"Selalu ada yang baru setiap kali NgAleut!"

Itulah yang saya alami setiap kali mengikuti kegiatan Komunitas Aleut!, begitu pula dengan ngaleut kedua Komunitas Aleut dan Ngaleut Pertama buat saya di tahun 2011 ini tepatnya pada hari minggu, 9 Januari 2011. Kali ini Komunitas Aleut! mendatangi kawasan Jatinangor untuk berkunjung ke Arboretum yang terletak di kampus UNPAD Jatinangor. Tidak seperti sebelumnya ketika berkunjung ke Jatinagor, kali ini  kami menempuhnya dengan menggunakan kereta dan ini merupakan pengalaman saya naik KRD.

Stasiun Bandung menjadi tempat berkumpul kami, karena dari sinilah kami akan naik KRD baraya Geulis ke Jatinangor.

Stasiun Bandung atau Stasiun Hall (kode: BD), adalah stasiun utama kereta api di Kota Bandung. Stasiun berketinggian +709 m dpl menjadi batas antara Kelurahan Pasirkaliki dan Kebonjeruk. Stasiun Hall sebelumnya hanya memiliki satu buah stasiun, setelah ada renovasi oleh pemerintah Kota Bandung maka Stasiun Hall sekarang terbagi menjadi dua bagian walaupun tetap bersatu.

Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984) karangan Haryoto Kunto, ide awal pembangunan Stasiun Bandung berkaitan dengan pembukaan perkebunan di Bandung sekitar tauh 1870. Stasiun ini diresmikan pada 17 Mei 1884, ketika masa pemerintahan Bupati Koesoemadilaga dan pada waktu yang sama juga dibuka jalur kereta Batavia-Bandung melalui Bogor dan Cianjur. Di masa itu, para tuan tanah perkebunan (Preangerplanters) menggunakan jalur kereta api untuk mengirimkan hasil perkebunannya ke Batavia dengan lebih cepat. Untuk menampung dan menyimpan hasil perkebunan yang akan diangkut dengan kereta, dibangunlah gudang-gudang penimbunan barang di beberapa lokasi dekat Stasiun Bandung, yaitu Jalan Cibangkong, Jalan Cikuda-Pateuh, daerah Kosambi, Kiaracondong, Braga, Pasirkaliki, Ciroyom, dan Andir. Sesaat setelah peresmian jalur Bandung-Surabaya (1 November 1894), para pemiliki pabrik dan perkebunan gula dari Jawa Tengah dan Jawa Timur (Suikerplanters) menyewa gerbong kereta menuju Bandung untuk mengikuti Kongres Pengusaha Perkebunan Gula yang pertama. Kongres tersebut merupakan hasil pertemuan Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula (Bestuur van de Vereniging van Suikerplanters) di Surabaya tahun 1896.

Pada tahun 1909, arsitek FJA Cousin memperluas bangunan lama Stasiun Bandung, salah satunya ditandai dengan hiasan kaca patri pada peron bagian selatan yang bergaya Art Deco. Tahun 1918, stasiun ini menghubungkan Bandung-Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali, kemudian setahun kemudian dibangun lintas Bandung-Citeureup-Majalaya dan pada jalur yang sama dibangun jalur Citeureup-Banjaran-Pengalengan (1921). Untuk jalur ke perkebunan teh, pada tahun 1918, dibangun jalur Bandung ke Kopo dan kemudian ke Ciwidey (Maret 1921).

Pada saat peresmian Stasiun Bandung, surat kabar Belanda saat itu, Javabode, menuliskan bahwa masyarakat sekitar merayakannya selama 2 hari berturut-turut. Dulunya, kereta api merupakan sarana transportasi hasil produksi perkebunan Bandung, seperti kina, teh, kopi, dan karet, sehingga pertumbuhan ekonomi di kota tersebut berkembang pesat. Hal ini menyebabkan stasiun ini mendapat penghargaan dari pemerintah kota berupa monumen yang berada tepat di depan stasiun, yaitu di peron selatan (Jalan Stasiun Selatan). Saat itu, tugu tersebut diterangi oleh 1.000 lentera rancangan Ir EH De Roo. Monumen tersebut telah digantikan oleh monumen replika lokomotif uap seri TC 1008. Pada tahun 1990, dibangun peron utara yang akhirnya dijadikan bagian depan stasiun di Jalan Kebon Kawung.

