didirikan pada tahun 1852. Toko di Paris tersebut yang dianggap sebagai toko serba ada yang pertama di dunia ini.

Bangunan ini dulunya adalah Toko buku Van Dorp, bangunan Van dorp dirancang oleh Wolff Schoemaker pada tahun 1922. Ornamen bangunan khas gaya Indo-europeeschen architecturrstijl. Terdapat ornament kepala Kala di kana kiri bagian depan gedung. Toko buku ini memiliki network di Batavia, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Tahun 1940, van Dorp menerbitkan buku Indische Tuinbloemen berisikan kolom lukisan, dimana siapapun yang melengkapi koleksi lukisan bunga album tersebut mendapatkan jenis bibit tanaman sesuai lukisan yang didapat. Tahun 1970, bangunan ini digunakan sebagai gedung Bioskop Pop theatre. Tahun 1980an, gedung ini difungksikan sebagai ruang pameran Landmark Convention Centre. Lapangan luas di seberang van Dorp dulunya berdiri belasan kios bunga.

Kawan2 Aleut! minggu 5 Desember 2010, kita ngaleut jalur singkat lagi yuk!

kali ini jalurnya adalah jalur Toko Buku Jaman Dulu, kita lihat dan cari tahu bagaimana dulu buku diperjual belikan, apakah masih sama dengan sekarang?

Kita start di gedung Bank Indonesia Braga (yg bangunan lama) jam 8.00

konfirmasi ke 085720104828

Makam Dr.Hasan Sadikin di Komplek pemakamam Bupati Bandung - Karang Anyar. Beliau merupakan keturunan dari Wiranata Kusumah III melalui ibunya, sehingga beliau berhak dimakamkan di kompleks pemakaman Bupati-bupati Bandung. Beliau adalah kakak dari Ali Sadikin mantan Gubernur Jakarta yang sangat terkenal itu.

Sumber : Kuncen Makam

Bekas aliran sungai Citarum purba, tak jauh dari PLTA Saguling

Inilah salah satu The hidden treasure of Citarum, bayangkan bila citarum bisa kita jaga kebersihannya, mungkin akan ada banyak tempat seperti ini yang bisa kita nikmati.

Foto : Koleksi pribadi Nia Janiar, pegiat Komunitas Aleut!

Hiap Thian Kiong, Xie Tian Gong, 協天宫 (1885) Bandung, Awal dibangun disebut Sheng Di Miao 聖帝廟 menurut prasati yang terdapat didinding; dibangun tahun 1885.

Klenteng ini terutama ditujukan untukmenghormat i Guan Yu (關 羽 ) seorang tokoh sejarah yang diceritakan dalam kisah Tiga Kerajaan; Sam Kok.

Sumber : Artikel Klenteng Hiap Thian Kiong, Xie Tian Gong, 協天宫 (1885) Bandung. Written by Sugiri Kustedja

Foto by Yandi Dephol, pegiat Komunitas Aleut!

Terowongan Lampegan adalah terowongan kereta api tertua di Indonesia. Terowongan ini dibangun untuk mendukung jalur kereta api rute Bogor - Sukabumi - Cianjur. Dibangun oleh perusahaan kereta api SS (Staats Spoorwegen) pada periode 1879 - 1882.

source :

Foto koleksi pribadi

http://indonesianheritagerailway.com/index.php?option=com_content&view=article&id=175&Itemid=188&lang=id

http://rgalung.wordpress.com/2011/02/22/lampegan/lampegan/

Gunung Padang. Situs ini diperkirakan dibangun sekitar 1500 SM. Situs ini dibangun mengarah ke Gunung Gede, diperkirakan dibangun untuk tujuan religiositas berupa penyembahan Sang Hyang atau sang penguasa alam saat itu yang oleh manusia pada masa itu diyakini bermukim di puncak Gunung Gede. Batu-batu yang berada di situs ini merupakan batuan yang terbentuk secara alami yang disusun oleh manusia-manusia pada zaman itu. 

Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, “Buletin Dinas Kepurbakalaan”) tahun 1914. Namun jauh sebelum itu keberadaan situs Gunung Padang telah terdapat pula pada catatan perjalanan seorang bangsawan sunda Bujangga Manik pada abad ke-15, laporannya ditulis dalam bentuk sajak, ditulis di atas daun palem dan kini tersimpan di Museum Bodleian, Oxford, Inggris. 

source :

Foto koleksi pribadi

http://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Gunung_Padang

Tulisan “Gunung Padang Posisi Harmoni Bumi dan Langit” oleh Awang H Satyana

Makam Juragan Hoofd. Nama yang tertulis di nisan sebenarnya adalah Hadiwinata wafat 2-11-1947, namun penduduk sekitar Gunung Padang lebih mengenalnya sebagai Tuan Hoofd atau Juragan Hoofd. Sebutan tersebut kemungkinan berasal dari kosa kata Belanda Hoofd yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti kepala. Hal ini kemungkinan dikarenakan Hadiwinata merupakan Kepala Perkebunan teh yang berada di area sekitar Gunung Padang yang memang telah ada sejak jaman kolonial Belanda. Di sekitar makam Juragan Hoofd juga terdapat beberapa makam lain yang waktu pemakamannya diperkirakan hampir bersamaan dengan Juragan Hoofd, areal makam ini berlokasi tak jauh dari kompleks situs Gunung Padang.

Source :

Foto koleksi pribadi

Penjelasan dari Bapak Nanang juru pelihara Gunung Padang


"Ayi dan Om Kodok"
Me and Ali at Gunung Padang, Cianjur 11-03-2012
Foto by Yandi Dephol

"Ayi dan Om Kodok"

Me and Ali at Gunung Padang, Cianjur 11-03-2012

Foto by Yandi Dephol

Suasana Labotarium Ilmu Alam “Bosschalabotarium” di THS (ITB) tahun 20’an.

Beberapa hari yang lalu saya bersama Komunitas Aleut berkesempatan melakukan jelajah sejarah Kampus ITB. Walaupun perjalanannya cukup singkat, namun di akhir sempat terjadi diskusi yang sangat menarik mengenai perkembangan ITB dilihat dari sudut pandang masing2 peserta ngaleut…

Ada Mira Rachmawatie yang mengisahkan pengalamannya sewaktu kecil bermain bersama om-om dari ITB, Bu Wiwit Ratna Djuwita yang mengadu asmara di ITB, kegelisahan Catra Prathama menyikapi kebijakan kampus yang mengurangi peran sosial mahasiswa, hingga masalah banyaknya lulusan ITB yang bekerja untuk perusahaan asing.

Isu terakhir mengingatkan suatu kisah yang dialami seorang mahasiswa pribumi THS (sekarang ITB) pada 1 minggu terakhir sebelum ia diwisuda tahun 1926. Saat itu ia bertanya kepada sang Rektor THS, Professor Ir. G. Klopper M.E. :

“Mengapa kami diisi dengan pengetahuan-pengetahuan yang hanya berguna untuk mengekalkan dominasi Kolonial terhadap kami ?”, tanyanya.

“Sekolah tinggi teknik ini”, ujar Klopper. “Didirikan terutama untuk memajukan politik Den Haag di Hindia. Supaya dapat mengikuti kecepatan ekspansi dan eksploitasi, pemerintah saya merasa perlu untuk mendidik lebih banyak insinyur dan pengawas yang berpengalaman.”

“Dengan kata lain, kami mengikuti perguruan tinggi ini untuk memperkekal politik Imperialisme Belanda di sini?”, tegas Sang Pemuda.

“Ya Tuan, itu benar..”, sang Professor menjawab…



Sang Pemuda tersebut tidak lain adalah Soekarno. Pada akhirnya ia berhasil membuktikan bahwa walaupun dididik dalam kampus yang didirikan dengan tujuan memperkekal politik Imperialisme Belanda di Indonesia, dengan idealismenya ia bisa menjadi orang yang menghancurkan Imperialisme Belanda itu sendiri…

Adapun Soekarno selalu mengenang ucapan Rektornya, Professor Klooper, ketika ia diwisuda. “Ir, Soekarno, ijazah ini dapat robek dan hancur menjadi abu di satu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah bahwa satu-satunya kekuatan yang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. ia akan tetap hidup dalam hati rakyat, sekalipun sesudah mati.”

Source :

M.Ryzki Wiryawan Wall Photo