Setelah menunggu beberapa lama untuk menunggu teman-teman Aleut yang terlambat datang maka sekitar pukul 08.00 kami memutuskan untuk segera membeli tiket kereta karena Jadwal keberangkatan kereta selanjutnya adalah pukul 08.30. Harga tiket KRD Bumi Geulis (Kelas PATAS) adalah Rp.5000 dengan jurusan Stasiun Bandung - Cicalengka, tapi kami hanya akan menempuh perjalanan sampai dengan stasiun Rancaekek karena stasiun itulah yang paling dekat dengan tujuan kami Jatinangor. Sekitar pukul 08.30 kereta pun memulai perjalanan dengan teman-teman Aleut yang ceria menumpang didalamnya.

Tiket Tanpa tempat Duduk menuju Rancaekek

kereta Baraya Geulis

suasana di dalam kereta

Sekitar pukul 09.00 kita tiba di Stasiun Rancaekek, perjalan tersebut hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, jauh lebih cepat dibandingkan kita menggunakan DAMRI. Dari Rancaekek kita melanjutkan perjalanan menuju Cikeruh dengan menggunakan angkot.

suasana di dalam angkot

Setelah menmpuh perjalanan yang tidak terlalu lama dengan angkot akhirnya kita tiba di kawasan sungai cikeruh yang berada di kawasan sekitar Jatinangor. Di kawasan sungai ini kita menelusuri saluran irigasi yang telah lama di gunakan para petani untuk mengairi sawahnya, sangat senang rasanya menikmati keindahan hamparan sawah dan aliran sungai yang walaupun keruh sesuai dengan namanya Cikeruh.

perjalanan menelusuri sungai Cikeruh

Jatinangor sendiri adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Nama Jatinangor sebagai nama kecamatan baru dipakai sejak tahun 2000-an. Sebelumnya, kecamatan ini bernama Cikeruh. Nama Jatinangor sendiri adalah nama blok perkebunan di kaki Gunung Manglayang yang kemudian dijadikan kompleks kampus sejumlah perguruan tinggi di sana.

Dari Topografische Kaart Blaad L.XXV tahun 1908 dan Blaad H.XXV tahun 1909 yang diterbitkan oleh Topografische Dienst van Nederlands Oost Indie, telah dijumpai nama Jatinangor di tempat yang sekarang juga bernama Jatinangor. Ketika itu, daerah Jatinangor termasuk ke dalam Afdeeling Soemedang, District Tandjoengsari. Nama Cikeruh sendiri diambil dari sungai (Ci Keruh) yang melintasi kecamatan tersebut.

Pada Peta Rupabumi Digital Indonesia No. 1209-301 Edisi I tahun 2001 Lembar Cicalengka yang diterbitkan oleh BAKOSURTANAL masih dijumpai nama Kecamatan Cikeruh untuk daerah yang saat ini dikenal sebagai Kecamatan Jatinangor. Pada beberapa dokumen resmi dan setengah resmi saat ini, masih digunakan nama Kecamatan Cikeruh. Kecamatan ini terletak pada koordinat 107o 45’ 8,5” – 107o 48’ 11,0” BT dan 6o 53’ 43,3” – 6o 57’ 41,0” LS. Kode Pos untuk kecamatan ini adalah 45363.

Setelah menelusuri kawasan sungai cikeruh kami melanjutkan perjalanan menuju kampus UNPAD melalui jalan pesawahan yang pada akhirnya tembus ke jalan raya Jatinangor, kami melalui jalan cikuda yang kemudian menuju jembatan cincin atau jembatan cikuda yang terletak di samping kampus UNPAD.

jembatan cikuda atau jembatan cincin

Jembatan di Cikuda – yang sering disebut sebagai Jembatan Cincin oleh masyarakat sekitar – pada mulanya dibangun sebagai penunjang lancarnya kegiatan perkebunan karet. Jembatan Cincin dibangun oleh perusahaan kereta api Belanda yang bernama Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf pada tahun 1918. Jembatan ini berguna untuk membawa hasil perkebunan; dan pada masanya, jembatan ini menjadi salah satu roda penggerak perkebunan karet terbesar di Jawa Barat.

Setelah dari jembatan cikuda kami bergegas menuju kampus UNPAD dimana Arboretum berada yang merupakan tujuan utma ngaleut kita kali ini. Menurut informasi yang saya dapat, di lokasi kampus UNPAD Jatinangor dulunya merupakan sebuah perkampungan yang bernama kampung Kiciat. Kami menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan berjalan kaki untuk sampai di Arboretum karena Arboretum terletak di sisi barat kampus UNPAD sedangkan kami masuk dari sisi timurnya, alhasil hampir semua kawasan kampus kami telusuri. Ketika berjalan di jalan sekitar fakultas pertanian-fakultas peternakan kami melihat dari kejauhan sebuah bangunan yang membuat penasaran pegiat aleut. Ternyata bangunan tersebut adalah menara loji jatinangor.

Menara jam – yang sering disebut Menara Loji oleh masyarakat sekitar – itu dibangun sekira tahun 1800-an. Menara tersebut pada mulanya berfungsi sebagai sirene yang berbunyi pada waktu-waktu tertentu sebagai penanda kegiatan yang berlangsung di perkebunan karet milik Baron Baud. Bangunan bergaya neo-gothic ini dulunya berbunyi tiga kali dalam sehari. Pertama, pukul 05.00 sebagai penanda untuk mulai menyadap karet; pukul 10.00 sebagai penanda untuk mengumpulkan mangkok-mangkok getah karet; dan terakhir pukul 14.00 sebagai penanda berakhirnya kegiatan produksi karet.

Baron Baud adalah seorang pria berkebangsaan Jerman yang menanamkan modal bersama perusahaan swasta milik Belanda dan pada tahun 1841 mendirikan perkebunan karet bernama Cultuur Ondernemingen van Maatschapij Baud yang luas tanahnya mencapai 962 hektar. Perkebunan karet ini membentang dari tanah IPDN hingga Gunung Manglayang.

Sekira tahun 1980-an lonceng Menara Loji dicuri dan hingga kini kasusnya masih belum jelas; baik mengenai pencurinya, apa motifnya, dan bagaimana tindak lanjut dari pihak berwenang. Bahkan Pemerintah Daerah (Pemda) Sumedang – selaku pihak yang seharusnya mengawasi pemeliharaan cagar budaya – pun tidak tahu-menahu mengenai kelanjutan kisah pencurian itu. Saat ini Menara Loji nampak tidak terurus. Menara Loji yang sempat nampak tidak terurus sekarang telah terlihat cantik kembali berkat bantuan PMI yang berkantor didekatnya.

Tak jauh dari tempat melihat menara loji kami akhirnya tiba di bagian belakang Arboretum, kemudian melalui jalan semak-semak kita masuk ke dalam hutan yang ternyata hutan koleksi pohon-pohon langka. setelah berjalan beebrapa saat tibalah kami di sebuah gubuk dengan kolam ikan didepannya yang tampak bersahaja namun sangat menawan, ternyata ini adalah kawasan arboretum yang bertema pedesaan dimana disana terdapat rumah, kolam ikan, hewan ternak dan tumbuhan-tubuhan tertentu, dan disinilah kami semua melepas lelah sambil membuka perbekalan kami.

Jalan menuju arboretum

sebagian kawasan pertanian arboretum

bunga-bunga liar di kawasan arboretum

kolam ikan dengan sepasang angsa di dalamnya

Lalu apa sih arboretum itu?

Dalam bahasa latin, Arboretum berasal dari kata arbor yang berarti pohon, dan retum yang berarti tempat. Sedangkan Arboretum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan.

Istilah Arboretum sendiri pertama kali digunakan oleh John Claudius Loudon pada tahun 1833dalam The Gardener’s Magazine, walaupun sebenarnya sudah ada konsepnya terlebih dahulu.

Sejarah Arboretum

Firaun Mesir menanam pohon eksotis dan merawatnya, mereka membawa kayu ebony dari Sudan, pohon pinus dan cedar dari Suriah. Setelah Ekspedisi Hatshepsut (salah satu Firaun)  ke daerah Punt mereka membawa tiga puluh satu  pohon frankincense hidup, akarnya disimpan dalam keranjang dengan hati-hati selama dalam perjalanan, hal tersebut adalah upaya pertama yang tercatat untuk transplantasi pohon asing.  Pohon-pohon tersebut kemudian ditanam di sekitar lapangan Deir el Bahri yang merupakan kompleks kuil dan pemakaman.

The three temples at Deir el Bahari from the top of the cliff behind them, part of Hatshepsut’s temple on left, Tuthmosis III’s temple in center, and Mentuhotep II’s temple on right

Trsteno Arboretum, Kroasia

Arboretum pertama adalah Trsteno Arboretum , di Dubrovnik, Kroasia . tanggal pendiriannya tidak diketahui tapi telah ada sejak tahun 1492, ketika saluran air sepanjang 15 m (50 kaki) untuk mengairi Arboretum dibangun, saluran air ini masih digunakan. Taman ini diciptakan keluarga Gučetić/Gozze. Taman ini mengalami dua bencana besar pada 1990-an tetapi dua buah Platanus orientalis atau Oriental plane yang unik dan kuno masih tetap berdiri.

Setelah makan siang, kami melanjutkan kegiatan yaitu dengan menyimak penjelasan dari Pak Prihadi dan Pak Joko yang merupakan dosen MIPA UNPAD dan pengurus Arboretum. Beliau menjelaskan banyak hal yang sebelumnya tidak kita ketahui padahal sering kita dengar sehari-hari seperti nama-nama tumbuhan yang kemudian dijadikan nama daerah seperti kosambi, bintaro, gandaria, lame, dan masih banyak lagi. selain itu kami pun dapat melihat tanaman-tanaman yang menjadi ciri daerah-daerah di jawa barat seperti bunga patrakomala yang menjadi bunga khas kota Bandung.

Arboretum ini seluas 12,5 ha, terbagi ke dalam beberapa zona, diantaranya zona tanaman obat, tanaman langka, tanaman jati diri, tanaman bahan bangunan dan zona budidaya.

Manfaat arboretum :

  1. Digunakan sebagai tempat diskusi, praktikum dan penelitian
  2. Tempat pembelajaran mengenai lingkungan dan keanekaan hayati untuk berbagai jenjang pendidikan dan umum.
  3. laboratorium lapangan, arboretum merupakan sumber daya plasma nutfah (bank genetik) yang menyimpan berbagai koleksi jenis tanaman langka khususnya dari daerah jawa barat, tanaman obat-obatan, tanaman pohon produksi dan kolam percobaan, berbagai jenis hewan liar.
  4. Melindungi mata air yang ada di kawasan arboretum
  5. Melestarikan model ekologi pedesaan seperti pekarangan tradisional, rumah baduy, kolam, sawah, kebun dan lain-lain.
  6. Tempat wisata pendidikan dan rekreasi.

bunga patrakomala

katanya buah sosis, tapi awas beracun loh

mahkota dewa

haur kuning

tanaman papyrus

Selain bisa melihat langsung dan mempelajari tumbuhan yang ada di arboretum ini, ternyata disini juga kami mendapatkan banyak pencerahan dari Pak Pri dan Pak Joko tentang betapa besarnya potensi yang dimiliki Indonesia yang sayangnya sebagian masyarakatnya belum tahu atau tidak mau tahu dalam pengelolaanya. Beliau juga mengatakan pada kami bahwa kenapa buah-buah yang unggul selalu berembel-embel “bangkok”, hal ini dikarenakan perilaku masyarakat Thailand yang sangat menghargai semua pemberian alam. Menurut Pak Pri bahwa kearifan lokal masyarakat Thailand itu menganggap di dunia ini tidak ada yang gratis, setelah kita mengambil sesuatu dari alam maka kita harus memberikan sesuatu pula pada alam, misalkan ketika mengambil buah dari pohon maka kita harus memberikan pohon tersebut pupuk sebagai balasannya. dengan demikian maka kelangsungan ekosistem alam akan terjaga dan memberikan kontribusi yang maksimal bagi manusia.

Setelah lelah berjalan menelusuri kawasan arboretum, kami terpaksa mengakhiri kegiatan kami dikarenakan hari yang sudah mulai sore, dan seperti biasa pada akhir kegiatan ngaleut ditutup dengan sharing dari seluruh peserta ngaleut sambil menikmati singkong bakar dan jagung rebus hasil tanam dari arboretum.

Dengan berakhirnya session sharing maka berakhir pula Ngaleut Arboretum pada hari tersebut dan kami pun beranjak pulang karena hari sudah semakin sore.

Ngaleut kali ini benar-benar memberikan banya inspirasi bagi saya khususnya tentang bagaimana kita memperlakukan lingkungan agar mereka tetap bersahabat dengan kita.

mudah-mudahan catatan ini juga dapat menginspirasi kita semua agar lebih bisa menghargai lingkungan.

Belum ke Bandung kalo belum NgAleut!

sumber :

http://en.wikipedia.org/wiki/Arboretum

http://edukasi.kompasiana.com/2010/05/03/arboretum-itu-bukan-sekedar-arboretum/

http://www.biologi.unpad.ac.id/?p=68

http://id.wikipedia.org/wiki/Jatinangor,_Sumedang

http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Hall

http://secretdalmatia.wordpress.com/2010/04/21/arboretum-trsteno-near-dubrovnik-www-tours-in-croatia-com/

Foto dari album koleksi para pegiat Komunitas Aleut!

  1. oenank posted this